May 6, 2026
WhatsApp Image 2026-05-06 at 09.13.28

oleh Reiner Emyot Ointoe

“Kegelapan dunia membuat irasionalitas seni menjadi rasional: seni yang sangat gelap.” — Theodor W. Adorno(1903-1969), Aesthetic Theory(1970).

Perubahan industri hiburan dalam berbagai platform mutakhir—film, musik, fashion, dan media—terus memperlihatkan pasang surut budaya pop.

Dari rumah mode Prada, milik Mario Prada yang lahir di Milan pada 1913 hingga majalah Runway yang menopang dunia mode, kita melihat bagaimana simbol-simbol budaya pop mengalami pergeseran makna dan kekuasaan.

Lewat kisah dari The Devil Wears Prada 2, jurnalis Andrea Sachs(Anne Hathaway) kembali ke Runway bukan karena ambisi, melainkan karena kebutuhan setelah terkena PHK.

Majalah yang dulu menjadi benteng budaya pop kini digambarkan kehilangan pamor, terhimpit oleh layoff massal, algoritma, dan tekanan media sosial.

Miranda Priestly(Meryl Streep) yang dulu disebut “high priestess of taste,” harus menghadapi kenyataan bahwa selera tidak lagi menjadi otoritas utama.

Fashion kehilangan aura eksklusifnya, dan bahkan Miranda digambarkan terbang dengan kelas ekonomi—simbol jelas dari penurunan status industri mode.

Lain hal film biopik Michael diperankan ponakannya, Jaafar Jackson, besutan Antoine Fuqua menuturkan perjalanan Michael Jackson dari masa kecil bersama Jackson 5 hingga menjadi ikon global.

Namun kritikus menyebut film ini “never takes a peek at the dark side,” karena lebih banyak menampilkan pesona panggung dan mitologi kejayaan.

Sementara, sisi surut berupa skandal dan trauma dikesampingkan.

Musik menjadi inti narasi, dari “Don’t Stop Til You Get Enough” hingga Thriller, menegaskan simbol global yang pernah ia capai.

Kostum panggung ikonik seperti jaket merah Thriller dan sarung tangan berkilau memperlihatkan siklus tren naik dan turun.

Lain hal pula, konsernya menyerupai drama besar yang memikat jutaan orang, sekaligus menandai bagaimana budaya pop bisa kehilangan relevansi ketika generasi berganti.

Terakhir, juga berkaca di dunia industri budaya pop — film, musik, fashion dan media — kita hingga kini.

Salah satunya, tetralogi sinema yang berasal dari novel Dilan 1990,1992, Milea: Suara dari Dilan hingga Ancika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1997 dari Pidi Baiq, termasuk film Dilan ITB 1997 yang sedang tayang, juga mencerminkan pasang surut budaya pop.

Dari novel ke layar lebar, kisah ini, Dilan ITB 1997(Fajar Bustoni & Pidi Baiq), mengandalkan daya tarik nostalgia dan figur populer seperti Ariel Noah sebagai Dilan, Milea(Raline Shah) dan Ancika(Niken Anjani).

Namun, memasuki minggu pertama jumlah penonton baru mencapai 338 ribu lebih dan telah ditinggal jauh genre horor, Ghost in the Cell(Joko Anwar) dengan 2,6 juta penonton.

Hal ini memperlihatkan bahwa daya tarik waralaba untuk genre drama romantik ini mulai meredup dan menjadi contoh nyata bagaimana alih wahana budaya pop tidak selalu menjamin keberlanjutan kejayaan.

Untuk membedah ketiga film yang dimaksud, dua buku kritik budaya pop memberi kerangka untuk membaca fenomena ini.

Pertama, Dominic Strinati dalam An Introduction to Theories of Popular Culture(1995) menegaskan bahwa film adalah “sebuah situs pusat tempat budaya populer diproduksi dan dikonsumsi,” mencerminkan sekaligus membangun tren.

Ia menunjukkan bahwa pergeseran teknologi, nilai masyarakat, dan logika industri hiburan membuat genre tertentu bisa mendominasi lalu meredup.

Kedua, Graeme Burton dalam Media and Popular Culture(1999) menambahkan bahwa film, musik, fashion, dan teater semuanya mengalami “pasang surut budaya pop” yang mencerminkan perubahan sosial sekaligus dorongan industri hiburan.

Musik menjadi penanda identitas generasi, fashion sebagai bahasa visual yang cepat berganti, dan teater sebagai hiburan massal sekaligus wadah kritik sosial.

Dengan kerangka Strinati dan Burton, tiga film ini memperlihatkan wajah budaya pop yang tidak pernah statis. Bahkan dari segi genre dan selera tak bisa ditebak. De gustibus disputandum.

Jika The Devil Wears Prada 2 menyoroti surutnya otoritas media dan fashion, Michael menampilkan mitologi kejayaan sambil menyingkirkan sisi gelapnya, dan Dilan ITB 1997 justru menunjukkan redupnya daya tarik waralaba populer untuk genre dramatik.

Semua ini menandaskan bahwa budaya pop adalah arena penting dalam kehidupan sehari-hari.

Ia bukan sekadar hiburan ringan, melainkan cermin sekaligus penggerak perubahan sosial yang selalu mengalami pasang surut sesuai „zeitgeist“ maupun denyut zaman.

#coversongs:
Lagu “Don’t Stop ’Til You Get Enough” dirilis oleh Michael Jackson(1958-2009) pada 10 Juli 1979 sebagai singel utama dari album Off the Wall.

Lagu ini menjadi tonggak penting karena merupakan karya pertama di mana Jackson memiliki kendali penuh atas arah kreatif musik solonya.

#credit foto diunggah dari Youtube The Devil Wears Prada 2 | Final Trailer 20th Century Studios, Michael | Official Trailer Universal Pictures dan OFFICIAL TRAILER DILAN ITB 1997 | 30 APRIL DI BIOSKOP Falcon.