April 26, 2026

(Antologi Puisi Satir Kepulauan Tanimbar)

Oleh: Rizal Tanjung

Angin dari Timur

Di ujung dunia yang dikelilingi garam,
di mana langit lebih cepat tua daripada tanah,
sebuah pulau bersuara,
tidak lewat mulut manusia,
tapi lewat retak-retak di batu karang
dan nyanyian patah dari daun kelapa yang digigit angin.

“Lahirkan anak dari gelombang,”
kata laut.
Dan laut pun berkontraksi,
melahirkan Atuf —
bukan nabi, bukan pemberontak,
hanya gema dari sunyi yang letih menunggu penjelasan cahaya.

I
Atuf Dilahirkan Laut

Subuh belum selesai mendongeng,
ketika buih laut melahirkan tubuh mungil
yang dibalut lumut dan nama asing: Atuf.
Ia bukan keturunan raja,
bukan cicit pejuang.
Ia hanya lahir,
seperti segala sesuatu di Tanimbar —
diam-diam dan tidak diminta berkah.

II
Mantra Batu dan Garam

Di tanah ini, batu bicara.
Tapi hanya pada yang tahu mendengar.
Garam mencatat dosa matahari,
yang setiap pagi menyiram pulau
dengan cahaya penuh dusta.

“Matahari bukan dewa,”
bisik batu kepada Atuf.
“Cahaya adalah bentuk lain dari pengawasan.”
Dan garam pun berdoa agar asin berubah jadi pahit
biar dunia tahu rasanya
dikhianati dari langit.

III
Anak Angin Melawan Cahaya

Atuf tumbuh dari ampas ombak dan dendam batu.
Ia mengenakan sarung yang dijahit dari debu tanah
dan bau keringat rakyatnya.
Ia tak mencatat sejarah.
Ia mengarangnya.

“Aku akan menikam matahari,” katanya,
seperti anak kecil yang baru tahu
bahwa menantang terang bukan berarti memilih gelap,
tetapi memilih waktu istirahat bagi semesta.

IV
Tombak dari Tulang Duyung

Besi terlalu barat.
Atuf membuat senjatanya dari tulang duyung
yang dikuburkan di batu karang.
Ia tidak perlu pedang,
ia butuh kenangan makhluk yang
pernah bernyanyi di antara ombak,
lalu tenggelam dalam mitos
karena tidak cukup terang untuk dikenang.

V
Matahari yang Ketakutan

“Aku adalah terang!”
teriak Matahari dari langit yang jenuh.
Tapi Atuf tahu:
Terang pun bisa panik,
apalagi ketika ia merasa diadili.

“Aku memberikan waktu!”
teriak si bola cahaya,
tapi Atuf bertanya:
“Waktu untuk siapa?
Untuk orang yang beristirahat
atau untuk raja yang mencatat dosa rakyatnya?”

VI
Tikaman Pertama

Langit menjadi panggung,
awan menjadi saksi bisu.
Tombak meluncur,
seperti kebenaran yang tak sudi dimintai maaf.

Matahari berdarah jingga,
dan senja lahir bukan dari rotasi,
melainkan dari perlawanan.

Dunia mendadak tenang.
Angin berhenti berbohong.
Dan bayangan tak lagi takut hidup di tubuh orang miskin.

VII
Rakyat Menari dalam Luka

Mereka keluar dari rumah panggung
bukan untuk menangis,
tapi untuk menari.
Mereka bawa kendi, garam, dan kelakar.
“Terang telah retak!”
teriak nenek-nenek sambil menabuh panci.

Lelaki menari dengan tubuh gosong,
perempuan bernyanyi dengan bibir retak.
Mereka tahu,
luka bisa jadi lagu
bila dinyanyikan bersama.

VIII
Satire Rembulan

Lalu rembulan datang.
Tidak dengan terompet,
melainkan dengan jilbab awan tipis
dan sindiran dalam cahaya dingin:

“Aku dicinta karena ditunggu,
bukan karena memaksa terang.”
Ia mengelus luka langit,
dan memberi pelukan pada pohon
yang tak sempat tumbuh karena matahari terlalu rakus.

IX
Di Mana Atuf Kini?

Ia tak jadi legenda.
Ia tidak dibukukan.
Ia hanya tumbuh sebagai bisik di kepala anak-anak
yang takut siang.
Atuf ada di nyamuk malam,
di gelombang kecil,
dan dalam mata ibu yang menyusui
tanpa listrik dan janji pembangunan.

X
Nyanyian Bagi Penikam Cahaya

Wahai kamu yang masih percaya cahaya adalah jawabannya,
pergilah ke Timur,
ke pulau yang namanya dilupakan peta.
Di sana terang adalah penjaga gerbang,
dan bayangan adalah jalan pulang.

Atuf menikam cahaya,
bukan karena benci terang,
tapi karena terlalu lama kita sembah
apa pun yang berdiri di langit
tanpa tahu:
langit pun bisa salah langkah.

Cahaya Terbelah

Sejak hari itu,
matahari tidak lagi bulat.
Ia retak di satu sudut,
dan setiap fajar tampak sedikit malu.

Tanimbar tak minta maaf,
Atuf tak kembali.
Tapi batu menyimpan namanya,
dan garam tetap asin,
untuk mengingat:
bahwa terang pun harus ditanyai,
dan langit bukan ruang absolut —
ia cuma bagian dari panggung.

Baca juga: gadis-kepiting-2

Sumatera Barat,2025