May 26, 2026

BPI dan Gereja Bersinergi Siapkan SDM Tanimbar

Screenshot_20260526-183335

Pendeta Zenas: “Edukasi Migas Sangat Dibutuhkan Jemaat”, Dialog Hangat di Kantor Klasis Tanimbar Selatan
http://suaraanaknegerinews.com | Suasana hangat penuh nuansa kekeluargaan terasa di Gereja Protestan Maluku, Kantor Klasis Tanimbar Selatan, Jalan Mathilda Batlayeri, Saumlaki, Selasa, 26 Mei 2026. Di ruang sederhana itu, pertemuan silaturahmi antara manajemen PT Bangkit Prestasi Insani bersama Ketua Klasis Tanimbar Selatan, Zenas Yohanis Slarmanat, tidak sekadar membahas pelatihan kerja.

Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi ruang dialog tentang masa depan putra-putri Tanimbar di tengah hadirnya industri migas dan perubahan besar yang mulai mengetuk pintu daerah kepulauan itu.

Penyiapan SDM Tidak Bisa Terlambat
Mewakili manajemen PT BPI, F. Noya menegaskan bahwa kehadiran perusahaan mereka merupakan bagian dari kerja sama bersama pemerintah daerah untuk menyiapkan sumber daya manusia lokal melalui pelatihan dan sertifikasi berbasis standar industri migas. “Penyiapan SDM ini perlu waktu. Dia tidak bisa tunggu investasi berjalan dulu baru kita siapkan tenaga kerja. Kalau terlambat, kita akan tertinggal dan tenaga dari luar akan mengisi tempat-tempat yang seharusnya diisi putra-putri Tanimbar,” ujar F. Noya.

Ia mengatakan, PT BPI mendapat kontrak selama tiga tahun untuk membantu Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar menyiapkan SDM melalui program blending certification yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan masyarakat.

Gereja Dinilai Punya Peranan Besar
Menurut F. Noya, pengembangan SDM bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk lembaga keagamaan.
“Gereja justru punya peranan besar. Kita membina manusianya. Paling tidak memberikan informasi dan edukasi kepada jemaat,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa hingga kini sudah lebih dari 2.000 putra-putri Tanimbar mendaftarkan diri dalam program pelatihan tersebut.

Lonjakan peserta bahkan membuat pelayanan administrasi seperti pengurusan kartu kuning dan NPWP mengalami antrean panjang di sejumlah instansi pemerintah. “Kami akhirnya memutuskan memperpanjang waktu pendaftaran sampai bulan Juni supaya masyarakat punya kesempatan lebih luas,” jelasnya.

Pemetaan Kompetensi dan Program Magang
BPI juga mulai melakukan pemetaan kompetensi tenaga kerja berdasarkan empat tingkatan pekerjaan, mulai dari sektor dasar seperti cleaning service, katering dan keamanan, hingga operator industri LNG di terminal darat maupun lepas pantai.

F. Noya menegaskan, seluruh proses dilakukan secara profesional dan transparan tanpa praktik titipan ataupun diskriminasi. “Kami lihat kemampuan mereka di mana. Kalau kurang, kita upskill. Kalau punya potensi, kita arahkan supaya bisa bekerja sesuai bidangnya,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa BPI telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan dan industri di luar daerah, termasuk akademi maritim di Cilacap, pusat pelatihan di Yogyakarta, Jakarta hingga Bandung, serta program magang di Kilang LNG Bontang.

Menurutnya, langkah itu dilakukan agar anak-anak Tanimbar tidak hanya memiliki sertifikat, tetapi juga pengalaman industri sebelum kembali bekerja di daerah sendiri.
“Supaya nanti waktu mereka datang ke Tanimbar, mereka tidak buta atau nol pengalaman,” katanya.

Belajar dari Kegagalan Program Sebelumnya
F. Noya turut menyinggung kegagalan sejumlah program pelatihan sebelumnya yang dinilai belum sesuai standar industri migas. “Kita belajar dari pengalaman sebelumnya. Ada yang dikirim ke Cepu dan Batam, tapi ternyata belum spesifik dengan standar migas,” ujarnya.

Ia menilai penyiapan SDM harus benar-benar terintegrasi dengan kebutuhan industri agar masyarakat lokal mampu bersaing secara profesional.

Gereja Soroti Minimnya Edukasi Migas
Sementara itu, Ketua Klasis Tanimbar Selatan, Pendeta Zenas Yohanis Slarmanat, mengaku selama ini masyarakat gereja masih minim pemahaman mengenai industri migas dan dampaknya terhadap Tanimbar.
“Cerita-cerita di luar itu banyak sekali, tetapi masyarakat sendiri tidak tahu migas itu apa dan apa yang harus disiapkan,” katanya.

Ia menilai kurangnya transparansi dan edukasi menjadi persoalan utama yang selama ini dirasakan masyarakat.

Karena itu, pihak gereja menyambut baik langkah BPI yang mulai membuka ruang sosialisasi secara langsung kepada masyarakat dan jemaat gereja. “Kalau penjelasan seperti ini, kami bisa sampaikan kembali kepada jemaat supaya mereka paham tahapan dan kebutuhan yang harus dipersiapkan,” ujar Pendeta Zenas.

Jangan Kehilangan Identitas Spiritual
Pendeta Zenas menegaskan bahwa gereja mendukung setiap langkah yang membuka peluang masa depan bagi generasi muda Tanimbar, namun tetap mengingatkan pentingnya menjaga identitas spiritual dan budaya di tengah arus perubahan industri.
“Kita harus mampu mempersiapkan diri lewat pendidikan dan spiritual keagamaan supaya ketika migas beroperasi kita bisa menjawab tantangan tanpa kehilangan identitas sebagai orang Kristen,” tegasnya.

Menurutnya, perubahan besar akan membawa banyak orang dari luar daerah bahkan luar negeri masuk ke Tanimbar. Karena itu, kualitas SDM dan kekuatan moral masyarakat menjadi fondasi penting untuk menghadapi masa depan. “Dalam perspektif iman Kristen, ketika kita bekerja, kita melayani. Tingkatkan kualitas kerja supaya orang bisa melihat siapa kita sebagai orang Kristen,” katanya.

Harapan Bersama untuk Anak Tanimbar
Di akhir pertemuan, kedua pihak sepakat bahwa kolaborasi antara gereja, pemerintah dan dunia industri menjadi kunci penting agar masyarakat Tanimbar tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Silaturahmi itu pun ditutup dengan semangat bersama untuk terus membangun edukasi, transparansi dan kesiapan SDM demi menyongsong masa depan industri migas di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.(jk)