Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Meraih Amal Yang Diridhai Allah Ta’ala

Tausiah Religi
Rasulullah ﷺ Bersabda :
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim) .
==============
KULIAH SHUBUH
Ahad , 30 Nopember 2025 (09 Jumadil Akhir 1447 H)

Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّد

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Setiap ummat Islam tentu menginginkan amalnya diterima dan diridhai oleh Allah.

Namun, bagaimanakah caranya?

Melalui kuliah Shubuh ini kami akan memetik penjelasan hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah mengenai apa saja yang harus kita persiapkan demi meraih tingkatan amal istimewa di sisi Allah Ta’ala.

Selain itu, Syekh Ibnu ‘Athaillah juga menekankan pentingnya bersandar pada Allah dan jangan pernah bangga dengan amal yang kita tunaikan.

Sebab bukan mustahil, orang yang bangga dengan amal kata’atannya akan terjebak pada sikap sombong dan takabur.
Merasa dirinya sudah bagus.

Dampaknya, mudah menyalahkan orang lain dimana sikap tersebut kembali menghapus keistimewaan amalnya.

Pertama marilah kita panjatkan sama-sama puji dan syukur ke hadirat Allah Ta’ala.
Dzat yang maha mengatur dan memberi nikmat kepada kita semua, terutama nikmat iman, islam, dan ihsan, sehingga pada kesempatan ini kita bisa sama – sama menunaikan shalat Shubuh.

Semoga shalat Shubuh kita senantiasa mendapat ridha Allah dan kelak menjadi saksi ketaatan kita kepada-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Besar Muhammad ﷺ.
Penghulu para nabi dan rasul, Pembawa rahmat ke seluruh alam, dan pemberi syafa’at kelak di padang mahsyar.

Shalawat dan salam juga semoga tercurah kepada keluarga dan para sahabatnya, tidak terkecuali kepada para tabi’in, para tabi’ut tabiin, hingga kepada kita yang tidak henti – hentinya berharap semoga kelak diakui ummatnya yang mendapatkan syafa’atnya.

Marilah kita sama – sama meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.
Sabab, orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa, bukan orang yang paling tinggi jabatan, bukan pula orang yang paling melimpah kekayaannya.

Ini artinya, muslim mana pun tanpa memandang pangkat dan status sosial, berkesempatan untuk meraih derajat taqwa dan menjadi hamba paling mulia di sisi Allah Ta’ala.

Allah sudah berfirman:
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan,”
(QS.an-Nahl : 97).

Melalui ayat ini, Allah sudah menjanjikan kehidupan yang baik bagi hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal shaleh.
Bahkan, Allah sudah menjanjikan balasan yang lebih baik dibanding dengan amal yang dikerjakan hamba – hamba-Nya.

Ini menjadi bukti bahwa, Allah sangat menghargai hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal shaleh.
Oleh sebab itu, mari kita sama-sama meningkatkan keimanan dan memperbanyak mengerjakan kebajikan.
Sebab, iman dan amal shaleh yang diridhai Allah yang akan menjadi bekal kita menghadapi alam akhirat kelak.

Meski amal menjadi bekal menghadapi kehidupan kekal di akhirat, tetapi kita jangan tergantung pada amal kita sendiri. Sebab, kunci meraih kebahagiaan akhirat bukan amal melainkan keridhoan Allah.

Tidak ada amal besar ketika tidak diridhai oleh Allah.
Tidak ada amal kecil ketika diridai Allah.
Inilah hakikat amal yang perlu dipahami oleh kita semua yang sedang berupaya mengerjakan amal shaleh.

Karena itu, alangkah pentingnya kita mengetahui hakikat amal yang kita kerjakan.
Tujuannya agar kita tidak sia-sia dalam mengerjakan suatu amal, tetapi jauh dari ridha Allah.
Hal ini tentu sangat merugikan.

Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Hikam-nya memberikan pedoman bagi kita semua, sebelum mengerjakan suatu amal, hendaknya hati kita penuh dengan makrifat, ketauhidan, dan ubudiyah kepada Allah.
Sesuai dengan bunyi ayat di atas yang mengistilahkan ketauhidan dan ubudiyah dengan istilah keimanan.

Ini artinya, syarat diterima dan diridhainya amal baik adalah keimanan. Sehingga manusia yang tidak beriman dan tidak bertauhid kepada Allah, tidak memiliki kesempatan diterimanya amal.

Selanjutnya, Ibnu ‘Athaillah menjelaskan kadar makrifat, ketauhidan, dan ubudiyah seorang salik atau orang yang sedang menempuh jalan akhirat ditentukan seberapa totalitas dirinya bersandar kepada Allah.

Pertanyaannya, mengapa bersandar kepada Allah menjadi ukuran makrifat, ketauhidan, dan ubudiyah seorang salik?
Sebab, orang-orang yang makrifat dan bertauhid akan selamanya melihat Allah.
Sementara orang yang sudah melihat Allah, maka akan selalu dekat dan musyahadah kepada-Nya.

Ia akan fana dan tidak akan melihat perkara lain selain Allah.
Sehingga yang terlihat dalam hatinya tak ada lagi selain Allah, aturan Allah, kekuasaan Allah, dan kehendak Allah.

Ketika terjerumus kepada satu kesalahan, orang yang bertauhid kepada Allah akan melihat kesalahannya itu sebagai perlakuan, hukuman, dan ketentuan Allah bagi hamba-Nya, yang tentunya menyimpan hikmah dan faidah yang harus disadari bahwa dirinya tidak maksum dan tidak terpelihara dari dosa.

Dimana kesalahannya itu harus menjadi perhatian agar tidak terulang, tidak boleh dilakukan lagi, serta harus hati-hati agar dirinya tidak terjerumus kepada kesalahan serupa.

Begitu pula ketika ada ketaatan yang keluar dari dirinya, maka ia tidak melihat dirinya unggul dan memiliki kekuatan.
Sebab, ketaatan itu semata-mata merupakan daya dan kekuatan dari Allah.
Sehingga dirinya tetap tenang terhadap takdir-takdir Allah. Hatinya tetap dalam cahaya-cahaya Allah.
Baginya, tidak ada perbedaan antara baik dan buruk, mudah dan susah.

Sebab, dirinya tenggelam dalam samudera ketauhidan, tetap khauf dan raja’ atau takut dan harap kepada Allah.
Khauf dan raja’-nya tetap sama dan berjalan bersamaan.
Ia tetap takut meskipun sudah melakukan ketaatan.
Dan ia tetap berharap rahmat Allah meskipun sudah melakukan kesalahan.

Demikian seperti yang telah dikemukakan dalam untaian hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah berikut ini:
“Di antara tanda bergantung pada amal adalah kurangnya harapan ketika tergelincir pada kesalahan.”

Bahwa orang-orang yang sudah sampai pada tingkatan makrifat akan selamanya bersama-sama dengan Allah, sebab dirinya yakin hanya Allah yang mengatur dan mengurus dirinya.
Yakin hanya Allah yang memberi kekuatan taat bagi dirinya.

Tidak heran jika lahir satu ketaatan dari dirinya, ia tidak menuntut pahala. Sebab, ia tidak melihat dirinya yang melakukan ketaatan tersebut.
Lagi pula, amal ibadah dirinya belum tentu diterima Allah. Mengapa harus menuntut balasan dari Allah?

Begitu pula ketika terjerumus pada satu keburukan, dirinya segera memperbaikinya sebab hukuman Allah tetap bagi orang yang berbuat salah.
Dosa harus segera ditaubati dan ditebus.

Dirinya tidak melihat siapa pun kecuali Allah, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, baik dalam keadaan taat maupun maksiat. Penglihatannya fokus pada Allah.
Takut hanya pada Allah dan harapannya hanya kepada rahmat Allah.

Sedangkan orang yang tidak makrifat akan menisbahkan amal dan perbuatannya kepada dirinya sendiri.
Oleh karena itu, ia akan menuntut bagian dari amal dan kebaikannya, yaitu ganjaran dan pahala.

Penyebabnya selain belum makrifat, dirinya masih bergantung pada amal.
Ia merasa tenang akan keadaan rohaninya.

Ketika terjerumus dalam kesalahan, ia akan berkurang harapannya.
Ketika melakukan ketaatan, ia akan berkurang ketakutannya.
Itu adalah bukti bahwa dirinya belum terlepas dari sebab, dan belum makrifat pada Allah.

Siapa pun yang melihat pertanda ini dalam dirinya, maka janganlah dirinya mengaku sudah memiliki kedudukan khusus di sisi Allah.
Sebaliknya, ia baru termasuk orang baik dari kalangan awam.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Namun, perlu diketahui bahwa melalui untaian hikmah di atas, Syekh Ibnu ‘Athaillah bukan berarti mengurangi semangat amal kita dan para penempuh jalan Allah, tetapi sebaliknya.
Ia hendak mendorong kita meningkatkan kualitas dan kuantitas amaliah ibadah.

Ia justru ingin mengalihkan sifat bersandar dan bergantung kita kepada selain Allah, seperti amal, maqam, keadaan ruhani, serta segala yang sudah dicapai, menjadi bersandar kepada Allah, rahmat, dan karunia-Nya.

Karena itu, orang- orang yang salah dan berdosa, masih bisa berharap akan rahmat dan pertolongan Allah.
Ia masih bisa menatap firman Allah yang menyatakan:
“Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, mengetahui apa yang kamu kerjakan,”
(QS. Asy-Syura : 25).

“Katakanlah Nabi Muhammad ﷺ:
‘Wahai hamba – hamba-Ku yang melampaui batas dengan menjhalimi dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya,” (QS. az-Zumar : 53).

Lagi pula, jika ditelusuri, untaian hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah di atas juga merupakan intisari dari sabda Nabi ﷺ. yang menyatakan:
“Tidak akan masuk surga seorang di antara kalian karena sebab amalnya.” Ditanya para sahabat, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya,”
(HR. al- Bukhari – Muslim).

Kembali lagi kepada untaian hikmah Syekh Ibnu ‘Atha’illah, mengapa kita begitu penting bersandar kepada Allah?
Sebab bukan mustahil, orang yang awalnya bangga kepada amal ketaatannya akan terjebak pada sikap takabur dan sombong.
Merasa dirinya sudah bagus.
Dampaknya, mudah menyalahkan orang lain dan menyalahkan amaliah orang lain.
Dan sebagainya.

Walhasil, jangan bangga dengan amal karena kita sudah mampu beramal.
Sebab, yang membawa kita kepada amal bukan daya dan kekuatan kita, tapi taufik, hidayah dan pertolongan Allah.
Yang mengantarkan seorang hamba ke surga bukan amalnya, melainkan ridha, rahmat, dan karunia Allah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ .

Namun bukan berarti kita tidak perlu beramal.
Kualitas dan kuantitas amal kita tetap harus ditingkatkan.
Yang harus diluruskan adalah bersandar kita pada amal, rasa senang dan bangga kita pada amal.
Justru bersyukurlah jika kita sudah mampu beramal.
Yakinlah itu semata pertolongan Allah.
Tetap kita mesti takut walau sudah bisa melakukan kataatan.
Juga tetap kita harus berharap meski kita sudah berbuat kesalahan.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bisa menjaga amal.
Tetap bersyukur meski kita sudah beramal.
Tetap ingat bahwa kekuatan amal semata-mata dari Allah.
Semoga Allah menerima dan meridhai segala amal kebaikan kita di akhirat, serta mengampuni kelengahan dan kesalahan kita, sehingga kita berhasil meraih ridha dan masuk surga-Nya.
Aamiin ya rabbal aalamiin.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
وعليكم السلام ورحمةالله وبركاته