Pada Kejadian Pertama
Oleh Tonnio Irnawan
–
Hari masih disebut pagi meski satu dua jam lagi matahari tepat di atas ubun – ubun. Aku terdesak dalam lautan orang banyak. Riuh ramai teriakan menyakitkan gendang telinga. Setiap tangan memegang satu atau lebih batang daun berwarna hujan yang dicabut dari sepanjang jalanan kota. Daun – daun itu diangkat setinggi – tinggi dan dikibarkan ke kanan ke kiri. Ke depan ke belakang.
Aku turut bersorak sorai. Wajahku cerah riang seperti yang lain. Kaki lima jalan tak bisa lagi menampung warga kota yang terus bertambah, sehingga meluber ke jalan yang menjadi kian sempit. Semua sebisanya menyetujuh tubuh seorang berjubah bagaikan yang dikenakan para raja. Tak bisa menyentuh bagian tibuhnya, sudah bersyukur dapat meraba jubahnya. Orang itu menunggang seekor keledai yang dipilihnya untuk memasuki kota Jerusalem.
“Hosana! Hosana! Hosana! Terpujilah Putra Daud. Terpujilah Sang Raja!”
Aku pun turut dalam paduan suara massal. Entah siapa yang pertama memekikkan kalimat ini. Tanpa komando, kami langsung mengikuti kalimat ini dalam irama sama.
Pagi menjelang siang, belum pernah aku dan warga kota mengalami kejadian yang sama. Inikah pangeran yang lama kami nantikan yang dijanjikan Tuhan untuk membebaskan bangsa kami dari perbudakan? Sepertinya benar. Minggu – minggu ini banyak mukjizat ia perbuat. Perkataan – perkataannya meyakinkan kami sesungguhnya ia sang pangeran.
Jalanan kota sudah ia lalui. Ia semakin menjauh. Mata kami tak dapat lagi melihat iring – iringannya. Namun seperti lainnya, aku masih ingat wajah mudanya. Cara bicaranya yang halus. Ucapannya yang menyentuh hati tentang cinta Tuhan, tentang persaudaraan, tentang kesalamatan, tentang pengampunan, tentang harapan, dan masih banyak lagi tentang segala hal.
Tonnio Irnawan
Minggu Palma
13 April 2025