Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Yusufachmad Bilintention

Di tengah derasnya arus digital, nasionalisme sering dipertanyakan: apakah masih relevan ketika algoritma mengatur ritme hidup kita? Esai ini lahir dari pengalaman seorang pendidik dan pecinta sastra yang meneliti puisi “Nasionalisme di Era Algoritma” dengan pendekatan stilistika. Melalui riset kuesioner terhadap generasi muda dan kajian bahasa, tulisan ini berusaha menunjukkan bahwa cinta tanah air tetap berakar kuat, meski dunia terus berubah.

Mengukir Nasionalisme di Era Algoritma: Sebuah Kajian Stilistika

Mengikuti “Lomba Karya Nasionalisme di Era Algoritma” adalah suatu kehormatan bagi saya. Pertama, karena menerima pesan langsung dari pengurus Satu Pena. Kedua, sebagai pendidik yang peduli dengan nasionalisme di era digital, saya ingin menanamkan rasa ini pada generasi sekarang. Selain lomba penulisan, saya juga berpartisipasi dalam melukis dan pembacaan puisi.

Sebagai pecinta sastra, saya terus belajar dan ikut serta dalam berbagai lomba. Meskipun tidak muda lagi, saya masih semangat untuk memberikan gagasan atas puisi “Nasionalisme di Era Algoritma”. Ketiga, saya mengagumi Denny JA. Pada 2014, ia mendapat penghargaan dari Twitter Inc. sebagai The World No. 2 Golden Tweet 2014, dan oleh majalah TIME sebagai salah satu orang berpengaruh di internet pada 2015. Denny JA juga dikenal menulis puisi esai melalui “Atas Nama Cinta”. Hingga kini, lebih dari 100 buku puisi berbasis genre baru puisi esai diterbitkan di Indonesia dan Asia Tenggara. Pada 16 Agustus 2018, ia dan lembaganya, Lingkaran Survei Indonesia, mengadakan pendidikan politik terbesar dan mendapatkan Guinness World Records. Ia juga meraih penghargaan Sastra Kemanusiaan dan Diplomasi ASEAN 2020 dari Badan Bahasa dan Sastra Sabah, Malaysia. Karyanya tidak perlu diragukan lagi. Ia mendapatkan Lifetime Achievement Award 2021 dari Asosiasi Penulis Indonesia Satupena atas dedikasi dan inovasinya dalam dunia penulisan selama 40 tahun.

Saya melakukan beberapa langkah sebelum memberikan gagasan saya atas puisi tersebut. Pertama, saya menyebarkan kuesioner kepada 362 siswa SMK dari kelas X, XI, dan XII di empat SMK swasta di Surabaya, termasuk siswa saya. Hasil kuesioner ini sejalan dengan penelitian Julia Bea Kurniawaty dalam jurnal “Nasionalisme di Era Digital: Tantangan dan Peluang bagi Generasi Z Indonesia.” Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Generasi Z, yang tumbuh dengan teknologi, menghadapi tantangan globalisasi yang dapat mengikis identitas nasional. Namun, mereka menunjukkan nasionalisme mereka melalui adaptabilitas, relevansi, dan dinamisme. Saya merasa lega karena hasil kuesioner saya hampir sama dengan penelitian tersebut. Meski begitu, saya belum sepenuhnya puas karena masih banyak generasi sekarang yang belum menunjukkan tingkat nasionalisme yang diharapkan.

Dari hasil kuesioner di atas, terlihat bahwa menurut pandangan siswa dari SMK Saintren, PGRI 13, Mahardika, dan IPIEMS di Surabaya, nasionalisme di era digital adalah sesuatu yang relevan dan penting. Mereka menunjukkan rasa cinta pada tanah air melalui berbagai cara seperti menghargai budaya Indonesia dan menggunakan produk lokal. Meskipun teknologi mempengaruhi cara pandang mereka, rasa nasionalisme tetap berakar kuat. Sebagaimana hasil refleksi dalam puisi Denny JA yang menggambarkan nasionalisme sebagai ikatan yang menembus ruang dan waktu, tetap kuat di tengah riuhnya era digital. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun dunia terus berubah, cinta pada tanah air tetap melekat erat di hati generasi muda.                              

Dalam mencermati puisi tersebut, saya menggunakan pendekatan stilistika, yaitu ilmu yang menitikberatkan pada penggunaan bahasa dan gaya bahasa dalam karya tulis. Tujuan stilistika adalah meneliti efek estetis bahasa dan ciri khas penggunaan bahasa. Menurut Semi (1990), stilistika dapat diteliti dengan menggunakan sarana fonologis, gramatikal, atau leksikal.

Mengacu pada tujuan stilistika maka saya melakukan beberapa hal. Pertama, saya, mengamati dan memahami isi puisi secara keseluruhan. Kemudian, saya meneliti dan memilah kata-kata yang digunakan oleh penyair, lalu menghitung dan mengelompokkan kata-kata mana yang paling sering digunakan. Hal berikutnya adalah mengetahui efek dan makna dari kata-kata tersebut dari berbagai aspek. Kemudian saya membuat tabel seperti di bawah ini:

Nomor Kata Jenis Kata Kekuatan Jumlah

Kemunculan

1 Tanah Air Nomina (noun) Kuat 7
2 Negara Nomina (noun) Sedang 3
3 Algoritma Nomina (noun) Kuat 4
4 Digital Adjektiva (adjective) Sedang 3
5 Cinta Nomina (noun) Kuat 2
6 Identitas Nomina (noun) Kuat 2
7 Bahasa Nomina (noun) Sedang 4
8 Sinyal Nomina (noun) Sedang 2
9 Piksel Nomina (noun) Sedang 1
10 Memori Nomina (noun) Sedang 1
11 Sejarah Nomina (noun) Kuat 2
12 Rumah Nomina (noun) Sedang 1

Ada tiga kata dengan kemunculan terbanyak: “tanah air” (7 kali), “algoritma” (4 kali), dan “bahasa” (4 kali). Interpretasi dari kemunculan kata-kata ini:

  • “Tanah air”: Menunjukkan kedalaman rasa yang ingin disampaikan penyair. Kata ini memberi penekanan pada keterikatan emosional dan kebanggaan terhadap negara.
  • “Algoritma” dan “bahasa”: Menunjukkan bagaimana teknologi dan bahasa mempengaruhi persepsi nasionalisme.

Kata-kata yang dikategorikan kuat seperti “tanah air”, “cinta”, dan “identitas” menonjolkan pentingnya kebanggaan nasional. Kata “digital” menggambarkan aspek modern yang berubah-ubah dan dinamis namun tetap memperkuat makna nasionalisme.

Puisi “Nasionalisme di Era Algoritma” adalah karya reflektif tentang makna nasionalisme di dunia digital. Pilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan sangat kaya dengan metafora dan simbolisme. Kata-kata seperti “peta yang kabur di ujung jari” dan “batas-batasnya larut dalam pixel dan kode” menggambarkan bagaimana batasan geografis menjadi tidak relevan di era digital. Penggunaan kata-kata modern seperti “getar algoritma” dan “sinyal digital” menciptakan suasana futuristik yang kontras dengan nostalgia sejarah dari tahun 1928.

Simbolisme dalam puisi ini sangat kuat. “Pixel dan kode” mewakili era digital, sementara “akar” dan “tanah air” menggambarkan rasa kebangsaan dan identitas yang dalam. Imaji visual seperti “leluhur menggali akar” dan “embun pada daun yang enggan jatuh” memberikan kesan emosional tentang keabadian nilai-nilai nasionalisme di tengah perubahan zaman.

Lebih lanjut, penggunaan kata-kata seperti “tanah air”, “algoritma”, dan “akar” mempertegas tema nasionalisme dan identitas dalam dunia digital. Kata benda seperti “tanah air” dan “akar” menunjukkan kekuatan dan kedalaman identitas nasional yang tetap berakar kuat. Sementara itu, kata-kata seperti “algoritma” dan “pixel” menggambarkan kompleksitas dan tantangan era digital.

Puisi “Nasionalisme di Era Algoritma,” berhasil menggabungkan elemen tradisional dan modern untuk menyampaikan pesan nasionalisme yang kuat. Melalui pendekatan stilistika, kita dapat melihat bagaimana penyair menggunakan alat-alat bahasa untuk menciptakan makna dan emosi yang mendalam. Meskipun dunia terus berubah, cinta tanah air dan identitas nasional tetap menjadi elemen yang tak tergantikan.”

Daftar Kepustakaan:

Semi Atar M. Drs. Prof. 1990. Metode Penelitian Sastra. Angkasa Bandung.

Kurniawaty Bea Julia. Nasionalisme di Era Digital: Tantangan dan Peluang bagi Generasi Z Indonesia. Jurnal Kebinekaan dan Wawasan Kebangsaan Vol 3 No 2 Tahun 2024. Pusat Kajian Pancasila, UNINDRA PGRI.

Hasil Kuesioner Siswa kelas X, XI dan XII empat (4) SMK swasta di Surabaya

Nasionalisme di era algoritma bukan sekadar slogan, melainkan kesadaran yang terus diuji oleh teknologi. Puisi dan stilistika membuka ruang untuk melihat bagaimana bahasa mampu menjaga identitas di tengah piksel dan kode. Generasi muda mungkin hidup dalam sinyal digital, tetapi akar kebangsaan tetap menancap dalam. Dan justru di persilangan antara tradisi dan modernitas, nasionalisme menemukan bentuk barunya: dinamis, adaptif, namun tetap setia pada tanah air.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write  https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com

https://medium.com/@yusufachmad2018

https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly