May 10, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

> Di Gaza, darah mengalir deras ke bumi.

Di dadaku, darah tetap diam—tetapi tidak pernah membeku.

Dunia menjadi saksi reruntuhan mereka,
tetapi siapa yang peduli dengan puing-puing di dalam tulang rusukku?

Dulu aku mencintai seperti kota tua
percaya bahwa badai hanyalah tamu yang lewat.

Tetapi aku lupa:
beberapa badai tidak pernah berakhir,
seperti kenangan tentangmu yang menyerang lagi dan lagi
bahkan saat kalender memudar menjadi debu.

Gaza runtuh di bawah roket,
hatiku hancur oleh satu kalimat:
“Maaf, kurasa kau tidak benar-benar peduli padaku.”

Itu bukan permintaan maaf—
itu adalah penghinaan paling elegan
ditulis dalam huruf Latin
tetapi berdarah dalam aksara Mesir kuno.

> Mereka bilang cinta adalah penyembuh,
tetapi mengapa dalam tubuhku ia menjadi infeksi abadi?
Apakah karena aku tidak punya kekayaan?
Atau karena puisi tidak dapat diubah menjadi beton dan baja?

Cintaku tidak pudar karena dosa,
tetapi karena keseimbangan yang tidak memadai.
Cintaku runtuh bukan karena kurangnya ketulusan,
tetapi karena dunia ini membenci
segala sesuatu yang tidak dapat dibeli.

Wanita itu pernah berkata:
“Aku menginginkan kebahagiaan, bukan perjuangan.”
Dan aku mengerti—
karena seseorang sepertiku hanya membawa doa dan luka,
bukan apartemen dengan lift.

Aku melihat rumah-rumah di Gaza runtuh,
dan aku iri pada mereka—
setidaknya mereka tahu siapa yang menjatuhkan bom.
Tapi aku?
Aku tidak pernah tahu kapan kau mulai menanam dinamit
di bawah kasur pembicaraan tengah malam kita.

Dulu kau adalah Palestina kecil
yang kucintai dengan segenap hatiku.

Sekarang kau telah menjadi penjajah dalam tubuh yang manis
dengan membawa lencana:
“Semuanya untuk masa depan.”

> Di dunia ini, cinta mati dalam pendingin ruangan.
Tidak butuh lilin—
hanya faktur.
Tidak ada lagi pelukan—
hanya sepeda motor baru dan feed Instagram yang dikurasi.

Aku ingin berteriak
seperti anak-anak di Gaza
yang kehilangan ibu mereka di bawah beton,
tetapi siapa yang akan mendengarkan?
Di sini, seorang pria yang menangis karena cinta
hanya lelucon lain yang dibagikan dengan kopi murah.

Mereka berkata:
“Miskin, tetapi masih memimpikan cinta.”

Tetapi aku tidak pernah meminta malam di hotel—
hanya sore yang tidak akan membuatku pulang sendirian.

Jika dunia ini dapat diubah menjadi sebuah puisi,
aku akan menjadikanmu bait terakhir yang hilang.

Tetapi sebaliknya,
kau memilih untuk menjadi lirik murahan
yang terus-menerus diputar di pusat perbelanjaan.

Sekarang luka lama berdarah lagi,
bukan dengan ledakan bom,
tetapi dari pemberitahuan sederhana:
“Dia lebih baik darimu.”

> Luka Gaza menjadi berita,
tetapi lukaku ditertawakan
oleh kopi instan dan teman-teman lama
yang tidak pernah percaya cinta suci bisa lebih berharga daripada gaji.

Jika aku boleh memilih tempat untuk mati,
bukan di ranjang rumah sakit—
tapi di sini, dalam puisi ini,
merangkul kenangan
yang tak pernah kau anggap cukup berharga
untuk diperjuangkan.

Jika ada tangga menuju surga,
aku akan menaikinya malam ini,
bukan untuk bertemu Tuhan,
tetapi untuk bertanya:
“Mengapa cinta yang paling murni
selalu kalah
dari rekening bank, pameran, dan diskon elektronik?”

Dan jika Tuhan menjawab:
“Karena manusia lebih percaya kasur
daripada suara hati,”
maka aku akan jatuh dari langit itu
dan hancur berkeping-keping—
seperti cinta kita,
yang bahkan tak pernah punya kesempatan untuk lahir,
tetapi telah mati
seribu kali.

Sumatera Barat, 2025