Gadis Kepiting
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di antara nadi laut yang tak pernah tidur,
kupanggil namamu, Sula,
seperti nelayan tua memanggil angin selatan
agar pulang membawa bau garam dan rindu.
Kepulauan Tanimbar:
untaian doa yang jatuh dari jari-jari langit,
sebelum Tuhan tahu, bahwa cinta
bisa berwujud tubuh setengah laut,
dan sisanya luka.
Aku melihatmu pertama kali
ketika bulan berjemur di pundak ombak,
dan seekor kepiting bermahkota mutiara
menari di pasir seperti puisi yang lupa dituliskan
oleh penyair mabuk air pasang.
Lalu kau menjelma—
gadis berambut arus, berkulit angin asin,
matamu danau dalam
yang menenggelamkan semua logika darat.
Kau berkata:
“Aku bukan perempuan dari desa-desa,
aku dilahirkan dari rahim karang,
dan disusui oleh gelombang yang patah.”
Cintamu padaku adalah dosa dua dunia,
daratan menolakku,
lautan pun cemburu melihat tubuhku mencintai tubuhmu.
Oh Sula,
cinta kita adalah perahu yang hilang sauh
di teluk sunyi yang tak punya peta.
Kita mencintai seperti pohon kelapa mencintai angin—
selalu didekati, tapi tak pernah dipeluk.
Wahai para tetua,
kalian bilang ia kutukan,
karena ia tak lahir dari nisan dan nasab,
karena cintanya tak punya silsilah yang kalian pahami.
Tapi pernahkah kalian lihat,
bagaimana seekor kepiting menggenggam tangan manusia
tanpa cakar menusuk, hanya rindu yang tak bisa dikata?
Aku menunggu di pasir yang sama,
di malam-malam ketika langit menangis asin,
dan rembulan hanya setengah utuh,
seperti hatiku yang separuhmu, separuh laut.
Dan kini kau kembali,
dalam bentuk kepiting kecil yang berjalan pelan,
mendekatiku tanpa kata,
hanya dengan irama tapak yang kuingat sebagai nyanyian.
Aku tahu, Sula,
kau tak pernah benar-benar pergi,
kau hanya menunggu dunia punya cukup keberanian
untuk menerima cinta yang bentuknya tak lumrah.
Kau adalah puisi yang tak bisa ditulis
dengan alfabet manusia,
karena tubuhmu adalah kalimat dari karang,
dan hatimu—
adalah samudra yang menulis dirinya sendiri.
Dan aku,
akan terus menyanyikanmu
dalam lagu-lagu asin,
di tiap senja Tanimbar
yang memerah bukan karena malu,
tapi karena ingat
bahwa cinta yang suci
kadang dilahirkan oleh tubuh
yang tak bisa dipeluk oleh dunia.
> “Karena kadang, yang disebut kutukan oleh manusia,
adalah cara laut menjaga puisi yang terlalu indah untuk dibaca darat.”
Sumatera Barat,2025