February 11, 2026
Herry Tjahjono



Mereka bersorak saat menduga tubuh Jokowi ringkih.
Mereka berdansa menebar hoaks Jokowi kritis masuk rumah sakit, padahal mantan presiden itu sedang bergembira menemani cucunya liburan. Mereka bernyanyi sambil tetap menggenggam fitnah ijazah yang sudah lama dipatahkan fakta.
Mereka tak menunggu jawabanโ€“karena sesungguhnya, mereka tak sedang bertanya.

Mereka sedang sakit!
Bukan sakit yang bisa diukur dengan termometer atau scan otak, tapi sakit dalam batin yang menggumpal jadi kebencian patologis.

Dalam psikologi klinis, itu disebut ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด: seseorang memilih percaya pada kebohongan demi merawat identitasnya yang rapuh. Menurut ๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ด๐˜บ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ค ๐˜ˆ๐˜ด๐˜ด๐˜ฐ๐˜ค๐˜ช๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ, itu bagian dari ๐—š๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ช๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—บ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ปโ€“sejenis obsesi yang bertahan tak mau dikalahkan kenyataan, karena jika kenyataan diterimaโ€“egonya runtuh.

Dan saat kebohongan semacam itu dijadikan kompas hidup, mereka pun mengidap yang disebut ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ญ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜บ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ. Mereka bukan hanya menyebar hoaksโ€“mereka perlu hoaksโ€“karena tanpa itu, mereka akan kosong, runtuh, kehilangan pusat.

Lebih luas lagi, ini adalah patologi sosial:
Ketika kebencian dijadikan kultur, dan kegagalan dijadikan dalih untuk mencaci yang berhasil.
Erich Fromm menyebutnya sebagai ๐—ป๐—ฒ๐—ธ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฎ ๐˜€๐—ผ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—นโ€“kecenderungan mencintai kehancuran, menyembah kemarahan, dan membenci apa pun yang tumbuh dari harapan.
Dan orang-orang seperti ini,
akhirnya akan musnah bukan karena dikalahkan, tapi karena ditinggalkan sejarah.

Sejarah hanya menyimpan dua hal: kebesaran yang membangun, dan luka yang menyembuhkan. Bukan racun yang terus diludahkan dari mulut yang tak pernah bisa diam untuk mencintai.

Maka biarlah Jokowi libur bersama cucunya, sementara mereka terus menggali lubang untuk jiwa mereka sendiri. Sebab sekarang kita bukan hanya paham, tapi yakin:
Yang sejatinya sakit bukan Jokowi. Tapi merekaโ€“yang takut sembuh karena tak tahu harus hidup dengan jiwa yang bersih. Sampai pada titik ini: saya tidak sedang membela Jokowi, tapi ๐˜€๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ถ๐˜ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ!


#RefleksiTanpaKebencian
#PatologiKebohongan
#MenolakSakitBersamaMereka