“MENCARIMU DALAM EMBUN”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
"MENCARIMU DALAM EMBUN": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925 - 306 (Assisted by AI).
/1/
MENCARIMU DALAM EMBUN
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Engkau adalah nyala lampu minyak di lorong paling sunyi,
berkedip, sekarat, lalu menyala kembali.
Aku mencarimu dalam embun,
menemukanmu di titik-titik yang hendak jatuh
lalu lenyap sebelum sempat kugenggam.
Bayanganmu—
adalah garis halus di air
yang tak bisa kuhirup,
namun tetap kusebut sebagai udara.
Engkau bukan hanya kenangan,
engkau adalah luka yang tak bisa sembuh,
sebab aku tak ingin kau hilang sepenuhnya.
Aku melawan sunyi dengan suara,
melawan gelap dengan ingatan,
melawan kehilangan dengan doa.
Jakarta, 2004
/2/
Mengayam Hari Dengan Jemari Kasar
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Kami rakyat biasa—
serupa sungai yang melawan batu,
terus mengalir meski ditahan,
terus bergerak meski dihantam.
Kami menganyam hari dengan jemari kasar,
menenun mimpi dari benang-benang tipis
yang sering putus,
namun selalu kami sambung kembali.
Kami rakyat biasa—
yang bernyanyi meski tenggorokan kering,
yang menari meski lantai telah retak.
Kami hidup dengan menggenggam harapan,
bukan sebagai bunga yang diletakkan di altar,
tapi sebagai akar yang menembus cadas.
Jakarta, 2004
/3/
Luka yang Disembuyikan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Di sini, malam tak pernah benar-benar gelap,
ia adalah tirai elektronik yang berkedip tanpa jeda,
suara klakson yang menggantikan burung-burung.
Jalan-jalan berdenyut dengan napas mesin,
tapi di sela aspal dan beton
ada kaki-kaki kecil yang terus berlari,
tangan-tangan yang tetap mengangkat beban
meski bayangannya sendiri telah lunglai.
Kota ini bukan hanya bangunan—
ia adalah luka-luka yang disembunyikan,
adalah air mata yang dihapus sebelum jatuh.
Namun di sela semuanya,
ada juga ketabahan, ada juga tekad
yang tak bisa dihancurkan oleh waktu.
Jakarta, 2004
/4/
Menitipkan Nama di Ombak
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Aku titipkan namaku di ombak,
agar ia menyebutnya saat aku lupa
pada siapa aku pernah berjanji.
Kita adalah layar yang selalu diterpa badai,
tapi tidak semua kapal tenggelam
meski kayunya lapuk,
meski anginnya jahat.
Ada nama-nama yang terus terapung
di dada laut,
menolak larut meski arus ingin menyeretnya.
Itulah kita—
serpihan yang bertahan,
riak kecil yang menolak hilang.
Jakarta, 2004
/5/
Langit Masih Menangis
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Dulu, hujan adalah suara yang bisa kubaca,
tapi kini ia hanya isyarat yang ditelan keheningan.
Langit masih menangis,
tapi siapa yang punya waktu untuk mendengar?
Aku menadah tanganku ke bawah
seperti seorang pengemis—
bukan meminta uang,
tapi meminta kenangan dikembalikan.
Tetesan pertama jatuh di jemari,
meninggalkan dingin yang menusuk,
seperti namamu yang masih bersarang di tubuhku.
Aku tahu, aku tak bisa menahan hujan,
tapi aku bisa bercakap dengannya.
Jakarta, 2004
—————————-
Kumpulan puisi di atas awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2004. Puisi di atas (no. 1-6) ditulis sebulan setelah kepulangan penulis dari Jakarta, menerima penghargaan sebagai Terbaik Pertama Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional (MAWAPRES) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada pada tahun yang sama 2004. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni Marlina telah mendirikan sekaligus mengetuai sejumlah kecil komunitas sosial, bahasa, sastra, literasi dengan platform digital meliputi:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)