Media
Oleh Fanny Jonathans
(Refleksi Akhir Tahun 2024)
–
Saat ini media sosial menjadi sarana ampuh untuk mengekspresikan ragam aktivitas dan karya. Namun di dunia kata-kata khususnya sastra, perjuangan untuk menembus media-media apalagi media bergengsi adalah wujud dari eksistensi penulis untuk mencapai goal dan pengakuan dari kiprah seseorang di dunia literasi.
Dengan seringnya nama dan karya masuk di beragam media baik mainstream maupun online, maka pengakuan dan rekam jejak akan tercatat oleh lembaga-lembaga baik swasta maupun pemerintah. Sang penulis tidak ‘beronani’ sendiri karena perjuangannya hanya dinikmati oleh dirinya sendiri tanpa perjuangan yang gigih untul menembus media-media, khususnya media yang terkenal sulit untuk ditembus.
Ketika nama dan karya terpampang di beragam media yang dituju, secara tidak langsung ada rasa bahagia bahwa perjuangan di dunia sastra memperoleh pengakuan. Apalagi jika mendapatkan apresiasi dari beragam lembaga. Seperti Han Kang dari Korsel yang menang Nobel dengan novelnya yang berjudul The Vegetarian. Sepanjang hidupnya, namanya akan tercatat di kancah literasi dunia yang sangat dihormati itu.
Dan perjuangan untuk itu tidaklah mudah. Terus berusaha dan berkarya agar karya-karya sastra kita dapat menembus ragam media cetak yang jumlahnya kian sedikit karena digerus oleh media online, adalah usaha yang pantang menyerah.
Di 50 tahun lebih saya menulis sastra, perjuangan untuk menembus media-media cetak masih tetap saya lakukan. Karena di situlah letak kesetiaan saya pada dunia membaca, meski tak jarang tidak memperoleh imbalan honorarium.
Demikian kondisi penulis di jalur ‘grass road’ yang tak memiliki ‘link’ pada sang kapital manapun.