April 23, 2026

Menyulam Mitos, Menghidupkan Kemanusiaan Catatan ke dua: Awal atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar

Oleh Yusuf Achmad – Bilintention

Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Msgr. Seno Inno Ngutra, Pr., saya menemukan bukan sekadar sambutan, melainkan sebuah pernyataan keyakinan seorang kristen dan kebudayaan. Ia tidak hanya menyambut hadirnya buku ini sebagai karya akademik, tetapi sebagai “tanda zaman”—sebuah penanda spiritual bahwa mitos dan budaya lokal bukanlah warisan yang usang, melainkan cahaya yang terus menyala di tengah arus modernitas.

Msgr. Seno menyebut karya Prof. Pangemanan sebagai “buah refleksi panjang dan mendalam,” dan saya merasakan itu sejak lembar pertama. Ia menyadari bahwa mitos bukan sekadar cerita, tetapi “jalan terang” yang mengantar manusia kepada pemahaman akan dirinya, sesama, dan Sang Pencipta. Ia selanjutnya menyatakan jika dalam konteks Gereja Katolik, ini menjadi sangat relevan: keyakinan seorang kristen tidak tumbuh di ruang hampa, melainkan berakar dalam budaya, dalam narasi lokal, dalam simbol-simbol yang hidup di tengah masyarakat.

Saya terkesan dengan bagaimana Msgr. Seno mengangkat pentingnya pendekatan kontekstual dalam pewartaan keyakinan. Ia tidak memaksakan dogma, tetapi mengajak untuk menyelami makna yang sudah ada dalam budaya Tanimbar. Di sana, mitos Ahuf bukanlah ancaman bagi iman, melainkan jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam. Ini adalah bentuk inkulturasi yang sejati—bukan sekadar adaptasi, tetapi perjumpaan yang saling memperkaya.

Dalam pandangan beliau, buku ini bukan hanya untuk kalangan akademisi, tetapi untuk seluruh umat. Ia menyebutnya sebagai “sumbangan besar bagi gereja dan masyarakat,” dan saya sepenuhnya sepakat. Karena di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, kita membutuhkan narasi yang menyatukan. Narasi yang tidak hanya menjelaskan, tetapi menghidupkan. Narasi yang tidak hanya mengajar, tetapi menyentuh. Utamanya bagaimana membangun pola pikir keberagamaan dan saling menghargai.

Msgr. Seno juga menekankan bahwa karya ini lahir dari pengalaman panjang Prof. Pangemanan sebagai imam, dosen, dan peneliti. Ini penting. Karena tulisan yang lahir dari pengalaman spiritual dan intelektual yang utuh akan memiliki daya sentuh yang berbeda. Ia tidak hanya berbicara kepada pikiran, tetapi kepada hati.

Sebagai penulis yang juga menapaki jejak spiritual dan budaya, saya merasa bahwa kata pengantar ini adalah undangan. Undangan untuk melihat mitos bukan sebagai lawan keyakinan seorang kristen, tetapi sebagai cermin yang memantulkan cahaya ilahi dalam bentuk yang bisa dipahami oleh manusia. Dan dalam cermin itu, kita melihat wajah kita sendiri—dengan segala kerinduan, luka, dan harapan.

Kata pengantar ini bukan sekadar pembuka. Ia adalah pintu. Dan ketika saya melangkah masuk, saya tahu bahwa saya tidak hanya membaca buku. Saya sedang memasuki ruang suci, tempat di mana mitos dan keyakinan seorang kristen berdialog, dan manusia menemukan dirinya kembali.