Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Catatan Kritis Paulus Laratmase atas Tulisan Stef Tokan: Regenerasi yang Mandek dan Masa Depan Black Sweet di Era Keemasan yang Memudar

Tadi pagi, saya membuka web suaraanaknegerinews.com, saya menemukan arsip tulisan abang Stef Tokan dengan judul: NOSTALGIA BERSAMA BLACK SWEET: BERANI BERTARUNG DI JAKARTA”. Tulisan ini diupload pada tanggal 29 Desember 2023.

Judul di atas merupakan ekpresi seorang Paulus Laratmase yang sudah puluhan tahun hidup dan tinggal di Papua. Itu sebabnya semoga judul dimaksud tidak profokatif dalam interpretasi yang bias bagi pembaca.

Tulisan Stef Tokan yang mengisahkan perjalanan panjang Black Sweet Club Band memberikan gambaran historis yang kaya tentang dinamika sebuah kelompok musik Papua yang berani bertarung di Jakarta sejak awal 1980-an. Stefanus Tokan berhasil merangkum detail-detail penting yang menunjukkan betapa fenomenalnya Black Sweet sebagai band Papua yang bersama Black Brothers sebelumnya, membuktikan bahwa anak-anak dari wilayah timur mampu menembus pusat industri musik Indonesia. Namun, di balik kekayaan narasi historis itu, sejumlah persoalan konseptual dan kultural yang lebih mendasar luput dibedah secara kritis. Dua hal yang patut dikemukakan ialah persoalan regenerasi dan hilangnya kontemporaritas Black Sweet dalam lanskap musik Indonesia hari ini.

Tulisan ini menyajikan catatan kritis terhadap narasi Stef Tokan, dengan membaca kembali posisi Black Sweet  sebagai entitas nostalgia dan  representasi dari kegagalan struktur industri musik Papua dalam membangun kesinambungan generasi. Dari perspektif ini, perjalanan Black Sweet tidak hanya patut dikenang, tetapi juga dievaluasi untuk membayangkan kembali masa depan musik Papua yang inklusif, regeneratif, dan berkelanjutan.

Minimnya Regenerasi: Warisan yang Tidak Terwariskan

Salah satu kritik utama yang dapat diajukan terhadap tulisan Stef Tokan adalah absennya pembahasan tentang regenerasi musik. Padahal, bagi sebuah band legendaris, warisan musikal hanya akan bermakna jika mampu dijalankan oleh generasi-generasi berikutnya. Black Sweet telah mengukir sejarah, itu benar. Namun sejarah yang tidak melahirkan penerus adalah sejarah yang berhenti di dirinya sendiri.

Ketidakterhubungan antara Black Sweet dan Musisi Muda Papua–Maluku

Sejak dekade 2000-an, musik Papua mengalami kebangkitan baru melalui genre reggae-Papua, hip-hop, dan pop daerah. Namun gelombang baru ini tumbuh tanpa hubungan organik dengan generasi pendahulunya. Black Sweet, sebagai ikon besar, tampaknya gagal membentuk sistem mentoring, sekolah musik komunitas, atau wadah regeneratif yang memungkinkan pemindahan pengetahuan dari generasi senior ke junior.

Kita memiliki contoh berbeda dari daerah lain.

God Bless, misalnya, berhasil mendorong munculnya banyak band rock muda melalui panggung-panggung kolaboratif dan dukungan moral para seniornya. Begitu pula Slank yang melahirkan ratusan band dari “jalan Taman Potlot.” Tradisi “mengangkat” musisi muda menjadi bagian dari budaya musikal.

Sebaliknya, Black Sweet berkembang dalam ruang kultural yang terputus. Banyak anak muda Papua dan juga anak-anak Maluku yang lahir dan besar di Papua, tumbuh tanpa akses pada tradisi musikal yang pernah menempatkan Papua sebagai poros rock and roll Indonesia. Warisan Black Brothers dan Black Sweet berhenti pada kaset-kaset lama; ia tidak hidup dalam tubuh generasi baru.

Regenerasi, Bukan Menggantikan Personel

Regenerasi yang dimaksud, bukan persoalan mengganti pemain ketika ada anggota yang wafat atau pensiun. Regenerasi adalah proses distribusi pengetahuan, nilai, estetika, dan disiplin bermusik kepada generasi muda.

Black Sweet adalah contoh band yang besar melalui kerja keras, disiplin, dan etos musikal yang tinggi. Namun karakter ini tidak dilesatkan ke generasi muda. Tidak ada program “Black Sweet School of Music”, tidak ada festival berkelanjutan yang membawa nama Black Sweet, tidak ada residensi musik, dan tidak ada dokumentasi kurikuler tentang komposisi atau teknik mereka. Maka, meskipun lagunya abadi, warisan institusionalnya rapuh.

Konteks Sosial Mengapa Regenerasi Mandek

Ada beberapa faktor mengapa regenerasi hampir tidak terjadi: (1) Ruang industri musik Papua yang masih sporadis, tidak memiliki institusi rekaman besar, panggung tetap, atau jaringan sponsor jangka panjang. (2)Transisi teknologi dari kaset ke digital tidak dikelola oleh musisi senior Papua, sehingga mereka kehilangan basis distribusi. (3)Keterputusan antar-generasi karena banyak musisi generasi 1980–1990 berkarier di luar Papua dan tidak kembali membangun basis lokal.

Akibatnya, generasi muda Papua belajar musik bukan dari sejarahnya sendiri, melainkan dari arus global digital. Mereka hafal Bob Marley, bukan Steven Letsoin. Mereka meniru Bruno Mars, tetapi tidak pernah mendengar “Kie Raha”.

Black Sweet sebagai Nostalgia, Kini Kurang Terdengar?

Stef Tokan menampilkan Black Sweet sebagai legenda yang berjaya. Itu benar adanya. Namun ia melewatkan kenyataan bahwa dalam dua dekade terakhir, Black Sweet lebih berfungsi sebagai simbol nostalgia ketimbang entitas kreatif yang relevan dalam pasar musik kontemporer.

Hilangnya Produksi Karya Baru yang Berpengaruh

Pasar musik hari ini dikendalikan oleh distribusi digital (Spotify, TikTok, YouTube), estetika musik yang lebih ringan dan dance-oriented, visualitas kuat, keharusan manajemen media sosial, dan kolaborasi lintas-genre.

Black Sweet, sebagai kelompok yang lahir dari era analog, tampak belum melakukan reposisi estetika dan teknologi untuk masuk ke publik generasi Z dan milenial. Ketika produksi karya baru berkurang dan tidak muncul dalam lanskap digital, band apa pun, tidak peduli sebesar apa sejarahnya akan meredup.

Panggung yang Berkurang dan Minimnya Strategi Digital

Hari ini, siapa yang menemukan Black Sweet di TikTok? Siapa yang mengenal karya mereka lewat rekomendasi algoritma Spotify? Nyaris tidak ada.

Band-band legenda lain melakukan digitalisasi arsip: God Bless masuk ke semua platform streaming; Panbers mendigitalisasi musiknya; Koes Plus dibuatkan remaster; Slank aktif memproduksi konten digital. Black Sweet tampaknya tertinggal dalam transformasi ini sehingga jejak digital mereka lemah, mengakibatkan mereka tidak hadir dalam percakapan musik nasional kontemporer.

Identitas yang Tak Lagi Menyeluruh

Black Sweet identik dengan brass section dan rock progresif tahun 80-an. Dalam konteks hari ini, genre itu tidak lagi dominan, meski bukan berarti tidak ada ruang. Yang kurang adalah pembaruan estetika yang memungkinkan Black Sweet berdialog dengan musik modern tanpa kehilangan identitasnya. Tanpa proses inovasi estetis, musik mereka hanya hidup sebagai memori kolektif generasi tua.

Prospek Masa Depan Black Sweet: Antara Warisan, Inovasi, dan Kurikulum Musik Papua

Prospek masa depan Black Sweet dapat dilihat dari dua jalur:

(1) jalur warisan (legacy) dan
(2) jalur kontemporarisasi (relevansi baru).

Jalur Warisan: Membentuk Institusi Regeneratif

Jika Black Sweet ingin tetap bermakna dalam sejarah musik Indonesia, mereka perlu memposisikan diri sebagai: institusi pendidikan musik Papua, penjaga tradisi rock-Papua, mentor bagi musisi muda, kurator festival musik Papua–Maluku, dan penjaga arsip sejarah musik timur.

Dengan demikian, mereka tidak hanya merayakan ulang tahun, tetapi mewariskan pengetahuan musikal yang sangat berharga, teknik brass section, aransemen rock-progresif timur, tradisi harmoni vokal Papua, hingga disiplin kerja band profesional. Tanpa institusionalisasi warisan, legenda akan tinggal legenda.

Jalur Kontemporarisasi: Menjadi Relevan Kembali

Black Sweet masih memiliki peluang menjadi relevan, meski bukan sebagai band yang bersaing dengan musisi muda, melainkan sebagai ikon lintas-generasi. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh: (1) Merilis remaster digital seluruh album untuk Spotify, Apple Music, YouTube Music. (2) Membuat kolaborasi dengan musisi muda Papua seperti Edo Kondologit, Yopie Latul generasi baru, Justice Pukuafu, atau rapper-rapper Papua. (3) Menggelar pentas “Black Sweet Reunion dan Generation Show” bersama band-band muda Papua–Maluku. (4) Mengadakan proyek “Black Sweet Reimagined”, yakni para produser muda melakukan remix dan reinterpretasi lagu-lagu klasik mereka. (5) Membuat dokumenter sejarah Black Sweet untuk publik nasional.

Ini akan menghubungkan Black Sweet dengan dunia hari ini dan  bukan saja dengan masa lalu.

Tugas Negara dan Lembaga Kebudayaan

Musik Papua dan Maluku selama ini hanya menonjol ketika ada momen politis, konflik, Otsus, atau kampanye nasionalisme. Padahal musik adalah fondasi identitas. Maka negara, pemerintah daerah, dan lembaga kebudayaan harus: membangun arsip musik Papua, mendukung festival musik lintas-generasi, menyusun kurikulum musik daerah, memberi beasiswa kepada musisi muda, membangun studio rekaman komunitas, dan memperkuat kelembagaan musik lokal.

Black Sweet dapat berperan sebagai motor perubahan jika mereka mau membuka diri terhadap transformasi ini.

Konklusi

Black Sweet adalah legenda. Dan itu tidak terbantahkan. Mereka telah menandai satu fase sejarah musik Indonesia ketika anak-anak Papua mampu menaklukkan Jakarta dengan keberanian, etos kerja, dan musik berkualitas. Namun legenda tidak boleh dibiarkan membeku dalam romantisme nostalgia.

Di titik ini, pertanyaan kritisnya adalah: Apakah Black Sweet ingin hanya dikenang, atau ingin terus dikenang?

Menjadi legenda itu mudah.
Tetapi menjaga agar legenda tetap hidup di tangan generasi baru, itu jauh lebih sulit.

Tanpa regenerasi yang sistematis dan tanpa keberanian berinovasi dalam lanskap digital, Black Sweet hanya akan menjadi cerita tentang masa lalu. Tetapi jika mereka membuka diri untuk menjadi institusi warisan sekaligus ikon kontemporer, maka mereka dapat menjadi fondasi kebangkitan baru musik Papua dan Maluku. Kala itu, Black Sweet bukan saja sebuah  nostalgia, melainkan kekuatan budaya yang hidup.

Black Sweet pernah berani bertarung di Jakarta. Kini waktunya mereka bertarung melawan lupa.