April 21, 2026
Pemancing dan Nelayan

Oleh:Yusuf Achmad

Surabaya-suaranaknegerinews.com 31 Januari 2025 – Kehidupan para nelayan sangat beragam dan penuh warna. Salah satu kisah yang mencerminkan ini adalah dalam film kartun berjudul The Fisherman and His Wife. Film ini mengingatkan saya pada beberapa cerita tentang nelayan lainnya, yang semuanya menawarkan pandangan yang unik tentang kehidupan di laut. Ada tiga cerita yang pernah saya baca dan dengar yang bisa dibandingkan dan dikontraskan dengan film tersebut.

Cerita pertama adalah tentang seorang nelayan yang selalu pergi memancing, namun ia tidak pernah pulang dengan ikan di tangannya. Alih-alih menangkap ikan, ia seringkali menangkap sepatu tua dan sampah. Apakah hal ini membuatnya sedih? Tidak sama sekali. Ia tidak pernah menyerah memancing dan berkata, “Saya tertarik duduk di perahu dan tidak melakukan apa-apa sama sekali.” Baginya, memancing adalah lebih dari sekadar hasil tangkapan; itu adalah proses dan ketenangan yang didapatkan dari duduk di perahu di tengah air.

Cerita kedua adalah tentang seorang nelayan tua bernama Santiago, dari Kuba, yang sering diremehkan oleh nelayan lain di desanya. Ia memiliki seorang teman setia bernama Manolin, seorang anak laki-laki yang selalu membantunya menyiapkan makanan dan umpan. Mereka berbicara tentang bisbol, layaknya kakek dan cucunya. Pada hari keempat puluh lima, Santiago masih belum beruntung, pulang tanpa hasil. Namun, Manolin tetap setia membantu Santiago meskipun orang tua Manolin memaksanya untuk membantu nelayan lain.

Pada hari kedelapan puluh empat, Santiago pergi memancing lebih jauh dan akhirnya menangkap ikan besar, Marlin. Namun, perjuangannya belum berakhir karena ia harus melawan beberapa hiu yang mencium darah Marlin. Dengan upaya terakhirnya, ia berhasil membawa pulang kerangka Marlin yang telah dimakan hiu. Meski begitu, Santiago tidur nyenyak setelah keberhasilannya, dan setiap nelayan di desa mengagumi kerangka Marlin. Santiago membuktikan bahwa ia adalah nelayan sejati, meskipun semakin tua dan diremehkan oleh orang lain.

Cerita terakhir adalah tentang seorang nelayan dari Surabaya yang sangat menyukai memancing. Ia bukan nelayan sejati, tapi pengetahuannya tentang laut, sungai, ikan, dan umpan menjadikannya seorang ahli. Baginya, memancing adalah ritual dan panggilan Tuhan. Ia merasa harus pergi ke sungai atau laut kapan pun dan di mana pun, tanpa peduli jarak atau waktu. Baginya, menangkap dan membawa pulang ikan bukan masalah besar. Ia menggunakan semua indranya untuk melepaskan kerinduan kepada Tuhan saat berada di tempat memancing. Baginya, memancing adalah pengalaman spiritual.

Sebagai kesimpulan, kita dapat melihat perbedaan dan kesamaan antara cerita-cerita ini. Semangat yang kuat untuk memancing adalah benang merah yang menyatukan mereka. Memancing adalah bagian dari jiwa dan kehidupan para nelayan. Ini bukan hanya tentang menangkap ikan, tapi juga tentang menghargai proses, menunjukkan identitas diri, dan bahkan pertemuan dengan Tuhan. Memancing memiliki makna yang dalam bagi setiap nelayan, dan setiap cerita membawa kita lebih dekat untuk memahami makna tersebut.

Tulisan ini adalah hasil revisi dari karya yang ditulis pada tanggal 31 Agustus 2024.