May 6, 2026

Objektifikasi Seksualitas Tubuh Perempuan dalam Kasus Skandal Seksual Oknum Pejabat

Oleh: Novita Sari Yahya (peneliti dan penggiat pemberdayaan perempuan)

Lisa Mariana mendadak selebritis di media dan media sosial sejak kasus hubungan skandal Lisa Mariana  dengan Ridwal Kamil terungkap.

Secara gamblang tanpa rasa malu, Lisa Mariana mengungkapkan hubungan seksual dengan Ridwan Kamil termasuk adengan di tempat tidur yang di klaim menghasilkan seorang putri berusia 3 tahun.

Sebelum kejadian skandal seksual Lisa Mariana dan Ridwan  Kamil menjadi konsumsi gosip nasional, saya sudah menuliskan tulisan fenomena Bapak-ibuisme dari pernyataan janda Ridwan Kamil. Pernyatan janda oleh Ridwan Kamil yang berbau seksime dan misoginis cukup menghentakan publik.

Pencitraan  Ridawan Kamil selama ini,  sebagai suami  yang setia, harmonis yang di tampilkan oleh Ridwan Kamil  runtuh dalam hitungan hari dengan pengakuan blak-blakan dari Lisa Mariana.

Tubuh Lisa Mariana yang obesitas setelah melahirkan menjadi objektifikasi  oleh netizen Indonesia. Berseliweran begitu banyak meme dan video tentang penampakan tubuh Lisa Mariana yang gendut.

Pengakuan Lisa Mariana dan permintaan tanggung jawab nafkah dan uang ratusan juta sebagai kompensasi skandal yang sudah menghasilkan anak usia 3 tahun membuat kita bertanya-tanya apakah perempuan seperti Lisa Mariana dan Nikita Mirzani yang viral dan mendadak selebritis merupakan cerminan selebtitis Indonesia.

Menjadi pertanyaan bagaimana pembentukam wanita ideal yang di lakukan selama orde baru melalui ideologi gender Ibusime negara dan masih hidup di alam bawah sadar masyarakat Indonesia setelah reformasi.

Kenapa perempuan Indonesia lebih cepat viral dengan perilaku menyimpang,, gaya binal bahkan perilaku berpakaian setengah telanjang daripada prestasi perempuan di berbagai bidang.

Media berperan dalam proses objektikasi perempuan termasuk memberikan ruang untuk tampil membeberkan aib dan perilaku menyimpang dan menjadikan mereka viral dan selebritis karbitan.

Kongres Perempuan ke-2 pencanangan Ibu bangsa

Kongres perenpuan ke-2 pencanangan ibu bangsa merupakan gambaran progresif gerakan perempuan Indonesia.

Kongres perempuan ke-2 tahun 1935 mencanangkan perempuan ibu bangsa dengan pemikiran progresif termasuk pembahasan isu tentang pekerjaan buruh perempuan, pendidikan perempuan, pernikahan anak dan poligami.

Tahun 2025 perempuan Indonesia hanya di hebohkan dengan isu skandal selangkangan antara perempuan dengan pejabat.

Ibuisme negara

Ideoliogi ibuisme yang termanifestasi melalui Panca dharma wanita yaitu wanita sebagai istri pendamping suami,  sebagai ibu pengelola rumah tangga,  penerus keturunan dan pendidikan anak,  pencari nafkah tambahan dan warga negara dan anggota masyarakat bertujuan untuk pendidikan perempuan ideal.

Pendidikan perempuan zaman orba melalui ideologi gender Ibusime nenempatkan perempuan  sebagai bunga-bunga bangsa bukan ibu bangsa.

Kegiatan perempuan zaman orba melalui organisasi perempuan dengan memberikan pelajaran memasak kepada ibu-ibu namun tidak diiringi dengan pengetahun gizi, mereka memberikan cara agar tampilan masakan menjadi cantik saja. Pengetahun sosial-ekonomi dan bantuan terhadap perempuan miskin juga tidak ada.

Menurut Prof Saskia Wieringa, peneliti dan penulis buku penghancuran gerakan perempuan di Indonesia setelah 65 menjelaskan bahwa perempuan hanya di didik untuk penampilan baik di acara seremoni berkebaya; berfoto dengan pejabat pria. Tidak di berikan kesempatan untuk mengorganisir massa seperti organisasi buruh perempuan.

Proses pengiburumahtanggaan perempuan sejak orde baru penyebab dari ketimpangan relasi kuasa

Ketimpangan relasi kuasa merupakan wajah dari budaya patriaki. Patriarki tumbuh dan berkembang dalam masyarakat feodalisme dan kapitalisme. Kapitalisme di Indonesia berkembang sejak masuknya penanaman modal asing ke Indonesia.

Industrialisasi penyebab objektifikasi seksualitas tubuh perempuan.

Perempuan desa pergi ke kota untuk bekerja sebagai buruh pabrik. Negara kuat orba menyediakan tenaga kerja perempuan yang di bayar lebih murah dari pekerja pria dengan pendidikan SD atau tidak tamat SD.

Industrialisasi mendorong budaya  konsumerisme.

Gaya  hidup hedonisme adalah merupakan gambaran bekerjanya mesin industri Kapitalisme.

Dalam budaya hidup hedonisme akibat bekerjanya mesin industri kepiatalisme maka perempuan terbelenggu dalam pola hidup materialistis.  Mencukupi gaya hidup materialistis menyebabkan perempuan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi termasuk menjadi simpanan pejabat.

Objektifikasi tubuh perempuan bentuk bekerjanya mesin indsutri kapitalisme.

Keviralan Lisa Mariana dengan skandalnya juga menarik perhatian neizen Indonesia karena selain skandalnya juga lelebihan berat badan.

Objektifikasi terhadap tubuh gendut Lisa Mariana menjadi bukti perendahan terhadap tubuh perempuan.

Objektifikasi tubuh perempuan juga terjadi dalam dunia industrialisasi kecantikan Indonesia.

Ketika mesin industri kapitalisme bekerja maka standar kecantikan perempuan Indonesia mengikuti standar industri kapitalisme global.

Objektifikasi seksualitas terhadap tubuh perempuan dengan sensasi berpakaian terbuka seolah menjadi bagian dari industri kecantikan Indonesia.

Objeltifikasi seksualitas dengan menjadikan tubuh perempuan sebagai daya jual menyebabkan berlombanya perempuan Indonesia mendatangi klinik kecantikan untuk merubah bentuk tubuhnya. Seolah standar  bisa hidup mewah seperti Lisa Mariana dan Nikita Mirzani hanyalah mengandalkan objektifikasi tubuh perempuam

Perbandingan hasil Kongres Perempuan pertama dan kedua tahun 1935 menunjukan kualitas perempuan Indonesia.

Pencanangan perempuan Indomesia sebagai Ibu Bangsa pada Kongres Perempuan ke -2  yang menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda Indonesia begitu kontras dengan keviralan Nikita Mirzani dan  Lisa Mariana.

Tidakkah kita menyadari bagaimana mesin industri kapitalisme sedang berkerja merendahkan pemikiran dan konsep diri wanita Indonesia dengan objektifikasi seksualitas tubuh perempuan.

Semoga masyarakat terutama perempuan Indonesia peduli dan punya kesadaran bahwa perendahan harga diri bangsa justru melalui perempuan karena perempuan tiang negara dan dari rahim perempuan lahir generasi muda calon pemimpin bangsa.

Jika standar kualitas dan penghargaan pada perempuan hanya dari segi kecantikan fisik walaupun itu dengan operasi, maka jangan salahkan akan ada ribuan Lisa Mariana dan Nikita Mirzani yang muncul dan menampar wajah kita.

Ketika jargon perempuan ideal dengan gambaran idrologi gender Ibuisme menjadi pidato pejabat Indonesia ternyata yang viral dan menjadi pemberitaan media adallah Nikita Mirzani dan Lisa Mariana.