April 20, 2026
A king and a person who is afraid of becoming a king or refuses to be crowned, set in Indonesia

yusuf achmad

“Enak ya menjadi raja,” kata seorang teman. “Enak apanya, lihat nasib mereka,” jawab teman yang lain.
Dialog ini menyiratkan bahwa menjadi raja itu tidak selalu menyenangkan. Bergelimang harta, kemewahan, dan segala fasilitas yang melimpah ternyata tidak menjamin kebahagiaan sejati. Selalu merasa diawasi, harus sesuai aturan, dan ruang gerak yang terbatas menjadi bayangan ketidaknyamanan di lingkungan istana.

Kenapa Ingin Jadi Raja?

Di zaman sekarang, banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi raja, presiden, atau penguasa. Mengapa demikian? Apakah mereka lupa akan tanggung jawab dan konsekuensinya? Ataukah mereka tergiur oleh kekayaan, fasilitas, dan kemudahan hidup yang tampaknya menarik?

Namun, apakah mereka tidak tertarik untuk menjadi seseorang yang raja’?

Ya, raja’ adalah mereka yang mencari keridhoan Alloh dan rahmat-Nya. Mereka yang selalu menginginkan keutamaan berupa kebaikan, ihsan, dan akhirat di sisi Alloh. Tapi mungkinkah seseorang menjadi seorang raja sekaligus raja’? Apakah kemuliaan menjadi pemimpin dunia bisa disandingkan dengan kerendahan hati seorang hamba Alloh yang taat?

Menjadi Raja Tidak Selalu Baik

Menjadi raja atau penguasa membawa banyak risiko dan tanggung jawab. Seorang raja harus mengelola berbagai urusan rakyat: politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, hingga pertahanan. Dia harus bijaksana, adil, amanah, dan profesional dalam melaksanakan tugasnya, serta siap menerima kritik dan masukan dari berbagai pihak.

Tanggung jawab itu berat. Tak hanya itu, godaan yang dihadapi juga luar biasa. Seorang raja bisa saja tergoda untuk menyalahgunakan wewenang, melakukan korupsi, nepotisme, atau kolusi. Kesombongan, arogansi, dan lupa diri adalah jebakan yang nyata bagi para pemimpin yang tidak berhati-hati.

Menjadi Orang yang Raja’ Lebih Mulia

Sebaliknya, menjadi orang yang raja’ atau berusaha mencari keridhoan Alloh jauh lebih mulia dan bermanfaat. Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Alloh dalam segala aspek kehidupan. Orang yang raja’ mencintai Alloh dengan sepenuh hati dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan.

Menjadi raja’ bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Alloh SWT menganugerahkan kenikmatan dan keberkahan kepada mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, menciptakan ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Mengapa Rasulullah Tidak Mau Menjadi Raja?

Dalam sebuah ceramah, Gus Baha menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menolak tawaran menjadi raja. Beliau lebih memilih menjadi seorang nabi yang menjalani kehidupan sederhana, tanpa embel-embel kemewahan atau status. Pilihan itu menunjukkan bahwa kehormatan di sisi Alloh lebih mulia dibandingkan gelar dan kekuasaan di dunia.

Raja di Dunia atau Raja di Akhirat?

Menjadi raja atau penguasa hanyalah gelar sementara yang penuh ujian di dunia. Sementara itu, menjadi orang yang raja’ adalah jalan menuju kebahagiaan abadi di akhirat. Jika hanya mengejar kekuasaan dunia, kita mungkin lupa akan tanggung jawab yang besar dan godaan yang menyertainya.

Sebaliknya, menjadi orang yang raja’ membawa kita kepada keridhoan Alloh, syafaat Rasulullah SAW, dan kebahagiaan yang tidak pernah sirna. Maka, pilihan ada di tangan kita: menjadi raja yang dirundung tanggung jawab besar, atau menjadi orang yang raja’, mulia di hadapan Alloh SWT.