Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Mengenal Sifat Wali Allah

Tausiah Religi
Rasulullah ﷺ Bersabda :
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim) .
==============
KULIAH SHUBUH
Senin , 24 Nopember 2025(03 Jumadil Akhir 1447 H)

Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Terlebih dahulu mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar – benarnya , yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya Muhammad ﷺ serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad ﷺ .

Taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat.
Oleh karena itu,
marilah kita semua selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan segenap larangan.

Kita barangkali sering mendengar klaim kewalian.
Beberapa orang mengeklaim atau diklaim oleh para pengikutnya telah “wushul” kepada Allah dan mencapai maqam tertentu dalam tasawuf dan kewalian. Sebagian orang awam dibuat bingung dan bertanya-tanya, apakah orang – orang itu benar – benar wali?

Wushul kepada Allah adalah capaian rohani seseorang yang telah melewati rintangan dan hambatan spiritual, sehingga dirinya merasakan kedekatan dengan Allah SWT.

Wushul kepada Allah merupakan hasil dari perjalanan spiritual seseorang dalam menempuh jalan ilahi.
Orang yang telah mencapai wushul atau washil akan lebih bijak dalam memandang manusia, hewan, dan alam semesta.
Wushul kepada Allah merupakan pengetahuan hakiki terhadap Allah, bukan penyatuan zat antara Tuhan Allah dengan makhluk-Nya.
Wushul kepada Allah hanya dapat diraih oleh orang – orang shaleh, bukan sembarang orang.

Untuk menjawab pertanyaan apakah seseorang itu benar-benar seorang wali ?, kami akan mengulas secara singkat tentang pengertian wali, syarat menjadi wali, dan ciri serta sifat wali.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata,:
“Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka istiqamah dalam ketaatan, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, :
“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu”
(QS Fushshilat: 30).

Dalam ayat tersebut, Allah menyifati para wali kekasih Allah sebagai orang – orang yang berkata dan meyakini:
“Tuhan kami adalah Allah”.
Artinya syarat pertama menjadi wali adalah beriman kepada Allah dan mengenal-Nya dengan benar sebagaimana mestinya.
Para wali pasti meyakini bahwa Allah benar-benar ada tapi tidak seperti segala yang ada.
Mereka meyakini bahwa Allah berbeda dari segala sesuatu, Pencipta segala sesuatu dan tidak membutuhkan kepada segala sesuatu.

Dalam ayat Surat Fushshilat ayat 30 tersebut, Allah juga menyifati para wali sebagai orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.
Artinya, mereka senantiasa melakukan kewajiban dan meninggalkan perkara yang diharamkan.
Tanpa aqidah yang lurus dan tanpa istiqamah dalam ketaatan, seseorang tidak akan mencapai derajat kewalian.
Atau dengan kata lain, tanpa iman dan taqwa, seseorang tidak akan mungkin menjadi wali.

Jalan pertama menuju taqwa adalah mempelajari ilmu agama yang fardhu ‘ain lalu mengamalkannya. Orang yang belum mempelajari ilmu agama yang fardhu ‘ain dan mengamalkannya tidak akan pernah mencapai derajat taqwa, apalagi menjadi seorang sufi atau wali.
Meskipun keturunan seorang wali, memperbanyak ibadah, dzikir dan khidmah kepada para wali, tanpa mengaji ilmu agama yang fardhu ‘ain dan mengamalkannya, seseorang tidak akan menjadi wali.
Dengan ilmu agama yang fardhu ‘ain, seseorang dapat membedakan antara yang halal dan haram dan mengetahui apa yang Allah wajibkan kepadanya dan apa yang Allah haramkan baginya.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebelum fokus dan berkonsentrasi penuh melakukan ibadah, beliau terlebih dahulu menuntut ilmu yang fardhu ‘ain kepada guru – gurunya.
Begitu juga seluruh wali yang lain.

Imam al-Junaid al-Baghdadi, penghulu para sufi rahimahullah mengatakan :
“Jalan kami ini yaitu jalan tasawuf dan kewalian diikat Al-Qur’an dan Sunnah, karena sesungguhnya setiap jalan menuju Allah itu tertutup kecuali bagi mereka yang berpegang teguh dengan apa yang digariskan Rasulullah ﷺ.

Imam Syafi’i menegaskan :
Allah tidak mengangkat seorang wali yang bodoh. Seandainya Allah mengangkatnya menjadi wali, niscaya Allah pasti memudahkan jalan baginya untuk memahami ilmu agama .
Dan Allah tidak mengangkat seorang wali yang bodoh.
Seorang wali tidak akan bodoh tentang ajaran agamanya .

Oleh karena itulah, seorang wali selalu berpegang teguh dengan syari’at sepanjang hayat.
Barang siapa yang tidak ingin tersesat maka janganlah ia membuang timbangan syari’at dari tangannya sekejap mata pun, hendaklah ia selalu membawanya siang malam di setiap perkataan, perbuatan, dan keyakinannya.

Selain melakukan semua kewajiban dan menjauhi semua yang diharamkan, ciri seorang wali juga adalah istiqomah melakukan perkara sunnah walaupun hanya satu jenis kesunnahan.
Jadi kewalian adalah derajat di atas ketaqwaan.
Jika taqwa adalah melakukan semua kewajiban dan menjauhi semua yang diharamkan, maka wali lebih dari itu.
Ia juga secara istiqomah melakukan perkara sunnah.

Di antara ciri wali adalah meninggalkan sebagian perkara yang mubah karena khawatir terjatuh ke dalam perkara yang haram. Bermewah-mewahan dengan menggunakan harta yang halal adalah perkara yang mubah.
Tapi kenapa para wali tidak ada yang melakukannya?
Karena mereka tahu, hal itu lama kelamaan akan menjerumuskan kepada perkara yang haram.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah seorang hamba mencapai derajat taqwa sehingga ia tinggalkan sebagian yang mubah karena khawatir terjatuh kedalam perkara yang haram”
(HR at Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Majah).

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Para wali dianugerahi oleh Allah subhanahu wata’ala berbagai karamah.
Akan tetapi mereka menyembunyikannya dan tidak menampakkannya kecuali dalam keadaan darurat atau karena ada hikmah syar’iyyah.
Mereka menyembunyikan karamah sebagaimana seorang perempuan menyembunyikan haidnya.

Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Di antara hamba-hamba yang paling dicintai Allah adalah orang-orang bertaqwa yang tidak diketahui derajat kewaliannya, apabila mereka hilang tidak dicari, dan jika mereka hadir tidak dikenal, mereka sejatinya adalah para pembawa petunjuk dan lentera-lentera ilmu”
(HR ath – Thabarani).

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Ringkasnya, wali Allah adalah orang yang berakidah lurus, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, bertaqwa, berilmu dan beramal, istiqamah dalam ketaatan, rendah hati, bersih hatinya dari penyakit-penyakit hati, hatinya tidak bertaut dengan dunia, selalu memikirkan akhirat, menjadikan dunia hanya sebagai sarana meraih kebahagiaan akhirat, berakhlak dengan akhlak Rasulullah, beradab dengan adabnya serta meneladani Rasulullah dalam setiap tindakan, ucapan, dan keyakinan.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته