Pagi Mageli Ibuku
Oleh Yusuf Achmad
–
Pagi, kucari jajanan di lorong gang Nyamplungan. Tak
ditemukan, belum kelihatan di antara deret rumah khas
Nyamplungan. Mendadak asap muncul dari lubang rumah
berjari-jari. Membawa aroma tidak asing pada hidung suka
bersinku. Ini bau mageli yang kucari, jajanan khas sejenis lentho.
Seperti yang ada di lontong balap itu.
Bau jajanan ini menyengat ingatan, bau tak mungkin layu. Bau
Ibuku di dekat anglo. Mageli hidup adalah buah hatinya, seperti
mageli-mageli saudaraku. Diolah melawan nasib perih, agar
meresapi kasih emmaku. Mengantar mageli-mageli, melampaui
jalan bergeronjal.
Dan di perempatan Nyamplungan, sayup terdengar sapa Ibuku,
“Sudahkah kau makan pagi ini?” Senyum itu, wajah ayu itu,
tangan perajin mageli. Ingin kucium tangan itu dalam sembahku
pada emmaku di surga, semoga ada mageli di sana.
Bau itu semakin menyengat, menambah ceria. Setelah ummiku
sampaikan salam hangat, buatku harus berhidmat. Ini pasti
mageli baru digoreng. Tersenyum aku terlihat gigi, sarapan pagi.