Nenengisme di Antara Budaya Omon-Omon
Oleh: Novita Sari Yahya
–
Seberapa progresif satu bangsa terlihat dari progresivitas pemikiran dan tindakan perempuan
Kenapa harus perempuan yang menjadi ukuran progresivitas perubahan? Karena seperti pernyataan Kartini bahwa marilah mulai membangun peradaban. Ajarkan ibu-ibu menjadi cerdas, cakap dan pintar. Maka mereka akan mengajarkan peradaban pada komunitasnya.
Penampilan ibu-ibu dalam berbagai organisasi perempuan yang dimulai dari acara pembukaan pidato dan diakhiri sesi foto bersama dan makan-makan adalah contoh dari Ibuisme negara menurut Julia Suryakusuma, Ibuisme negara adalah disertasi Julia Suryakusuma yang diterbitkan dalam buku Ibusme negara tahun 2011.
Penampilan perempuan
Dalam konstruksi gender Ibuisme dilambangkan dengan kelompok borjuis yang punya kelas dengan gaya penampilan seperti ibu pejabat zaman Orba.
Nenengisme adalah gerakan sosial dari perempuan bernama Neneng yang viral di Facebook.
Karena Nenengisme gerakan yang memberikan contoh nyata bagaimana perempuan akar rumput mengorganisir komunitasnya untuk melakukan kerja nyata dan bermanfaat bagi komunitas.
Ketika Neneng menunjukkan apa artinya bekerja nyata membangun peradaban di antara komunitas ibu-ibu ketika mahasiswa sibuk berdebat dan argumentasi tentang sosialisme dan bagaimana mesin industri kapitalisme bekerja duduk di kafe yang pemilik kafe kelompok kapital.
Ketika ibu-ibu sibuk dengan acara seremoni berpakaian kebaya atau baju kurung menenteng tas harga jutaan, bahkan ada yang ratusan juta berpidato tentang pemberdayaan perempuan.
Neneng dari kelas sosial bawah memberikan contoh apa artinya bekerja untuk komunitas tanpa banyak omon-omon.
Omon-omon pejabat dan istri pejabat baik pusat dan daerah hari ini sudah sangat memekakkan telinga.
Omon-omon mereka bagaikan cipratan air ludah yang meludahi muka perempuan dan anak yang tergusur dari tanahnya karena proyek strategis dengan jargon pembangunan.
Melayani orang miskin tidak harus membuat kita hidup dalam kemiskinan tapi memberikan contoh bagaimana kesetiakawanan sosial terbentuk dengan rasa empati.
Menenteng tas ratusan juta dengan pakaian jutaan kemudian berpidato tentang kemiskinan dan pemberdayaan perempuan merupakan tindakan yang tidak etis. Bahkan hanya omon-omon saja.
Kesederhanaan gerakan Nenengisme dengan menyamakan antara ucapan, tindakan dan pemikiran adalah bentuk integritas dan konsistensi.
Ketika kita menoleh ke belakang dari perjalanan berbangsa dan bernegara, maka Kartini yang sesungguhnya adalah seorang perempuan yang sederhana yang bertahan, bertarung dan berjuang baik bagi dirinya dan komunitasnya.
Perempuan hebat adalah mereka yang bertarung, bertahan dan berjuang bukan sekadar tampil memberikan pidato dan kesannya menceramahi yang sementara hartanya di dapatkan dari hasil perampokan suaminya terhadap pajak rakyat.