April 16, 2026
WhatsApp Image 2026-04-07 at 06.37.16

oleh ReO Fiksiwan

“Perjalanan mereka mengungkap keberadaan Paus Joan, Paus perempuan pertama dan satu-satunya yang masa pemerintahannya telah dikaburkan oleh waktu dan konspirasi.” — Gary McAvoy(1946-2025), The Confessions of Pope Joan(2025).

Hikmat Paskah Kristiani sejak Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga Kebangkitan(5/4/26), tentu tidak akan mengurangi sedikit pun iman yang telah dipeluk teguh.

Meski ada secuil sejarah dari Kepausan, fakta atau fiksi(?), malah lebih bisa mengukuhkan cakrawala spiritualitas dari karya para imam dan rasul.

Salah satunya, menguak sedikit tabir sosok Paus Perempuan, Paul Joan, agar menelisik sedikit sejarah ringkasnya sendiri dari berapa buku tafsir kontempoer berikut.

Meski diselipi kontroversi tentang Paus Perempuan, Pope Joan, selalu ada sedikit kabut bayangan dalam sejarah Vatikan.

Jika demikian, misteri legenda ini menceritakan seorang perempuan abad pertengahan yang menyamar sebagai pria, meniti jalan dalam hierarki gereja, hingga akhirnya duduk di takhta Petrus.

Kisah itu, meski ditolak oleh catatan resmi Gereja, terus hidup dalam imajinasi publik sebagai simbol bagaimana institusi besar bisa menyingkirkan atau menutup jejak perempuan dari sejarah.

Pertama, Karen Armstrong, mantan biarawati yang kini berusia 81 tahun, dalam Santo Paulus: Rasul yang Dicela dan Dicinta (2021, edisi Indonesia), memang tidak menulis langsung tentang Pope Joan, tetapi refleksinya tentang Paulus, cikal bakal kepausan asli, memberi kunci untuk memahami bagaimana figur kontroversial bisa mengubah arah sejarah.

Paulus dicela sekaligus dicinta, keras sekaligus revolusioner, dan dari surat-suratnya lahir fondasi agama besar.

Armstrong menunjukkan bahwa sejarah agama sering dibentuk oleh tokoh yang menantang batas, dan dalam konteks Pope Joan, legenda itu bisa dibaca sebagai proyeksi kerinduan akan figur perempuan yang menembus dinding patriarki gereja.

Berikut, Ian Leslie, lewat John & Paul: A Love Story in Songs(2025), menulis tentang Lennon dan McCartney, tetapi refleksinya tentang ikatan kreatif mereka memberi gema pada cara kita membaca figur-figur sejarah.

Leslie menekankan bahwa kekuatan sejati lahir dari kerentanan dan kolaborasi, dari kemampuan menyentuh emosi terdalam manusia.

Jika kita tarik ke Pope Joan, legenda itu bertahan bukan karena bukti sejarah yang kuat, melainkan karena ia menyentuh kerentanan kolektif: kerinduan akan keadilan gender, kebutuhan akan simbol bahwa perempuan pun bisa memimpin, meski sejarah resmi menolak mengakuinya.

Untuk itu, simak Pope Joan berikut ini.

Paus Wanita: Misteri Paus Joan karya Rosemary dan Darrol Pardoe(2007) menelusuri legenda Pope Joan, perempuan yang diyakini pernah menjadi Paus pada Abad Pertengahan.

Rosemary Pardoe, lahir 28 Februari 1951, masih aktif sebagai penulis dan editor fanzine literatur fantasi; sementara Darrol Pardoe, lahir 31 Mei 1943, wafat pada 28 Januari 2021 akibat Covid-19.

Dalam buku mereka, The Famela Pope: The Myszery of Pope(1988), keduanya mengulas bagaimana kisah Pope Joan bertahan sebagai mitos yang terus diperdebatkan.

Alkisah,,sebuah dokumen rahasia yang
diyakini sebagai catatan harian Paus Joan, yang jika benar, akan mengguncang fondasi sejarah Gereia Katolik.

Novel ini memadukan fiksi sejarah dengan intrik kontemporer.

Tokoh utama, Pastor Michael Dominic,
menemukan sebuah diary yang mengungkap keberadaan Paus Joan, perempuan yang konon pernah memimpin Gereja pada abad pertengahan.

Bersama seorang jurnalis, ia menelusuri jejak yang penuh konspirasi, pembunuhan, dan upaya
sistematis untuk menutup-nutupi kebenaran.

McAvoy menulis dengan gaya thriller yang cepat, penuh ketegangan, tetapi juga sarat riset sejarah, sehingga pembaca diajak masuk ke dalam labirin Vatikan yang penh rahasia.

Mereka menekankan bahwa meski catatan resmi Vatikan menolak keberadaannya, cerita tentang seorang perempuan yang menyamar sebagai pria, meniti karier dalam hierarki gereja, hingga akhirnya terpilih sebagai Paus, tetap hidup dalam tradisi lisan, kartu Tarot, dan polemik sejarah.

Buku ini menyoroti bahwa legenda Joan bukan sekadar kisah sensasional, tetapi juga simbol perlawanan terhadap dominasi patriarki dalam Gereja Katolik.

Salah satu bagian yang paling tajam adalah kutipan tentang momen ketika Joan, yang telah hamil secara rahasia, akhirnya melahirkan di tengah prosesi publik:

“Ia terpilih menjadi Paus, tetapi
selama prosesi ia melahirkan, mengungkap rahasia yang telah disembunyikan di balik jubah
otoritas.”

Kutipan ini menjadi inti kontroversi, karena memperlihatkan bagaimana kisah Joan dipakai untuk menegaskan kelemahan perempuan dalam pandangan tradisional gereja, sekaligus menjadi bukti bahwa sejarah bisa ditulis untuk menyingkirkan atau mempermalukan figur yang tidak sesuai dengan norma patriarki.

Dengan gaya reflektif, Rosemary dan Darrol Pardoe menunjukkan bahwa Pope Joan adalah figur yang dicela sekaligus dicinta: dicela karena dianggap skandal, tetapi dicinta karena menjadi simbol harapan bahwa perempuan pun bisa menembus dinding kekuasaan gereja.

Buku ini tidak hanya mengisahkan legenda, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana sejarah sering kali merupakan hasil seleksi, di mana suara tertentu dihapus, sementara mitos lain dibiarkan hidup sebagai peringatan atau perlawanan.

Lain lagi fiksi sejarah Pope Joan berikut ini.

Gary McAvoy, novelis Amerika, wafat usia 79(14/12/25) yang menulis thriller sejarah, khususnya seri Vatican Secret Archive Thrillers, dalam The Confessions of Pope Joan(2025), menulis dengan gaya thriller tentang penemuan dokumen rahasia yang diyakini sebagai catatan harian Paus Joan.

Novel ini memadukan fiksi sejarah dengan intrik kontemporer, dan secara implisit mengkritik cara gereja menutup-nutupi atau menghapus jejak perempuan dalam sejarah kepausan.

Kutipan tajam yang muncul dalam novel ini menegaskan:

“Their journey reveals the existence of Pope Joan, the first and only female Pope whose reign has been obscured by time and conspiracy.”

Kalimat ini menjadi inti kritik McAvoy, bahwa sejarah bukan hanya soal fakta, tetapi juga soal siapa yang berhak menulis dan siapa yang dihapus dari catatan.

Dari Armstrong, Leslie, Rosemary dan Pardor hingga fiksi sejarah McAvoy, kita melihat benang merah yang sama: sejarah agama dan budaya selalu dibentuk oleh figur yang menantang batas, baik Paulus yang mengubah sekte kecil menjadi agama besar.

Sementara,Lennon dan McCartney yang mengubah musik menjadi bahasa universal, maupun Pope Joan yang, meski mungkin hanya legenda, tetap hidup sebagai simbol perlawanan terhadap patriarki.

Kontroversi Pope Joan bukan sekadar soal benar atau tidaknya ia pernah ada, melainkan soal bagaimana sejarah ditulis, siapa yang diakui, dan siapa yang disingkirkan.

Dalam refleksi kritis ini, Pope Joan menjadi cermin absurditas sekaligus harapan: bahwa di balik catatan resmi yang kaku, selalu ada kisah lain yang berusaha keluar dari bayangan.

*Happy Easter & Jumat Agung untuk Umat Kristiani.

#coversongs:
Lagu “Dear Pope Francis” dari grup rohani Cantos de Fe dirilis pada 20 Februari 2025 melalui label Hope Records.

Karya ini merupakan sebuah penghormatan musikal kepada Paus Fransiskus, menekankan kerendahan hati, kasih, dan peran beliau sebagai gembala umat.

#credit foto diunggah dari kanal Youtube @Chronicle.Canvas
Subscribe The Only Female Pope Who Existed. Pope History dan Pope Joan: The Female Pope That Vatican Tried to Erase From History @pairup651