April 18, 2026

(Rekaman Proses)

Oleh: Era Nurza

Sabtu, 31 Mei 2025, Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) menjadi saksi berlangsungnya sebuah peristiwa sastra berskala nasional dan internasional bertajuk “Poetry Book Launching and Discussion (Poetry-Blad)” sekaligus Seminar Internasional tentang Puisi. Diselenggarakan oleh Media Suara Anak Negeri dan didukung penuh oleh UNP, acara ini menghadirkan wajah-wajah penting dari dunia birokrasi dan seni, termasuk perwakilan Gubernur Sumatera Barat, Wali Kota Padang, Rektor UNP, Dekan FBS, serta tamu kehormatan dari Timur Indonesia, Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Tidak hanya menandai peluncuran dua buku puisi “L-Beaumanity” karya Leni Marlina (dosen Bahasa Inggris UNP) dan “Delula Jaya” karya Yusuf Achmad (guru SMK di Surabaya), acara ini juga membuka ruang lintas budaya melalui diskusi dan pembacaan puisi oleh seniman lokal maupun internasional.

Struktur Acara: Terorganisir dan Mengalir

Secara struktural, acara ini tersusun dengan baik dan mengalir. Dimulai dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dari tokoh-tokoh penting, kemudian peluncuran buku puisi, dan pembacaan karya oleh para seniman dari dalam dan luar negeri. Acara ditutup dengan seminar internasional yang memperluas perspektif peserta tentang posisi puisi dalam dunia kontemporer. Alur acara yang runtun menunjukkan bahwa panitia memahami ritme perhatian audiens. Namun, ada beberapa catatan teknis yang bisa dievaluasi, khususnya pada transisi antar segmen.

Pemilihan Karya: Kualitas Melebihi Kuantitas

Satu pertanyaan kritis muncul dari peserta dan pengamat sastra: mengapa hanya karya Leni Marlina dan Yusuf Achmad yang dipilih dari sekian banyak kontributor Media Suara Anak Negeri? Direktur Utama Media Suara Anak Negeri, Paulus Laratmase, memberikan jawaban gamblang. Proses kurasi dilakukan oleh lima kurator utama: Dr. Drs. Bruno Rumyaru, MA; Dr. Ir. Celcius Waranmaselembun, M.Si; Dr. Baltasar Watunglawar, S.Pd., M.Pd, SH., M.H.; Paulus Laratmase; dan Ir. Lusia S. Kanan, M.P. Kelimanya adalah founder Yayasan Santa Lusia dan Media Suara Anak Negeri News.Com, dengan latar belakang akademik dari luar negeri serta keahlian dalam sastra, bahasa, jurnalistik, penulisan kreatif, dan filsafat.

Karya Leni Marlina dan Yusuf Achmad dinilai unggul dari segi estetik, kedalaman pemikiran, dan relevansi sosial. Karya-karya monumental  kedua penulis selain sebagai ekspresi individu, juga menggali tema-tema kemanusiaan dan identitas budaya dengan bahasa yang segar dan menggugah. Pilihan ini mencerminkan integritas dan independensi redaksi dalam menjunjung standar kualitas sastra.

Nuansa Multikultural: Simbol Persatuan Lewat Puisi

Kehadiran Wakil Bupati Tanimbar, dr. Yuliana Ch. Ratuanak, M.K.M., memberi nuansa inklusif dan memperkuat posisi puisi sebagai medium ekspresi yang mampu menjangkau seluruh penjuru negeri. Dalam kerangka sosial multikultural Indonesia, keterlibatan tokoh dari berbagai latar belakang menjadi simbol keterbukaan dan persatuan dalam keberagaman.

Lebih dari itu, kehadiran pembaca puisi dari mancanegara secara virtual menunjukkan bahwa puisi Indonesia dapat berdialog secara kritis dengan puisi dunia. Puisi menjadi jembatan universal yang menghubungkan nilai-nilai lokal dengan isu-isu global.

Pembacaan Puisi: Ekspresi yang Menyentuh

Segmen pembacaan puisi oleh seniman ternama seperti Harlym Yeo, Dato Prof. Hashim Yacoob dari Malaysia, serta komunitas sastra Indonesia seperti Tatang dan Rizal Tanjung, memberikan nyawa pada acara. Saat puisi dibacakan langsung, bukan hanya teks yang berbicara, tetapi juga intonasi, emosi, dan tubuh pembaca. Hal ini memperkuat kedekatan antara karya dan audiens.

Seminar Internasional: Panggung Diskusi yang Kritis

Sesi seminar yang menjadi penutup acara menghadirkan pembicara dari berbagai negara yang membahas bagaimana puisi bekerja di tengah krisis global, mulai dari konflik kemanusiaan, krisis iklim, hingga disrupsi digital. Hal ini menegaskan bahwa puisi bukan semata-mata ekspresi personal atau romantis, melainkan alat kritik dan refleksi kolektif.

Beberapa pandangan yang disampaikan cukup memantik diskusi, meskipun belum semua peserta memiliki akses terhadap materi yang dibahas. Panitia sebaiknya mempertimbangkan penyediaan booklet digital atau rekaman seminar agar ilmu yang dibagikan tidak berhenti pada hari pelaksanaan.

Melampaui Launching Buku Biasa

“Poetry-Blad” dan Seminar Internasional ini adalah lebih dari sebuah acara seremonial peluncuran buku; ia merupakan perayaan intelektual dan estetik yang menempatkan puisi di tengah percakapan publik. Dengan struktur acara yang terkonsep matang, pilihan karya yang dikurasi ketat, serta nuansa multikultural yang kuat, acara ini berhasil menjembatani dunia sastra dengan ranah akademik, birokrasi, dan masyarakat luas.

Tentu masih ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam aspek teknis dan distribusi informasi. Namun secara keseluruhan, acara ini membuktikan bahwa sastra Indonesia — khususnya puisi, masih memiliki daya hidup kuat dan mampu menyatukan berbagai suara dari seluruh penjuru negeri, bahkan dunia.

L-Beaumanity” dan “Delula Jaya” adalah simbol bahwa kata-kata masih bisa menjadi jalan pulang menuju pemanusiaan manusia itu sendiri.

Baca juga: wakil-bupati-kep…rani-kemanusiaan