Pameran Batal, Yos tak Mau Berurusan Lagi dengan Galeri Nasional
Dilaporkan oleh Anto Narasoma
–
LUKISAN Yos Suprapto yang momen wajahnya mirip Presiden ke-7 Joko Widodo, mendapat apresiasi dari yang bersangkutan.
Dikutif dari CNNIndonesia.com, Jokowi menilai bahwa corak lukisan yang mirip dirinya itu merupakan aspirasi politik seorang seniman.
Nah, jika Joko widodo sendiri berbicara seperti itu, lalu ada kepentingan apa sehingga ada lima hingga enam lukisan Yos Suprapto yang akan dipamerkan itu harus diturunkan?
Negeri ini merupakan negara demokrasi yang memberi peluang bagi masyarakatnya untuk bebas membangun aspirasi dan inspirasinya, terutama di bidang seni. Asalkan tampilan karyanya tidak menciptakan konflik kepentingan politik yang meresahkan masyarakat.
Terus terang, dalam unsur seni yang ada, seorang seniman (pelukis) hanya menerima momen sosial yang berkembang di luar dirinya.
Dengan gagasan yang ada di dalam dirinya, ketika menerima sesuatu seniman (pelukis) langsung menangkap ide-ide estetik untuk dijadikan karya seni.
Tak ada prasangka buruk, benci, atau hasrat busuk yang ingin memojokkan, itu jauh dari pikiran buruknya. Yang penting, momen itu harus menjadi karya menarik.

Bisa jadi Yos Suprapto memiliki nilai-nilai estetika yang mencoba mengetengahkan perkembangan yang ia tangkap sebagai seniman kreatif.
Apalagi dalam berita bertajuk “Jokowi Blak-blakan Soal “Pembredelan” Pameran Lukisan Yos Suprapto itu, Jokowi, mengatakan bahwa karya-karya Yos itu merupakan bagian dari aspirasi politik seorang seniman.

“Siang tadi saya baru dengar dari Mas Syarif (ajudan) mengenai itu. Menurut saya, mengenai itu kreativitas seniman yang harus kita hargai dan juga bentuk sebuah aspirasi politik yang dituangkan dalam sebuah lukisan, yang harus kita hargai,” kata Jokowi dikutif Detik Jateng, Jumat, 27 Desember 2024.
Sebagai sosok yang dikhawatirkan bakal bereaksi positif, ternyata begitu terbuka dan tidak mencerminkan sosok ego yang membenci sang pelukis ( Yos Suprapto).
Sikap bijak seperti ini menurut pelukis Oscar-Claude Monet, menatap persoalan yang berkembang dengan tatapan sejernih air danau yang bening, dan tak terdapat sepotong sampah di dalamnya.
Namun herannya, lima dari sejumlah lukisan yang akan dipamerkan itu justru dianjurkan agar diturunkan dari ruang-ruang pameran.
Para seniman, terutama para pelukis banyak yang mempertanyakan persoalan itu, sehingga sebagai pelukisnya sendiri, akhirnya Yos Suprapto berkukuh untuk membatalkan pamerannya di Galeri Nasional Jakarta pada pekan lalu.
Nah, jika menatap persoalan itu, tentu ada terselip pertanyaan yang muncul ke permikaan, kok enam dari lukisan yang akan dipamerkan itu harus diturunkan dan “dilarang” ditampilkan dalam pameran itu?
Jika dicermati dari titik dasar dari lukisan itu, memang mengkhawatirkan perasaan penyelenggara. Sebab wajah dan corak lukisan memang ada kemiripan bentuk dari presiden ketujuh Republik Indonesia.
Bukan persoalan kontens dan bentuk lukisan, tapi sebagai kurator yang ditunjuk Galeri Nasional Suwarno Wisetrotomo secara tertukis menjelaskan bahwa dua karya lukisan yang akan ditampilkan itu menggambarkan opini pribadi sang seniman terdapat praktik kekuasaan yang dinilai tidak sesuai dengan tema pameran, Kebangkitan Tanah untuk Kedaulatan Pangan.
Bisa jadi kekisruhan itu merupakan bentuk dari lima lukisan dari 30 karya lukis yang memancing perbedaan pandangan antara kurator dan Yos Suprapto sendiri.
Atas terjadinya masalah tersebut, Yos Suprapto enggan berurusan lagi dengan Galeri Nasional dan Kementerian Kebudayaan.
“Saya tak mau lagi berurusan dengan Galeri Nasional dan Kementerian Kebudayaan,” ujar Yos.
Kalau saya menilai, perbedaan pandangan itu adalah persoalan pribadi dari masing-masing pihak. Namun bagi Suwarno, pernyataannya tentang kontens lukisan yang menggambarkan opini pribadi seniman adalah sah-sah saja. Apalagi Suwarno menyatakan bahwa opini itu terkait praktik kekuasaan yang dinilainya tidak sesuai tema pameran.
Memang sulit untuk mencari jalan keluar apabila persoalan prinsif muncul dalam program pameran tersebut.

Hanya saja, dalam berita CNNIndonesia.com yang dikutif DetikJateng Jokowi menyatakan bahwa ia tidak tahu lukisan yang mana yang boleh dipamerkan. “Tapi saya kira bentuk kreativitas seniman harus kita hargai,” ungkap Jokowi.
Dalam negara demokrasi, bentuk lukisan yang diduga mirip dirinya tidak ada masalah.
“Ya, harus kita hargai. Jadi kalau dipamerkan, ya kita kan apa, katanya negara demokrasi he he.. Saya kira nggak ada masalah,” ucapnya.
Kalau kita menggarisbawahi apa yang dikemukakan Jokowi itu, ia “tidak ada masalah” dengan itu.
Hanya saja, kekhwatiran kurator Galeri Nasional Suwarno Wisetrotomo membuat Yos Suprapto agak “tersinggung” sehingga ia melucuti semua lukisan dan membatalkan pamerannya.
Jadi, tanggapan apa yang harus kita ucapkan ketika masing-masing pihak mempunyai landasan prinsif untuk tidak mewujudkan pameran itu?
28 Desember 2024