Gadis Kepiting (2)
(Cerita Rakyat Tanimbar dengan Gaya Puitis dan Romantis)
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di ujung timur Nusa Ina, tempat laut berbicara dengan suara genta dan karang bernyanyi dalam bisikan angin, terbentanglah gugusan Tanimbar—serupa untaian mutiara yang tercecer dari leher para dewi. Di sanalah kisah ini lahir, dari rahim ombak dan cahaya rembulan, tentang seorang gadis yang bukan manusia sepenuhnya, juga bukan makhluk laut seutuhnya: dialah Gadis Kepiting.
I.
Laut yang Memeluk Duka
Di Pulau Yamdena, pulau terbesar dari gugusan Tanimbar, hutan menganyam doa-doa dalam nyanyian burung, dan pasir menyimpan rahasia zaman yang tak terucap. Di bawah pohon ketapang tua, tinggal seorang nelayan tua bernama Ama Tepa bersama anak laki-lakinya, Loin. Mereka hidup dari laut yang murah hati, namun sering murung oleh badai dan sunyi.
Loin adalah pemuda bermata seperti senja yang jatuh ke laut—tenang namun menyimpan bara. Ia mencintai laut sebagaimana seorang penyair mencintai kesepian. Suatu malam, ketika bulan sebesar perahu menyapa permukaan air, Loin melihat sesuatu yang tak biasa di pantai Karmei. Seekor kepiting raksasa, bersinar lembut seperti mutiara, menari sendirian di bibir ombak.
Namun saat ia dekati, kepiting itu menghilang, dan di tempatnya berdiri seorang gadis cantik berkulit garam dan berambut hitam seperti arus dalam. Gadis itu menatapnya dengan mata samudra yang menyimpan ribuan pelayaran.
II.
Perempuan dari Karang Sunyi
“Aku adalah Sula,” kata sang gadis, suaranya bening seperti riak pagi. “Anak dari laut, cucu dari sang Ombak, dan penjaga karang Tanimbar yang dirindukan bulan.”
Loin tertegun, tak tahu apakah harus menyebutnya mimpi atau takdir. Setiap malam, ia datang ke pantai yang sama. Dan setiap malam pula, Sula muncul, kadang dalam wujud kepiting bercangkang emas, kadang sebagai gadis yang mendendangkan lagu-lagu laut dalam bahasa yang tak dikenal manusia.
Mereka jatuh cinta seperti dua arus yang saling merindukan muara.
Namun cinta mereka adalah bunga yang tumbuh di antara batu karang—indah namun perih. Sebab Sula tak bisa jauh dari laut, dan Loin tak bisa meninggalkan pulau.
III.
Kutukan dari Langit Biru
Dalam cerita-cerita tua Tanimbar, ada legenda tentang Gadis Kepiting: makhluk setengah manusia yang dihukum oleh langit karena mengkhianati janji leluhur laut. Dulu, ia adalah manusia yang mencintai dewa laut dan melahirkan keturunan setengah air. Karena tak memilih satu dunia, ia dikutuk untuk selamanya mengembara di antara wujud dan waktu.
Ama Tepa, ayah Loin, mendengar kabar tentang pertemuan mereka dan mencoba mengusir Sula. “Dia bukan dari dunia kita! Ia membawa kutuk! Laut akan marah!”
Namun Sula, dengan tenang, hanya berkata, “Cinta bukanlah kutuk. Tapi manusia yang tak menerima cinta yang berbeda, merekalah kutukan dunia.”
IV.
Ketika Laut Menangis
Pada suatu malam yang gelap, ketika angin utara mengguncang perahu dan petir menggores langit, Sula tidak muncul. Loin menunggu dengan hati patah di pasir basah. Ia memanggil, menyebut nama Sula, hingga suaranya hilang ditelan debur ombak.
Namun yang datang hanyalah sepasang kepiting kecil, berjalan berdampingan menuju laut, seakan menyiratkan pesan dari dunia yang lebih dalam dari kata.
Beberapa mengatakan Sula telah kembali ke kerajaan lautnya. Yang lain percaya, ia telah menjadi roh penjaga karang, menari bersama ombak dalam bentuk kepiting berkilau yang hanya bisa dilihat mereka yang mencintai dengan hati murni.
V.
Loin dan Senandung Garam
Loin tak pernah menikah. Ia menjadi penjaga pantai, memahat perahu dan menyulam jaring. Namun setiap malam bulan purnama, ia meletakkan bunga laut di tepi karang dan menyanyikan lagu dalam bahasa yang hanya ia dan Sula pahami.
Warga Tanimbar menyebutnya Gantang-Gantang, lagu kepiting, lagu yang mendendangkan cinta antara manusia dan makhluk laut. Sebuah lagu tentang keberanian mencintai yang tak bisa disatukan oleh darat atau air, tapi dipersatukan oleh waktu dan kenangan.
Ombak yang Mengingat
Hingga kini, di pesisir Tanimbar, ada mitos: jika kau berjalan sendirian di pantai saat bulan purnama, dan kau menyebut nama Sula dengan hati yang jujur, seekor kepiting emas akan muncul dan menari di kakimu. Itu adalah pertanda bahwa cinta tak pernah benar-benar hilang—ia hanya berubah wujud, seperti Sula, Gadis Kepiting, yang menjadi puisi di tubuh laut.
“Karena cinta sejati bukanlah tentang memiliki tubuh,
tapi tentang saling menghidupi jiwa—
seperti laut yang tak pernah lelah mencium pantai,
meski tahu ia akan selalu kembali ke dalam dirinya sendiri.”
—Cerita rakyat dari Tanah Tanimbar
Baca juga: poetry-blad-dan-…ernasional-puisi/
Sumatera Barat,2025