May 10, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Mey Day, Mey Day—
katanya ini hari kau bersorak,
tapi apa yang kau terima selain gema kosong dari podium mewah,
dari lidah politisi yang lebih akrab dengan dasi
daripada karat mesin atau bau solar pagi?
Mereka bilang: Selamat Hari Buruh!
tapi upahmu tetap malu-malu,
sementara utangmu belajar mengeja namamu lebih fasih
daripada anakmu yang belum sempat kau sekolahkan penuh.

Mey Day, Mey Day—
waktu di pabrik menggigiti jari-jarimu,
jam lembur menelan hak-hakmu,
dan bos-bos bersulang bukan untukmu
tapi untuk grafik laba yang tumbuh dari nyeri punggungmu.
Seragammu rapi, hidupmu kusut,
cutimu janji, bukan kenyataan.
Kau diberi helm, tapi tak ada pelindung dari PHK sepihak.
Saat bicara hak, mereka menyebutmu pengganggu stabilitas—
padahal stabilitas siapa?

Mey Day, Mey Day—
demo jadi tontonan tahunan,
kamera hadir bukan untuk suaramu,
tapi untuk merekammu dilempari gas air mata.
Tuntutanmu lebih tua dari anakmu,
tapi tetap tak digubris oleh negeri
yang menyuruhmu bersyukur atas hidup pas-pasan
dalam kota yang dibangun di atas peluhmu.

Mey Day, Mey Day—
di atas panggung, ketua serikat berteriak “Hidup Buruh!”
tapi mereka hidup lebih nyaman darimu.
Mereka tandatangani MoU,
kau tandatangani absensi.
Ada yang naik pangkat dari deritamu,
sementara kau masih berdiri dalam barisan
yang tak pernah sampai ke pintu perubahan.

Mey Day, Mey Day—
kau bukan lagi buruh bermesin,
tapi jari-jarimu mengetik dari pagi ke pagi,
jadi “mitra” dalam sistem yang tak mengenal mitra sejati.
Tak ada jaminan, tak ada asuransi—
hanya rating, order, dan pemecatan otomatis.
Kau kerja dari rumah yang tak pernah kau miliki,
untuk mimpi yang tak pernah jadi milikmu juga.

Anakmu kau sekolahkan tinggi,
agar tak bernasib sama,
tapi ia kini bekerja kontrak tiga bulanan
dengan gaji setengah UMR dan kompensasi berupa “pengalaman”.
Tangga sosial terlalu licin,
sementara elit naik eskalator dengan tiket warisan.

Mey Day, Mey Day—
kau perempuan buruh,
bekerja dari fajar, di dapur, pabrik, ranjang,
tapi gajimu dipotong saat haid,
dan harga dirimu dipangkas saat bicara pelecehan.
Tubuhmu dibayar murah,
tapi menanggung beban yang mahal.

Di negeri sendiri kau diperas,
di negeri orang kau dibuang.
Remitansi dijadikan pujian,
tapi tubuhmu diperiksa seolah kau barang selundupan.
Kau disebut pahlawan devisa,
tapi tak satu pun undang-undang yang menjagamu dari pemilik budak baru.

Mey Day, Mey Day—
petani pun buruh yang tak disebut buruh,
menanam nasi, makan mi instan,
mengurus kebun tapi sumurnya kering oleh tambang.
Mereka sebut kau pahlawan ketahanan pangan,
tapi kau sendiri tak tahan lapar.

Pasarmu dikendalikan tengkulak,
traktormu diarak di kota,
padahal di desamu, ia sudah disita.
Negara sibuk ekspor dan impor beras,
tapi lupa siapa yang menanam benih.

Mey Day, Mey Day—
kau dengar sirene, tapi bukan tanda diselamatkan,
itu cuma ilusi,
pengalihan dari fakta bahwa perbudakan terus dijalankan
dengan bahasa baru dan nama-nama keren.

Kau diberi hari libur,
agar lupa 364 hari lain yang menindasmu.
Kau diberi panggung,
agar tak merebut kursi mereka.
Kau diberi mimpi,
agar tak bangun dan menyadari dunia ini
dibangun untuk menjagamu tetap di bawah.

Tapi kau mulai bangun.
Kau tahu: sistem ini bukan rusak—
ia memang dirancang untuk merusakmu.
Dan kalau dunia ini tak berpihak padamu,
kau punya hak penuh untuk mengguncangnya.

Mey Day, Mey Day—
bukan seruan putus asa,
tapi kode dari kapal bernama rakyat
yang mulai bocor oleh kerak keserakahan.
Dan jika para nakhoda tak mau ubah haluan,
kau bukan lagi penumpang—
kau jadi gelombang.

Karena sejarah tak ditulis oleh yang diam,
tapi oleh tangan-tangan buruh
yang akhirnya memilih menggenggam batu
daripada terus menadah tangan kosong.

Mey Day, Mey Day—
ini hari darurat kemanusiaan,
bukan perayaan.
Dan tak akan selesai
dengan spanduk, panggung, atau janji manis—
tapi dengan keadilan
yang bekerja tanpa cuti.

Sumatera Barat, 1 Mei 2025.