Papua, Senandung Cinta yang Tak Boleh Terkhianati
Oleh: Rizal Tanjung
–
papua adalah puisi yang ditulis semesta,
dengan tinta sungai yang mengalir bening,
dan kertas hutan yang rimbun menari.
setiap helai daunnya adalah syair,
berbisik dalam angin, merayakan kehidupan.
mentari mengurai rambutnya di pucuk gunung,
menyulam cahaya dalam embun pagi.
burung cendrawasih menari di altar langit,
membawa pesan dari leluhur yang suci.
sementara ombak berdesir di bibir pantai,
menyanyikan lagu rindu pada cakrawala.
tanah ini adalah ibu yang setia,
memeluk anak-anaknya dengan kasih yang luas.
di dadanya tersimpan emas,
tapi bukan untuk dirampas dengan rakus,
melainkan untuk disyukuri dalam doa dan lagu.
hutan papua bukan sekadar pepohonan,
ia adalah kitab yang ditulis angin,
tempat hujan bercerita tentang kehidupan.
setiap akar yang menancap di bumi,
adalah syair yang berakar dalam sejarah.
tapi, mengapa ada tangan yang merobek sajak ini?
mengapa ada dusta yang menutupi langit biru?
mengapa ada mata yang berpura-pura buta,
saat luka menganga di tanah surga?
jangan kau lukis papua dengan warna kebohongan,
jangan kau gantikan nyanyian alam dengan suara mesin.
biarkan sungai tetap jernih,
biarkan burung tetap menari,
biarkan papua tetap menjadi cinta yang abadi.
papua, engkau bukan sekadar peta di ujung negeri,
engkau adalah nyanyian yang tak boleh mati.
dalam setiap desir angin, dalam setiap ombak yang pulang,
terdengar bisikan yang lembut namun tegas:
jangan nodai keindahan ini dengan dusta.
Papua 23 Maret 2025.