January 23, 2026

Membangun Kerukunan Lewat Teologi: Awam dan Orang Muda Katolik Didorong Jadi Pelopor Toleransi

Oleh : joko

http://suaraanaknegerinews.com | Kepulauan Tanimbar — Di tengah keindahan alam Kepulauan Tanimbar yang sarat keberagaman budaya dan agama, ratusan peserta berkumpul dalam semangat persaudaraan dan damai untuk mengikuti Lokakarya Teologi Tahun 2025, di Gedung Natar Kaumpu, Jalan Atek Lawanaman, Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Sabtu (10/5/2025).

Lokakarya ini mengangkat tema besar: “Penguatan Kapasitas Kaum Awam dan Orang Muda Katolik dalam Menciptakan Kerukunan Antar Umat Beragama.”

Acara diawali dengan penuh hikmat, lagu Kebangsaan Indonesia Raya menggema mengawali pertemuan yang menghadirkan berbagai unsur tokoh agama, pejabat Kementerian Agama, dan para pemuda Katolik.

Sambutan hangat datang dari panitia dan tuan rumah kegiatan, yang langsung disambut dengan laporan kegiatan serta doa pembuka.

Salah satu momen penting dalam pembukaan ini adalah sambutan dari Vikaris Kevikepan Wilayah KKT-MBD, RD. Ponsio Ongirlwalu, yang secara resmi membuka kegiatan.

Pluralisme bukan sekedar fakta tapi pilihan hidup bersama

Dalam sambutan penuh dan semangat kebersamaan, RD. Ponsio menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya Lokakarya Teologi yang mengusung semangat membangun keharmonisan antarumat beragama, terutama melalui peran aktif kaum awam dan orang muda Katolik.

Mengemban amanah baru dari Uskup untuk memimpin wilayah Kevikepan selama tiga tahun ke depan, RD. Ponsio menyatakan komitmennya untuk mempererat tali silaturahmi lintas iman serta memperkuat kapasitas umat dalam menjaga nilai-nilai perdamaian.

“Tugas kita bukan hanya membina kerukunan, tapi menjadi jalan hidup yang dirawat bersama. Khususnya di Bumi Duan Lolat, semangat toleransi harus tumbuh dari bawah, dari kaum muda, tokoh agama, hingga seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

RD. Ponsio menegaskan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang dikenal multikultural, sangat membutuhkan pemahaman mendalam terhadap pluralisme, bukan hanya sebagai fakta sosial, tetapi sebagai pilihan sadar untuk hidup berdampingan.

Ia menyebut pluralisme sebagai landasan bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan dengan tulus dan jujur.

Dalam paparan teologis-sosiologisnya, ia juga mengangkat tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah dengan keragaman tinggi seperti Tanimbar.

Ia menyadari bahwa agama bukanlah akar konflik, namun sering dimanfaatkan sebagai pemicu ketegangan identitas.

Oleh karena itu, menurutnya, ada dua pendekatan penting dalam menjaga keharmonisan yaitu 1. Pendekatan Konstitusional dan Politik, sebagaimana diatur dalam UUD Pasal 29 dan hasil sidang MPR tahun 1998 yang menekankan pentingnya penguatan jaringan antar umat beragama.

2.Pendekatan Esoteris, yakni membangun titik temu nilai-nilai luhur antar agama secara jujur ​​demi menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.

“Gereja Katolik harus menjadi rumah dialog dan membawakan kedamaian. Ajaran cinta kasih dan memaafkan adalah kekuatan utama yang bisa menjawab tantangan zaman,” lanjutnya.

Di Akhir sambutan, RD. Ponsio mengajak umat Katolik, khususnya orang muda, untuk tetap menjadi pembelajar pribadi yang membawa keteladanan di tengah masyarakat.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk tidak lelah menimba ilmu dan terus menjadi pribadi yang menghadirkan teladan hidup toleran dan inklusif.

“Jangan lelah menimba ilmu. Jadilah pola anutan yang bermanfaat bagi sesama, dan mari terus berpegang teguh pada iman kita masing-masing tanpa saling menyalahkan,”ujarnya dengan penuh harapan.

Momen ini sekaligus menjadi ruang reflektif atas dinamika keagamaan sosial di Tanimbar, di mana perbedaan suku, bahasa, dan agama adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Lokakarya ini juga menjadi wadah memperkuat sinergi antara pemerintah dan gereja dalam mewujudkan masyarakat yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga cerdas, sejahtera lahir dan batin.

Dalam konteks sosial yang penuh tantangan, pluralisme tidak hanya dipandang sebagai kenyataan, melainkan sebagai nilai luhur yang harus terus dipertahankan.

Selain itu, mengutip sambutan perwakilan Kementerian Agama, kegiatan ini diharapkan menjadi jembatan pemahaman antarumat, dan membentuk generasi muda yang berdaya saing, namun tetap menjunjung tinggi toleransi serta nilai-nilai kebangsaan.

Seusai sesi pembukaan, peserta diajak menikmati snack ringan sebagai bentuk keakraban awal sebelum masuk ke sesi-sesi diskusi mendalam yang telah diselenggarakan panitia.

Dengan penuh semangat, lokakarya ini diharapkan menjadi suluh yang menghasilkan jalan kaum muda dan awam Katolik untuk terus menjadi pelaku perdamaian di bumi Duan Lolat dan Indonesia pada umumnya.

“Jadilah manusia yang selalu
berbeda pendapat tetapi dapat saling mengerti menerima ajaran dari agama lain. Sekian dan terima kasih… syaloom dan salve”.tutur RD Ponsio menutup.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang meliputi Kepala Seksi Urusan Agama Katolik, RD. Laurensius Takndare, Ketua Forum Kerukunan Antar Umut beragama, Perwakilan Tokoh Agama dan undangan lainnya.

Suasana menjadi haru dan penuh semangat ketika kegiatan ditutup dengan pesan saling pengertian antarumat, diiringi sapaan hangat: Syaloom dan Salve.