Tuhan Ijinkan Aku Pulang Dengan Tenang
Penulis: Ririe Aiko
#30Harimenulispuisiesai Puisi Esai 22
(Tuti Tursilawati lahir di Majalengka, Indonesia, dengan harapan sederhana, memberi kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya. Pada 2009, ia merantau ke Arab Saudi, menjadi pekerja rumah tangga. Namun, di tanah asing, ia justru menjadi korban kebengisan majikannya. Dalam ketakutan, Tuti membela diri, hingga nyawa majikannya melayang dan Hukuman mati pun dijatuhkan.)
—ooo—
“Aku pergi membawa doa di dalam napas ku, berharap negeri asing memberiku hidup yang baru. Tapi di tanah yang jauh ini, keadilan bukanlah milik mereka sepertiku.”
Aku meninggalkan tanah kelahiranku, membawa rindu yang kuikat dalam doa. Di bandara, ibu menggenggam tanganku erat, air matanya jatuh ke telapak tanganku.
“Aku akan baik-baik saja, Bu,” tapi janji itu akhirnya retak di negeri orang. Mereka bilang aku datang sebagai buruh, tapi di rumah ini, kehormatan ku di runtuhkan. Tanganku mengangkat beban yang bukan milikku, tulangku retak di bawah perintah tanpa belas kasih. Setiap malam aku terjebak dalam ketakutan. Dari mata buas yang mengintai di balik kelam, bayangan pekat yang merayap di dinding kamarku.
Aku melantunkan doa dalam gemetar putus asa. Berharap Tuhan memanggil ku langsung menuju Surga. tapi di tempat ini, Tuhan terasa begitu jauh.(1)
Jika aku diam, aku akan terenggut dalam kegelapan dan penyesalan. Jika aku melawan, aku akan dihukum oleh tangan-tangan yang tak peduli dengan hak keadilan. Aku hanya ingin bebas dari ketakutan, tapi pisau di tanganku lebih dulu berbicara. Saat bayangan itu mendekat dan mencengkram tubuhku dengan kuat. Tak ada yang bisa kulakukan, selain melindungi sisa kehormatan dengan sedikit kekuatan.
Darah mengalir di lantai, pekat seperti nasibku. Aku tak tahu apakah ini kebebasan, atau awal dari penjara abadi.
—000—
Mereka membawaku dengan tangan terikat, di koran-koran, aku disebut penjahat. Tak ada yang bertanya apa yang terjadi, seakan perempuan sepertiku hanya patut diam dan menerima. Aku mengirim surat kepada dunia, tapi semua huruf gugur sebelum sempat dibaca.(2)
Aku tak takut mati, hanya takut dilupakan. Siapa yang akan mengingat namaku setelah tiang gantungan?
—000—
Tahun-tahun di penjara berlalu seperti kabut, aku menulis surat kepada ibuku, dengan tangan gemetar, kata-kata terakhir yang ingin ku sampaikan hanya satu kalimat,
“Maaf Bu, aku tak akan pernah bisa pulang lagi. Jika suatu saat kau Rindu, lantunkan lah doa dalam sujud mu, semoga Ridho mu, membuat surga bisa menerima ku disana”
Di balik jeruji, aku menghitung hari, bukan menuju kebebasan, tapi menuju kematian yang sudah ditentukan. Aku bermimpi tentang rumah, tentang sawah yang luas, tentang suara adzan yang terdengar dari surau kecil di desa.
Tapi setiap pagi, yang kudengar hanya suara rantai yang bergemerincing, dan langkah kaki petugas yang kian mendekat.
Hari itu akhirnya tiba. Udara begitu sunyi, seakan bumi pun berduka. Aku melangkah dalam dingin yang menelusup tulang, ke arah tempat di mana cahaya tak lagi menyentuhku. Ibuku menangis di seberang samudra. Ia terus bertanya kapan aku pulang. Terbayangkan sakitnya tangisan kerinduan Menahan semua sedih dalam hati terdalam.
“Bu, aku hanya bisa pulang, menuju rumah Tuhan.”
Dan ketika pagi datang, aku berjalan menuju takdir yang telah diputuskan. Mereka melilitkan kain di kepalaku,dan dalam gelap, aku berbisik:
“Tuhan, izinkan aku pulang dengan tenang.” (3)
—000—
CATATAN:
(1) Data dari organisasi buruh internasional menyebutkan bahwa ribuan pekerja rumah tangga perempuan mengalami kekerasan di tempat kerja, namun hanya sedikit yang mendapatkan perlindungan hukum.
(2) Surat terakhir Tuti Tursilawati yang ia tulis dari penjara tidak pernah dipublikasikan secara luas hingga eksekusinya dilakukan tanpa pemberitahuan kepada pemerintah Indonesia.
(3) Pada 29 Oktober 2018, Tuti Tursilawati dieksekusi di Arab Saudi. Hingga kini, kasusnya menjadi simbol lemahnya perlindungan bagi pekerja migran yang menjadi korban kekerasan.