Atuf Menikam Matahari: Sebuah Nyanyian Satir dari Ufuk Tanimbar
oleh: Rizal Tanjung
–
Di ujung runcing Tanimbar
tempat laut menulis puisi pada batu,
dan angin menjahit rahasia di ujung cemara,
lahirlah Atuf,
anak dari petir dan air asin yang patah hati.
Ia tumbuh di rahim ombak,
disebut-sebut oleh karang yang mabuk gelombang:
“Dia yang akan menikam si Matahari
karena sinarnya terlalu pongah
dan terlalu sering menertawakan kemiskinan.”
“Lihatlah,” kata Atuf,
“Di tiap pagi, mentari bangkit bagai raja mabuk,
menghanguskan sawah yang belum sempat bermimpi,
mencium bibir ibu-ibu yang belum sempat sarapan,
dan menelanjangi tanah
dari cerita-cerita nenek moyang.”
Ia bawa tombak dari tulang duyung dan dendam leluhur.
Ia mendaki bukit yang digarami ribuan musim kering.
Di belakangnya,
matahari tertawa:
“Siapa kau, rambut kusut dari timur angin?
Tulangmu lunak, jiwamu asin,
hatimu hanya kepiting yang takut air surut.”
Atuf menjawab:
“Aku bukan siapa-siapa.
Aku hanya suara yang tak sempat jadi kitab,
langit yang pernah lupa dilukis.
Tapi aku muak jadi bayangan.
Aku muak jadi pagi yang gagal bersuara.”
Lalu ia tikam matahari,
dan sinar terbelah bagai ikan kerapu
yang disayat anak nelayan karena lapar.
Langit terbuka,
dan keluar segala kepalsuan:
dewa-dewa palsu yang pakai dasi,
bidadari yang menjual skincare,
dan para raja yang mengunyah pajak rakyat.
Matahari menjerit:
“Ini penghinaan pada ketuhanan cahaya!”
Atuf tertawa getir:
“Kau bukan tuhan. Kau hanya bola api
yang dipuja oleh mereka yang takut gelap.”
Dunia pun jadi senja:
setengah terang, setengah sadar,
setengah waras, setengah gugur.
Burung-burung pun berkicau lain:
bukan nyanyian pagi,
tapi satire kemerdekaan
yang tak pernah datang
kecuali dalam upacara dan koran murah.
Kini Atuf duduk di batu,
memandangi langit sobek,
tempat matahari terbelah
dan malam-malam tidak lagi pasti.
Ia tidak ingin disembah,
ia hanya ingin kita sadar:
bahwa kadang yang suci bukan terang,
kadang yang adil adalah gelap
yang tahu malu.
Dan laut Tanimbar pun menyimpan kisah itu,
dalam sargassum, dalam ombak,
dalam mata anak-anak
yang menatap langit,
bukan untuk berharap,
tapi untuk bertanya:
“Siapa yang akan menikam cahaya berikutnya?”
Baca juga: Yuliana-ratuanak…atukan-indonesia
Sumatera Barat,2025