May 10, 2026
Copilot_20260109_085937

Yusufachmad Bilintention

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk merenungkan ciptaan Allah. Binatang, tumbuhan, gunung, hingga langit disebut bukan sekadar nama, melainkan tanda kebesaran-Nya. Dalam surat al-Ghasyiyah ayat 17, misalnya, Allah memerintahkan kita untuk memikirkan bagaimana unta diciptakan. Dari sana, tersimpan banyak hikmah yang bisa menjadi bahan renungan.

Tulisan ini mengangkat sebuah percakapan sederhana antara seorang ayah dan dua putrinya. Dari dialog itu, kita bisa melihat bagaimana nilai syukur dan kesadaran untuk memuja Allah ditanamkan sejak dini, dengan pendekatan logis, emosional, sekaligus spiritual.

Dalam sebuah perjalanan, Hanim dan Zainab, dua anak perempuan, kagum melihat pemandangan sawah dan pepohonan. Warna padi keemasan dan deretan pohon hijau kekuningan membuat mereka terpesona.

Sang ayah menanggapi dengan lembut: “Indah, bukan? Semua itu ciptaan Allah. Kita harus bersyukur.”

Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul. Mengapa harus bersyukur? Apakah tanaman juga bersyukur? Bagaimana gunung memuja Allah? Sang ayah menjawab dengan sederhana: semua makhluk, meski tidak berbicara, tetap memuja Allah. Gunung, bumi, bintang, bulan, dan matahari, semuanya tunduk pada-Nya.

Dialog itu berlanjut hingga menyentuh pertanyaan mendasar: apakah mereka Islam? Ayah menjelaskan, Islam adalah untuk semua makhluk Allah. Artinya, manusia harus menyayangi dan menjaga ciptaan-Nya demi kebaikan bersama.

Percakapan ini bukan sekadar obrolan ringan. Sang ayah sebenarnya sedang mengajarkan anak-anaknya dengan tiga pendekatan berpikir:

  • Otak kiri: logis dan rasional, dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an.
  • Otak kanan: kreatif dan emosional, dengan menunjukkan keindahan alam.
  • Otak tengah: holistik dan spiritual, dengan menanamkan hikmah bahwa semua makhluk memuja Allah.

Dengan cara itu, anak-anak tidak hanya belajar fakta, tetapi juga merasakan keindahan dan memahami makna yang lebih dalam.

Dari dialog sederhana ini, tersampaikan pesan besar: memuja Allah adalah kewajiban sekaligus kebahagiaan. Itu adalah cara manusia mengakui kebesaran-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagi orang tua, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanamkan nilai ini kepada anak-anak:

  • Tingkatkan pengetahuan tentang Islam dari sumber terpercaya.
  • Jaga hubungan dengan Allah melalui ibadah, doa, dzikir, dan syukur.
  • Jaga hubungan dengan sesama makhluk Allah dengan kasih sayang tanpa membeda-bedakan.

Dialog ayah dan dua putrinya menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan iman bisa dimulai dari hal sederhana: melihat alam, bertanya, dan menjawab dengan penuh makna. Dari sawah, pepohonan, hingga gunung Semeru, semua mengingatkan kita bahwa langit dan bumi senantiasa memuja Allah.

Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly