May 25, 2026

Paulus Laratmase Mengajak Publik Kembali Berfilsafat

Screenshot_20260525-095522

Paulus Laratmase Bicara Makna Manusia di Tengah Dominasi AI
http://suaraanaknegerinews.com | Papua – Di tengah laju perkembangan teknologi yang semakin agresif, ketika kecerdasan buatan perlahan mengambil alih banyak ruang kehidupan manusia, akademisi sekaligus penulis Paulus Laratmase mengingatkan pentingnya filsafat sebagai fondasi berpikir kritis di era digital. Senin, 25 Mei 2026.

Melalui buku Berfilsafat di Era AI yang ditulis bersama Budhy Munawar-Rachman, Paulus menghadirkan refleksi mendalam mengenai posisi manusia di tengah dunia yang dipenuhi algoritma, data, dan otomatisasi teknologi. “Di tengah dunia yang semakin dipenuhi oleh algoritma, data, dan kecerdasan buatan, apa arti menjadi manusia?” demikian pertanyaan utama yang menjadi ruh buku tersebut.

Buku ini tidak sekadar membahas perkembangan teknologi modern, melainkan mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan masa depan yang terus berubah.

Filsafat Tidak Boleh Menjadi Menara Gading
Dalam buku itu, Paulus Laratmase dan Budhy Munawar-Rachman mencoba menghadirkan filsafat sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Filsafat tidak lagi ditempatkan hanya di ruang kuliah atau diskusi akademik, melainkan hadir dalam percakapan publik, pengambilan keputusan pribadi, hingga tanggung jawab sosial manusia modern.

Keduanya menilai bahwa perkembangan teknologi saat ini tidak hanya menciptakan alat bantu kehidupan, tetapi juga perlahan membentuk cara manusia berpikir, merasakan, bahkan memahami realitas.
“Teknologi tidak hanya menjadi alat, tetapi juga membentuk cara kita berpikir, merasakan, dan berelasi,” tulis penulis dalam narasi buku tersebut.

Melalui pendekatan yang reflektif namun tetap membumi, buku ini mempertemukan pemikiran filsafat klasik seperti Plato dan Aristoteles dengan tantangan kontemporer yang lahir dari era kecerdasan buatan.

Pembaca diajak memahami bahwa filsafat bukan sekadar warisan intelektual masa lalu, melainkan kekuatan yang dapat membebaskan manusia dari cara berpikir yang mekanis dan serba instan.

Kegelisahan Zaman Digital
Buku Berfilsafat di Era AI lahir dari kegelisahan terhadap perubahan zaman yang bergerak cepat. Di tengah derasnya arus informasi dan dominasi teknologi digital, manusia dinilai semakin berisiko kehilangan ruang refleksi.

Paulus Laratmase melihat kondisi tersebut sebagai tantangan besar bagi kehidupan modern, terutama ketika mesin mulai mampu meniru banyak kemampuan manusia. “Pada akhirnya, di era ketika mesin bisa meniru hampir segala hal, manusia perlu kembali bertanya tentang dirinya sendiri,” menjadi salah satu pesan penting yang mengalir dalam buku itu.

Buku ini juga menghidupkan kembali gagasan bahwa berpikir kritis merupakan bagian penting dari kemanusiaan. Filsafat diposisikan bukan sebagai teori yang jauh dari realitas, tetapi sebagai cara memahami kehidupan secara lebih jernih dan mendalam.

Tentang Penulis
Paulus Laratmase diketahui aktif sebagai dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Biak-Papua sejak tahun 2004. Ia juga mengajar filsafat keperawatan serta aktif menulis di berbagai media daring nasional dan daerah.

Sementara Budhy Munawar-Rachman merupakan dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara yang dikenal aktif dalam isu toleransi, dialog antaragama, dan pemikiran ekoteologi. Ia juga menjabat Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP) Universitas Paramadina.
Buku tersebut diterbitkan oleh penerbityad.com⁠.(rls:jk)