Pamit, Menuju Rumah Tuhan
Teman Teman
Jika tak ada aral melintang, insya Allah saya dan isteri masuk asrama haji selasa pada 20 Mei untuk bersiap menuju tanah suci, setelah penantian selama 14 tahun.
Berangkat haji bukan sekadar bepergian ke kota tua bernama Makkah. Ia adalah panggilan jiwa yang menggetarkan, sebuah rindu panjang yang perlahan menua bersama waktu. Tak semua orang bisa menapakkan kaki di sana. Bukan karena tak punya harta, tapi karena langit belum membuka pintunya. Di negeri ini, haji telah berubah menjadi antrean ziarah yang panjangnya melebihi umur banyak orang. Tiga dekade. Tiga puluh tahun penantian. Sebuah antrean spiritual yang kadang membuat harapan tampak seperti fatamorgana.
Saya beruntung, Tapi juga sadar diri
Langkah ini bukan tanpa gamang. Saya membawa tubuh yang menua dan doa-doa yang kadang terlalu pelan terdengar. Saya malu. Malu pada diri sendiri, malu pada Tuhan yang selama ini sering saya hampiri hanya ketika sempit, jarang saya datangi saat lapang. Saya bukan hamba yang sempurna. Maka saat hendak menuju Rumah-Nya, hati ini bergemuruh seperti samudra menjelang badai: penuh harap sekaligus takut.
Saya malu menghadap Tuhan. Tapi saya tahu, Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Di balik langit yang tinggi dan sunyi, Dia selalu membuka pintu bagi siapa saja yang ingin kembali. Tuhan tidak lelah menunggu, bahkan ketika hamba-Nya terus datang dan pergi dalam kelalaian. Cukup satu langkah jujur ke arah-Nya, dan lautan rahmat-Nya akan mengalir menjemput.
Kini, saya mengambil langkah itu
Dan ibadah ini terasa makin sakral karena menjadi jalan untuk memenuhi amanah seorang ibu. Desember 2003, di desa kecil Sungai Aro, hanya beberapa hari sebelum berpulang, emak memanggil saya. Dengan suara lemah namun mata yang penuh cahaya, ia berpesan agar saya naik haji. Mungkin emak merasa risau—usia saya telah cukup, kemampuan ada, tapi tak terlihat tanda-tanda saya akan berangkat. Dan di hari itu, saya benar-benar merasakan betapa cinta seorang ibu tak mengenal batas. Bahkan di ujung napasnya, ia masih memikirkan anaknya.
Dua puluh tiga tahun kemudian, dengan dada bergetar dan hati penuh syukur, saya memenuhi amanah emak. Ini bukan sekadar perjalanan ibadah. Ini adalah penebusan cinta, penggenapan janji batin. Damailah emak di sana. Semoga doamu yang dulu mengalirkan jalan hingga anakmu menjadi tamu Allah.
Saya tahu, jalan ini bukan sekadar menempuh jarak, tapi menempuh waktu: menziarahi dosa-dosa masa lalu, menapaki jejak para nabi, dan berharap agar ampunan turun seperti hujan di padang tandus. Saya mohon, semoga Allah melimpahkan hidayah kepada saya dan isteri. Semoga ibadah agung ini menjadi tangga yang membawa kami menuju ampunan, menuju kedekatan yang lebih jernih dengan-Nya.
Dan semoga, kami pulang ke tanah air bukan sekadar dengan selembar sertifikat “telah berhaji”, tapi dengan hati yang baru — hati yang lebih bersih, lebih sabar, dan lebih mencintai.
Pondok Cabe Udik 19 Mei 2025
Elza Peldi Taher