Tausiah Religi
KULIAH SHUBUH
Sabtu , 15 Nopember 2025(24 Jumadil Awwal 1447 H)
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّد
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Terlebih dahulu mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar – benarnya , yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan rasul-Nya Muhammad ﷺ serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah ﷻ dan Rasul- Nya Muhammad ﷺ .
Sebagaimana tersirat dalam Surat Ali-‘Imran ayat 130 – 133 yang menegaskan akan seruan Allah bagi orang yang beriman, yaitu seruan untuk tidak memakan riba, bertaqwa kepada Allah agar mendapat keberuntungan, memelihara diri dari siksa neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir, taat kepada Allah dan Rasulnya agar mendapat rahmat, serta seruan untuk segera meraih ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas antara langit dan bumi.
Seruan Allah tersebut merupakan satu kesatuan untuk membentuk karakter dan kepribadian manusia menjadi baik dan mulia muhsinin.
Di samping sangat dicintai oleh Allah mereka juga dijanjikan akan mendapatkan ampunan dan Surga.
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaqwa.
Firman Allah:
Orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.
Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
(QS. Ali Imran :134).
Kepribadian mulia orang-orang bertaqwa sebagaimana dalam surat Ali Imran: 134 tersebut jika dicermati merupakan pilar utama yang memungkinkan seseorang bisa membangun dan berinteraksi sosial dengan baik di masyarakat, yaitu:
1.Selalu mengeluarkan infaq
Orang yang bertakwa itu orang yang baik atau muhsin hal ini ditandai dengan selalu berbagi dan peduli dengan orang lain seraya mengeluarkan infaq tanpa harus menunggu dirinya memiliki kelonggaran secara ekonomi. Tetapi dalam keadaan kekurangan pun tetap mengeluarkan infaq walaupun tentunya porsi jumlahnya disesuaikan dengan kondisi kemampuan ekonomi yang dimilikinya.
Berbeda dengan mengeluarkan zakat dengan ketentuan orang yang memiliki kecukupan secara ekonomi atau memenuhi nisabnya kalau itu zakat mal.
Itulah komitmen dan kesadaran diri sebagai orang yang bertaqwa bahwa infaq adalah sebuah kewajiban syar’i untuk menunjukan sebuah kebaikan dan kemuliaan yang sempurna.
Kesadaran untuk mengeluarkan infaq ini juga wujud dari sikap peduli dan simpati kepada sesama umat manusia terutama bagi mereka yang membutuhkan bantuan.
Sikap saling peduli dan simpati ini merupakan pilar utama untuk hidup saling tolong menolong sehingga dapat terbangun kehidupan sosial dalam masyarakat yang baik dan harmonis.
Dalam membangun kehidupan bermasyarakat agar tetap baik ini maka pada budaya masyarakat terdapat kebiasaan untuk saling memberi mengunjungi satu dengan yang lain. Rasulullah ﷺ juga telah mengajarkan kepada kita ketika memasak daging diperbanyak kuahnya agar sebagian bisa dibagikan kepada tetangga. .
2.Mengendalikan diri ketika marah
Setiap orang yang lahir di dunia ini punya potensi untuk bisa marah untuk kepentingan kelangsungan hidupnya.
Tetapi marah juga bisa menimbulkan masalah jika kemarahan yang terjadi tidak terkendali pada diri seseorang seperti; wajah nampak menjadi tidak indah, jantung berdetak sangat kencang sehingga bisa berakibat sakit jantung bahkan mati mendadak, pikiran menjadi tidak sehat, ucapannya menjadi kacau, buruk , tidak terkontrol, dan sebagainya.
Kemarahan yang tidak terkontrol dan tidak terkendali dengan baik tidak saja akan merugikan diri sendiri tetapi juga bisa menimbulkan masalah sosial. Harapan suasana rukun, damai dan harmonis dalam kehidupan masyarakat tentu akan sulit terwujud jika diantara anggota masyarakatnya mudah marah yang tidak terkendali dan bertemperamen tinggi.
Disamping itu tentu hal ini sangat disukai oleh setan yang memang tidak menginginkan kehidupan masyarakat dalam keadaan kebaikan.
Oleh karena itu apapun penyebabnya marah merupakan pangkal dari ketidak harmonisan dalam kehidupan sosial.
Maka ketika terpaksa kita harus marah maka kita harus mampu mengendalikannya agar akal selalu sehat dan nafsu tetap terkendali dengan baik.
Tentu hal ini tidah gampang kecuali orang yang memiliki pribadi yang dewasa dan kuat.
3.Memiliki Sifat Pemaaf
Dalam berinteraksi sosial sehari-hari kita juga tidak bisa lepas dari berbuat salah dan keliru dengan orang lain begitu juga sebaliknya.
Namun sayangnya tidak semua orang mau dan mampu secara tulus memberi maaf dan melupakan kesalahan orang lain bahkan sampai membekas di dalam hati sampai menimbulkan rasa dendam yang berkepanjangan. Padahal dendam yang dipelihara di dalam hati akan bisa mengganggu kesehatan badan.
Ibarat racun yang bisa menimbulkan berbagai macam penyakit baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani yang secra otomatis juga akan menimbulkan berbagai macam penyakit sosial.
Oleh karena itu rasa dendam dan benci yang menyelinap di dalam hati sanubari harus kita hapuskan dan dibuang jauh-jauh agar pergaulan dengan sesamanya tidak terganggu yang pada gilirannya kehidupan sosial masyarakatpun bisa berjalan dengan baik, rukun dan harmonis.
Rasa dendam digantinya dengan rasa maklum dan maaf itulah pribadi yang mulia atau muhsinin yang dimiliki orang-orang yang bertaqwa.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Bahwa kalau kita menginginkan kehidupan sosial di masyarakat bisa berjalan dengan baik, rukun dan harmonis tanpa memandang status sosial, agama dan golongan maka harus kita mulai dari diri kita sendiri dengan membangun karakter dan kepribadian yang baik dengan peduli, suka memberi infaq, menahan emosi kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain.
Di lihat dari sisi psikologi sosial maka suka memberi infaq, menahan kemarahan ketika akan marah dan suka memaafkan orang lain sebagai karakter orang yang cerdas secara emosi dan spiritual.
Yaitu sebagai pilar utama seseorang bisa sukses dan berhasil dalam meniti kehidupan.
Sebagai orang yang bertaqwa tentu mampu dan memenuhi syarat untuk bisa mewujudkannya.
بِسْـمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِه, عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Barang siapa ridha, maka
keridhaan itu miliknya. Barang siapa mengeluh, maka keluhan itu akan menjadi miliknya (HR At-Tirmidzi)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَا فِلَةً لَّكَ ۖ عَسٰۤى اَنْ يَّبْعَـثَكَ رَبُّكَ مَقَا مًا مَّحْمُوْدًا
Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yg terpuji.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 79
Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang orang yang tetap) mendirikan shalat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku, ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab.Aamiin
Ya Allah ,ya Rahman berilah kami keistiqamahan dalam ibadah dan kumpulkan kami bersama orang² yang shaleh dan berilah kami akhir hidup husnul khatimah, sempat taubat sebelum wafat aamiin ya robbal ‘alamin…🤲🤲
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته