February 9, 2026
Oleh Herry Tjahjono

Agam  seorang porter tidak mendaki untuk menaklukkan Rinjani.
Ia mendaki untuk menjaga seseorang agar tak jatuh lebih dalam, meski yang dijaga telah diam tanpa nyawa. Malam itu ia duduk di sisi Juliana Marins, pendaki dari Brasil  bukan hanya menjaga jasad, tapi menjaga harkat seorang manusia, agar tubuhnya tidak semakin tergelincir ke jurang sunyi, agar kematiannya tidak lebih menyakitkan dari yang telah terjadi.

Dan saat fajar menyingkap kabut, Agam bersama anggota tim lainnya  mengangkat tubuh Juliana, bukan seperti memanggul beban, tapi seperti membawa sebuah janji: bahwa rasa hormat terakhir pun harus ditunaikan dengan utuh.

Apa yang dilakukan Agam bukan sekadar keberanian.
Bukan pula kepahlawanan seperti yang biasa disanjung.
Ia hanya menjadi manusia, yang tahu bahkan jasad pun harus dilindungi dari luka berikutnya.

Agam mengajarkan kepada kita, bahwa kadang, puncak tertinggi bukanlah di ketinggian gunung, melainkan di dalam hati manusia.  Ketika malam itu ia memilih menjaga, bukan meninggalkan, menghormati, bukan mengabaikan.

Di Rinjani, langkah Juliana terhenti.
Tapi Agam, diam-diam, telah membawanya sampai ke puncak yang tak bernama  tempat di mana kemanusiaan berdiri paling tegak. Dan apa yang dilakukan Agam merupakan penghiburan terbesar bagi keluarga Juliana Marins.

Anda dapat membaca pada link berikut: