April 18, 2026

(Sebuah Legenda dari Kepulauan Tanimbar)

Oleh: Rizal Tanjung

Di tanah yang tak digariskan oleh jam dan tak dilukiskan oleh peta, tersembunyi gugusan pulau-pulau seperti taburan biji kenari yang jatuh dari pangkuan langit. Itulah Tanimbar—sebuah peradaban air, tempat angin menyanyikan puisi kepada laut, dan setiap batu menyimpan nama-nama leluhur dalam diamnya.

Dari rahim pulau Yamdena, pada suatu masa yang tak lagi ditandai musim, lahirlah seorang anak lelaki ketika langit memekik dan bumi menggetarkan pangkal akarnya. Ibunya seorang perempuan diam, yang setiap kata-katanya hanya disampaikan lewat tarikan napas dan cucuran embun. Ayahnya—tak seorang pun tahu. Ada yang bilang ia anak gelombang, ada pula yang berkata ia cucu dari matahari yang jatuh satu malam dan bersetubuh dengan batu karang.

Namanya adalah Atuf, dalam bahasa tua berarti “yang memecah keheningan.” Tubuhnya dibangun dari garis-garis keras karang dan urat sungai yang melintasi pulau. Di matanya, ada dua kilau yang tak pernah padam—seolah fajar dan senja beradu dalam satu pandang.

Waktu itu, dunia dikuasai oleh Matahari yang tak pernah tidur. Ia menduduki langit sepanjang waktu, menyapu malam dari punggung dunia. Tak ada gelap. Tak ada mimpi. Tak ada bulan. Tak ada bintang yang bisa lahir dari rahim malam. Tanaman layu sebelum mekar. Burung-burung jatuh sebelum mampu mengepak. Air pun lupa bagaimana caranya menetes tenang, karena panas siang tak pernah mengizinkan keheningan tumbuh.

Atuf tumbuh dalam kelimpahan cahaya dan kekeringan jiwa. Di dalam dadanya tumbuh kegetiran. Ia menyaksikan betapa bumi merindukan tidur, merindukan suara kodok malam, desir cemara yang hanya bersenandung saat rembulan datang. Ia tahu, terang yang abadi adalah kutukan. Sebab segala yang abadi adalah penjara.

Lalu pada suatu fajar yang membatu, Atuf menaiki puncak batu tua di Pulau Selaru, tempat para leluhur membakar dupa laut dan melempar doa ke angin. Ia berdiri menghadap sang Matahari yang menengadah di ubun-ubun dunia.

> “Mengapa kau tak pernah tenggelam?” tanya Atuf, suaranya seperti getar bambu yang disentuh angin.

> “Karena aku takut dilupakan,” jawab Matahari, “Takut kehilangan pandang. Aku ingin terus dilihat. Aku ingin kekal.”

Atuf menunduk. Lalu ia pulang ke dalam gua batu, tempat ia menempa Tombak Laut—sebatang senjata dari gading paus, ditajamkan dengan pecahan kerang mutiara, dan dirapal dengan nyanyian ombak yang telah tua. Ia meminta izin pada angin, laut, dan pohon. Semua diam, lalu bergetar setuju.

Hari itu, lautan tenang. Tapi udara mendidih. Cahaya memekik seperti burung patah sayap. Atuf berdiri di atas tebing yang menghadap ke jantung matahari. Ia mengangkat tombak dengan kedua tangan dan meneriakkan kata-kata terakhir:

> “Wahai Cahaya yang Tamak, terimalah gelap yang kau takuti. Sebab hanya dalam gelap, manusia tahu caranya menyalakan cinta!”

Lalu ia melempar tombaknya. Udara terbelah. Langit retak seperti kaca tua. Tombak itu menikam matahari—tepat di tengah, di jantung sinarnya. Cahaya meledak menjadi tangis. Dan dari luka itu, Matahari terbelah dua: satu jatuh ke laut, meleleh menjadi garis merah di cakrawala barat, dan satu lagi menghilang di ujung timur, bersembunyi untuk memulihkan luka.

Dan malam pun datang. Untuk pertama kalinya.

Bintang-bintang turun seperti benih cahaya yang menetas. Rembulan muncul, pucat dan malu-malu, tapi damai. Laut menyanyikan kembali nyanyiannya yang dulu hilang. Pepohonan kembali bermimpi. Dan manusia pun kembali mengenal waktu.

Atuf? Ia tak pernah kembali. Tubuhnya menyatu dengan cahaya yang terakhir. Ada yang bilang ia menjadi pulau kecil di antara Pulau Larat dan Wermatang—tak bernama, tak berpenduduk, tapi setiap malam senja menyentuhnya lebih dulu. Ada pula yang berkata ia menjelma jadi nyanyian malam yang dibisikkan oleh angin timur laut.

Namun di desa-desa, di bawah pondok beratap daun sagu, anak-anak masih diajarkan syair tua:

> “Atuf bukan pahlawan, bukan pula dewa,
Ia adalah luka pertama langit siang,_
Yang membuka pintu bagi malam untuk pulang.”_

Dan tiap kali matahari tenggelam dengan warna merah darah, orang-orang tahu: itulah sisa luka yang masih bernyanyi.

Sumatera Barat,2025