Nyanyian dari Tubir Tanimbar
Kisah Yuliana Ratuanak
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di tepian Timur yang sering dilupakan peta, terhampar Kepulauan Tanimbar—sebuah gugusan karang dan laut tua yang bernafas dalam keheningan. Angin di sini bukan sekadar hembusan udara; ia adalah suara leluhur, membisik mantera di ujung rambut, mengabarkan doa halus yang merayapi lamun lautan.
Dari kelambu pasir dan rintihan malam terlahir Yuliana Ratuanak—bukan sekadar manusia, melainkan putri laut dan doa. Ia muncul dari pasir yang dibuai mimpi, dari karang yang menanti ombak dengan kesetiaan, dari malam yang lupa lelap.
Tatkala Yuliana berjalan, tanah merunduk takut retak. Pada tawanya, awan mendekat saling berpelukan agar mentari bisa menatapnya cerah. Ia tak bertanya tentang ayahnya, tak menggugat langit. Ia duduk di ujung dermaga, berbicara dengan nuri-nuri muda dan ikan-ikan kecil, menyanyikan lagu tanpa bahasa—lalu semua makhluk mengerti.
Desa menyebutnya anak Tuhan—bukan karena ia ajaib, melainkan karena cinta di matanya tak tertambat dalam hikmat manapun. Ia memeluk yang berduka, membawa secarik harapan: saat seorang ibu kehilangan bayinya di malam badai, Yuliana datang membawa sehelai rambut lembap—bukti bahwa anak itu telah pulang, ke agarana bintang. Waktu kamera menyorot, Yuliana hanya menegaskan:
> “Jika aku anak Tuhan, maka setiap anak yang menangis dalam pelukan ibunya juga anak Tuhan. Bedanya hanya pada cara cahaya mencium kulit kita.”
Kamera mute. Dunia digital bungkam. Malam Tanimbar menangis kecil dalam hujan yang dipanggil paus untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun—sebuah bisikan alam merayakan Cinta yang tak terjamah manusia. Lalu, Yuliana menghilang. Jejak kakinya tercetak di pasir menuju samudra, dan aroma kelapa muda membekas di udara. Namun ia tak pernah benar-benar pergi—setiap tangisan anak, setiap tatapan sunyi ke cakrawala—itu semua tanda kehadirannya. Ia adalah sayap cahaya yang melintas di malam tanpa suara, menyentuh luka dan menyanyikan nyanyian hati.
II.
Di utara Pulau Yamdena, hutan gelap tak pernah lelap. Daunnya bergeming dalam rengkuhan malam. Di sanalah Yuliana meresapi suara akar, tumbuhan, roh yang bersembunyi di balik batang beringin tua. Ia bicara pada daun lumut yang lembut seperti kulit bayi, duduk berjam-jam menunggu saat tepat untuk memanggil waktu yang tersembunyi.
Ketika senja membusuk membawa bau kapal karam, ia bertanya pada ikan terbang yang patah:
> “Apakah laut bisa mencintai tanpa menenggelamkan?”
Lalu muncul seekor lumba-lumba: lonjakan tunggal di atas rawa senja—akhir dari pertanyaan tanpa kata. Malam itu, laut diam, seolah playung kesedihan dipikul oleh tubuh ibu yang tahu: anaknya tak akan kembali, namun tetap menunggu.
Yuliana pun tak terlelap. Ia menggambar wajah asing di pasir—sebuah wajah yang hadir dalam mimpinya: mata hitam dalam, daun lontar di tangan, suara yang menghidupkan pohon mati. Ia tak mengenalnya. Mungkin Tuhan, mungkin ayah, atau hanya bayangan rindu.
Kabar datang lalu—perahu terbakar di pulau seberang. Api menari membentuk wajah anak-anak, dan langit menitis air asin. Malam itu hutan bernyanyi dengan sungai yang melawan gravitasi, mengalir naik ke bukit. Yuliana mengikuti arus itu dan tiba di puncak batu besar. Di sana, sunyi menyelesaikan doa-doanya. Ia angkat tangan:
> “Jika cinta adalah luka tak terlihat, biarkan aku berdarah untuk dunia.”
Langit retak—hujan turun hanya padanya—dan anggrek malam merekah dari sela batu. Jejak telapak kaki kecil tertinggal. Jika hatimu jujur, kau akan temukan bekasnya di setiap batu karang.
III.
Suatu sore, angin datang membawa lelaki dari utara—dengan kain tua bergambar bintang dan kerang warisan dari pelabuhan yang hilang. Desa mencurigai, tapi Yuliana tahu: ia adalah bait yang belum tertulis di kitab-kitab angin.
Lelaki itu berkata:
> “Aku mencari nyanyian yang belum selesai.”
Yuliana menjawab:
> “Aku bait yang tak ditulis dalam kitab manapun.”
Tanpa sentuhan, dunia berubah: akar menancap kuat, sungai bening, dan ikan-ikan kembali menari di laut yang terbuka hangat. Cinta mereka adalah laut—tak terkurung, tapi bisa diselami. Yuliana berkata:
> “Kalau kau harus pergi, tinggalkan suaramu di sini. Aku gantung di pohon agar anak-anak mendengar saat angin lewat.”
> “Kalau aku tinggal?” tanyanya.
> “Maka kau akan tahu—rumah bukan selalu dinding. Kadang rumah adalah seseorang yang duduk diam bersamamu.”
Malam itu, desa meledak dalam keheningan: ibu meniup suling bambu, anak bernyanyi bahasa cinta yang turunnya dari angin. Ada yang bilang lelaki itu pulang—namun ada juga yang percaya ia tinggal, jadi penjaga nyanyian agar dunia tak bisu. Karena di Tanimbar, cinta tak perlu alasan. Ia tumbuh dari tanah, air, udara. Yuliana Ratuanak adalah kerinduan yang memberi.
IV.
Waktu di Tanimbar tak diukur jam—melainkan oleh kelapa yang gugur, rasa air, dan redupnya bulan. Yuliana mulai menghilang dari mata, mengubah diri menjadi nyanyian di atas batu karang yang menyapa ombak. Orang bertanya:
> “Apakah Ratu Anak kita mulai sedih?”
Ama Tenias menjawab:
> “Kalau laut mencintaimu, ia takkan mengambilmu. Ia hanya jadikanmu bayangan tepiannya.”
Suatu malam bulan penuh, lelaki asing itu kembali. Rambutnya memutih, tubuhnya ringan—tiba tanpa beban kecuali kenangan. Ia cari Yuliana ke hutan, sungai, bukit. Hanya temukan seruling bambu tergantung di pohon, dan lontar terpahat halus:
> “Aku tidak memilih pergi. Aku hanya kembali ke tempat dari mana cahaya datang.”
Lelaki itu menangis—bukan kehilangan, melainkan sebab ia sadar: cinta sejati tak menetap. Ia hanya meninggalkan luka manis. Ia bangun pondok di tepi desa. Setiap malam menulis satu kalimat untuk Yuliana di daun pisang—kemudian bakar untuk diangkat asapnya ke langit, tempat ia mungkin tertawa.
Seruling bambu terdengar samar di malam terang. Kadang anak-anak melihat bayangan gadis putih menari di air. Kadang nuri menirukan namanya:
> “Yu-li-a-na…”
Laut lalu menggulung namanya—pelan, hormat, seperti doa.
V.
Tanimbar menyaksikan waktu membentang sayapnya. Di antara gemerisik bambu dan rumbia yang basah embun, nama Yuliana bergetar—ia sudah menjelma menjadi nyanyian yang tumbuh dalam dada, bukan diucapkan dengan mulut. Anak-anak yang lahir sepuluh badai kemudian masih mengenalnya sebagai “Kakak Laut.” Bintang adalah matanya, ikan loncat adalah ciumannya, pelangi adalah kalungnya dari langit. Di sekolah papan bekas perahu karam, gurulah menulis namanya—karena setiap anak sebenarnya sudah mengetahuinya:
> “Yuliana adalah apa yang tersisa setelah semua kehilangan selesai menangis.”
Malam jadi altar, tiang rumah jadi tiang doa. Pohon ketapang tumbuh subur, anjing tak lagi melolong nyaring saat bulan purnama tiba. Mereka hanya duduk, menatap laut, karena cinta tak perlu dijelaskan—ia telah menjadi udara.
Jika kau dengar anak bernyanyi pagi sendirian, atau seorang gadis menulis di pasir lalu menghapusnya sendiri—tenanglah. Mereka sedang bicara pada Yuliana. Pada nyanyian yang tak pernah mati.
VI.
> “Kepada dunia yang kadang lupa mencintai,
Kepada langit yang menyimpan suara anak-anak,
dan kepada Yuliana—yang tak pernah pergi…”
Malam terakhir di La’uhi turun seperti kain lembut dari langit. Angin laut bukan sekadar garam, tapi nyanyian halus—nafas ibu yang kehilangan bayinya. Desa duduk di dermaga, menatap ke dalam dada masing-masing. Sejak Yuliana hilang, laut bukan sekadar air—ia cermin jiwa yang tak bisa dibohongi.
Di permukaannya: bayangan anak duduk di atas gelombang, rambutnya mengepul seperti kabut, matanya bukan sekadar cahaya—melainkan cahaya itu sendiri.
Tiada patung, tiada kuil, tiada perayaan besar. Karena cinta sejati tak butuh batu pengingat—ia hidup dalam kebiasaan: ubi dibelah dan dibagi, kepala yang dielus, doa tanpa nama, keheningan yang mendengar.
Orang kota datang, membawa drone dan teori. Mereka berkata Yuliana hanyalah mitos—kolektif delusi. Tapi malam itu, paus muncul, hujan turun, teori musnah ditelan sunyi yang tahu lebih banyak dari sains.
Anak-anak menulis surat untuk Yuliana—di kulit kelapa, di pasir yang dijilat ombak—karena yang penting selalu tiba tanpa alamat. Suatu malam, Kalem, bocah yang baru kehilangan ibu, berdiri di tepi laut. Tubuhnya kecil, namun matanya berani menantang Tuhan. Angin datang bersuara:
> “Kamu tidak sendiri. Aku semua pelukan yang belum kau terima. Aku semua nyanyian ibu yang terdiam malam ini. Aku adalah kamu… yang terus bertahan, meski esok tak dijanjikan.”
Tetes air matanya tak menyayat—ia jatuh sebagai embun: jujur, diam, bersinar.
Hari ini, di Tanimbar…
Seekor paus muncul.
Seekor nuri berbahasa anak.
Seorang bayi tersenyum tanpa alasan.
Perempuan muda melukis lingkaran di pasir.
Sambil duduk menunggu ombak.
Dan laut berbisik:
> “Yuliana tidak menghilang. Ia adalah semua yang lembut di dunia ini.”
Jika kau suatu hari berlayar ke Tanimbar, dan bertanya: “Di mana rumah Yuliana?”
Mereka akan menunjuk ke hatimu.
Karena rumahnya adalah setiap tempat yang mampu mencintai tanpa syarat, setiap suara yang menghibur tanpa sempurna, setiap luka yang diredakan bukan dengan dendam, tapi pelukan.
Yuliana adalah anak Tuhan—ya, tapi lebih dari itu: ia adalah kelembutan, ketika Tuhan percaya pada cinta yang tanpa syarat. Malam ini, di tenangnya laut dan keberadaan bulan purnama, kau mungkin mendengar bisikannya:
> “Aku adalah kamu.
Dan kamu tak pernah sendiri.
Kita semua anak cahaya—meski Tuhan mencium kita dengan cara berbeda.”
Sumatera Barat,2025.