Oleh: Rizal Tanjung
–
Di tepi sunyi yang tak pernah usai,
kupungut kembali serpihan malam
yang pernah kita jadikan jendela,
tempat cinta bersandar seperti burung kecil
yang tak tahu angin akan mencabut sayapnya.
Kau datang sebagai musim
yang menjanjikan harum melati di ujung hujan,
tapi aku lupa bahwa setiap harum
selalu membawa takdir layu
yang diam-diam tumbuh di balik kelopak.
Ada luka yang tak berbunyi,
berjalan di antara detak jantung
seperti bayangan yang kehilangan tubuhnya.
Dan aku,
seperti gelombang mencari pantai yang tak sudi menerima,
terus kembali, memecah diri,
menjadi buih yang memohon di ujung karang.
Cintamu adalah nyala
yang menghanguskan rumah kecil dalam dadaku,
membiarkan asapnya naik
ke langit yang tak mau menjawab.
Aku menulis namamu
pada abu yang beterbangan,
sebab kertas telah lama habis
menampung segala rindu yang tak sempat pulang.
Kadang, aku merasa
bahwa kita adalah sepasang bintang
yang jatuh terlalu cepat,
dilahirkan untuk bersentuhan satu kali
lalu berpisah selamanya
di antara jurang malam yang bisu.
Kau menanamkan harapan
di ladang kering dalam diriku,
tapi matahari terlalu jauh,
hujan terlalu segan,
dan aku terlalu ingin percaya
bahwa benih itu akan tumbuh
meski telah kutahu
akar-akar cinta kita hidup dari kesedihan.
Aku pernah menjadi sungai,
membawamu dalam arus yang lembut,
mengantar setiap mimpi
hingga ke muara penerimaan.
Namun kau berubah menjadi batu
yang dijatuhkan ke kedalamanku—
lalu tenggelam
tanpa pamit,
tanpa sisa riak.
Malam-malam itu panjang,
lebih panjang dari jarak
antara kehilangan dan pengampunan.
Di setiap pekatnya,
aku mendengar suaramu
seperti doa yang dipatahkan Tuhan
sebelum mencapai langit.
Betapa perih mencintai sesuatu
yang perlahan menjelma angin:
tidak bisa dipeluk,
tidak bisa digenggam,
tapi tetap menggetarkan
seluruh tubuhku yang rapuh.
Aku bertanya pada bulan,
mengapa ia terus mengintip hatiku
seolah ingin menuliskan rahasia
yang tak berani kuucapkan.
Ia hanya tersenyum pucat
dan berkata,
“Cinta itu adalah luka
yang kau rawat sendiri,
bahkan ketika yang menyakitimu
adalah harapanmu sendiri.”
Di antara gemerisik malam,
aku mencoba menanam ulang suaramu
di taman sunyi yang kupahami sebagai nasib.
Namun suara itu tumbuh
menjadi duri mawar,
menusuk jari setiap kali kurindukan.
Aku belajar
bahwa mencintai bukanlah memiliki,
melainkan keberanian
untuk terus hidup
dengan ruang kosong
yang pernah diisi seseorang
dengan begitu lembut,
lalu pergi
seolah tak pernah singgah.
Cinta kita,
barangkali adalah kapal
yang tak sempat berlayar,
tali-talinya putus
dalam badai yang kita ciptakan sendiri.
Namun sampai hari ini,
aku masih mendengar deru lautnya
di telingaku yang letih—
seperti panggilan
yang tak pernah berhenti menagih pulang.
Aku telah menulis ribuan bait
tentangmu di tubuh malam,
tapi angin mencurinya
satu per satu,
menyisakan hanya detak jantung
yang menua dalam rindu.
Jika kelak kau membaca sunyiku
pada kelopak fajar,
ketahuilah:
di sanalah aku mengubur segala
yang tak mampu kusampaikan,
dan menanam harapan kecil
bahwa suatu hari
cintaku yang terluka
akan tumbuh kembali
menjadi cahaya yang pasrah.
Namun sebelum itu datang,
biarkan aku menangis
dalam diam yang berisik,
menyelam ke dalam kenangan
seperti penyair patah
yang mencari kata
untuk mengganti kehilangan.
Aku menutup mata,
mendengar kembali nyanyian cinta
yang patah di tengah nadanya.
Di situ,
di antara sisa-sisa harapan
yang belum mau mati,
aku masih melihatmu
menari dalam cahaya kecil—
seperti lilin terakhir
yang bertahan
meski angin telah lelah memadamkannya.
Dan inilah lagu terakhirku,
lagu paling pelan
yang takkan pernah kuselesaikan:
Bahwa aku mencintaimu
dengan luka yang tak memilih sembuh,
dengan rindu yang memilih terus hidup,
dan dengan hati yang tetap berdiri,
meski telah berkali-kali
dipatahkan namamu.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2024