February 9, 2026

(Sebuah Satire Romantis tentang Kekuasaan dan Kolonisasi Kemanusiaan)

Oleh: Anna Keiko
Terjemahan: Rizal Tanjung

Dalam kabut Oktober yang penuh debu dan peluru,
kulihat rumah-rumah di Gaza runtuh—
bukan karena badai, bukan karena gempa,
melainkan oleh tangan-tangan
yang tak pernah belajar menyentuh tanpa menghancurkan.

Aku—pelukis mimpi dan penyair luka—
mencoba menggambar rumah dari doa-doa yang tercerai,
mewarnai harapan di atas reruntuhan sunyi
dengan palet darah yang tak pernah mengering.
Namun kanvasku pun kini harus bersujud
di hadapan algoritma dan bom-bom cerdas.

Air mataku bukan air mata cinta,
tapi badai empedu dari pabrik senjata.
Kutulis sajak-sajak dengan murka,
namun larikku diredam harga saham.
Setiap metafora ditumbangkan jumpa pers,
puisi-puisi anti-perang disusutkan jadi tagar viral
sebelum digantikan iklan parfum maskulin.

Kita hidup dalam simfoni sintetis—
di mana akord manusia dibeli oleh modal,
diaransemen mesin,
dan dimainkan robot separuh senyum
dalam distopia yang sudah disunting dengan sopan.

“Semua manusia diciptakan setara,” kata Rousseau,
tapi kini, bahkan bayi butuh kode QR
hanya untuk menangis di rumah sakit steril.
Dan Kontrak Sosial? Oh, buku tua itu
kini jadi tatakan meja para miliarder.

Kapital kini berhias wajah menawan,
bergaun diplomasi, beraroma teknologi,
mengalir seperti sungai di antara chip dan kode.
Ia tak berteriak, tak menangis—
ia hanya membeli segalanya… bahkan Tuhan.

Yang lemah kini belajar mencintai kehancuran,
seperti si miskin yang memuja lotere.
Mereka merangkul puing dan berbisik:
“Mungkin inilah cinta—
saat dunia merobohkan rumahmu,
tapi kau tetap berharap langit tak pergi.”

Namun jangan salah—
ini bukan ratapan kaum malas.
Ini elegi jujur
dari hutan hukum masyarakat.
Sebab dalam apa yang kita sebut kemajuan,
harimau mengenakan dasi,
dan domba-domba masih berdoa
di antara antrean pajak dan penyembelihan.

Kini kutahu:
peradaban bukanlah tentang etika,
melainkan efisiensi dan keanggunan algoritma.
Dan manusia? Bukan lagi subjek merdeka,
melainkan data—
dengan emosi yang dijual potongan akhir pekan.

Namun biarlah aku tetap menulis,
bukan untuk mengubah dunia,
tapi untuk menyalakan sebatang lilin kecil
di reruntuhan nalar dan Wall Street.
Sebab mungkin—hanya mungkin—dalam puisi,
seorang manusia masih bisa berdiri telanjang
dan berkata:
“Aku bukan angka. Aku luka
yang rindu dicintai.”

Shanghai, 2025

Psalm from a Roofless World