Nyanyian di Tepi Tanimbar
Oleh: Rizal Tanjung
–
Senja di pantai Tanimbar, langit berwarna darah jeruk, angin lembut mengusap kulit laut. Ombak menyanyikan kidung tentang perpisahan. Seorang pemuda duduk di atas batu karang, dan dari kejauhan, Sula, gadis kepiting, muncul perlahan.]
Raka:
Apakah kau datang karena rindumu
atau karena gelombang menolak tubuhmu?
Sula:
Aku datang karena laut tak sanggup lagi
menyimpan puisi yang kutulis dengan airmata asin.
Dan karena namamu, Raka,
masih terukir di punggung tiap ombak
yang mencium bibir pantai ini.
Raka:
Dulu, aku mencintaimu
seperti matahari mencintai langit sore—
dengan warna yang pudar tapi indah.
Namun dunia mengutuk tubuhmu,
dan aku lemah…
tak mampu melawan tafsir para tetua.
Sula:
Tanimbar tahu rahasia lautnya,
tapi manusia tak mau membaca pasir yang bicara.
Aku bukan kutukan, Raka…
aku hanya gadis yang terlalu setia pada cinta,
hingga tubuhku dijadikan metafora kesedihan.
Raka:
Kau indah seperti pulau kecil
yang dilupakan peta,
tapi selalu diingat oleh mata burung camar.
Namun aku manusia,
terlalu terikat pada aturan yang ditulis
oleh tangan-tangan yang tak pernah mencintai.
Sula:
Kalau begitu, biarlah aku pulang ke laut,
menjadi dongeng pahit yang dikisahkan anak-anak
dengan mata tertutup dan hati terbuka.
Biarlah aku menjadi legenda
tentang perempuan yang tak bisa dicintai
hanya karena ia berbeda.
Raka:
Jangan pergi malam ini, Sula.
Langit masih menyimpan warna rambutmu,
dan pasir masih mengingat jejakmu
sebagai doa yang tak pernah sampai.
Duduklah di sini,
di antara bising angin dan sunyi batin.
Sula:
Tapi waktu adalah musuh para makhluk laut,
dan cinta tanpa keberanian
adalah perahu yang tak punya layar.
Raka, aku mencintaimu…
tapi aku tak bisa berenang dalam air
yang tak mau menerimaku utuh.
Raka (berlutut, gemetar):
Kalau aku menyelam,
apakah kau akan menyambutku?
Sula:
Jika hatimu menjadi karang,
dan tubuhmu tak gentar dijilat asin luka,
maka laut akan memelukmu.
Tapi ingat, Raka,
tak semua cinta dapat diubah menjadi wujud.
Beberapa hanya lahir untuk abadi sebagai nyanyian.
[Sula perlahan mundur ke laut. Tubuhnya setengah manusia, setengah kepiting, tapi matanya adalah samudra yang pernah mencintai dengan utuh.]
Raka (menangis, menatap lautan):
Kau adalah puisi yang tak bisa kupeluk,
tapi akan kutulis di tiap napasku
sampai pasir terakhir menutup tubuhku.
Suara Laut:
“Di Tanimbar, cinta pernah lahir dari tubuh yang dikutuk,
dan mati di pelukan senja yang tak pernah jujur.”
> Dan angin membawa kisah itu ke pulau-pulau jauh…
tentang seorang lelaki yang mencintai gadis laut,
dan kehilangan dirinya sendiri
demi puisi yang tak pernah bisa selesai ditulis.
Sumatera Barat,2025