April 16, 2026

Oleh Agung Marsudi

SORE itu dalam perjalanan pulang Yogya ke Solo, menjelang senja, saya singgah di Taman Doa Candi Biyung Maiyah, dukuh Bunder, Bandungan, Jatinom, Klaten. Ratusan umat Katolik terlihat sudah berdatangan dari dua kecamatan, yaitu Jatinom dan Karangnongko. Mereka akan melakukan Misa Kamis Putih.

Menurut penuturan sepasang suami istri, yang kebetulan warga Bunder asli, memang acara misa di Kapel Stefanus Bunder ini selalu ramai. Apalagi hari ini dilakukan misa Kamis Putih, dilanjutkan dengan Jumat Agung, Sabtu Suci dan Minggu Paskah.

Sedianya saya diberi waktu untuk wawancara dengan bapak Fidelis Prasetio Widi, penanggung jawab Kapel Stefanus Bunder. Tapi karena acara misa segera dilakukan, agenda wawancara tertunda.

Taman doa yang diresmikan tahun 2023 itu, berkonsep seperti candi, menampilkan patung Bunda Maria mengenakan pakaian adat Jawa. Taman doa itu di desain oleh Frederico Purtiwi Dwi Setianto. Material yang digunakan untuk membuat taman doa itu menggunakan batu andesit utuh setinggi 2,5 meter dari lereng Gunung Merapi. Dan dipahat oleh pak Ismanto, seorang pematung asal Muntilan, Magelang.

Ide awal pembuatan taman doa itu untuk mengusung lokalitas yang ada di kawasan Bunder. Kearifan lokal itu tidak hanya dalam perwujudan sosok Bunda Maria sebagai wanita Jawa serta bahan yang digunakan. Tapi pembuatan taman doa itu juga dilakukan oleh masyarakat tempatan, warga dukuh Bunder sendiri.

Karena masyarakat di lingkar Merapi sering menyebut bagian sisi timur Gunung Merapi dengan nama Biyung Bibi, maka penamaan taman doa Bunda Maria, menjadi ‘Biyung Mariyah”, menjadi beda, dan istimewa.

“Biyung” dalam bahasa Jawa berarti ibu, yang melahirkan, merawat, dan menyusui kita, tidak hanya berdimensi ragawi, tapi juga filosofis dan kental akan makna spiritual.

Selamat merayakan Paskah.

Solo, 19 April 2025