April 16, 2026

Pastor Pius Heljanan MSC Ajak Umat Menjadi Saksi Iman

IMG-20260407-WA0011

http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, 8 April 2026 – Pagi yang tenang di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, membawa suasana batin yang teduh bagi umat yang merenungkan makna kebangkitan Kristus.

Dalam nuansa iman yang sederhana namun mendalam, Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, mengajak umat untuk kembali menyadari panggilan hidup sebagai saksi kebangkitan Tuhan.

Mengacu pada Injil Yohanes 20:11-18, Pastor Pius menyoroti pengalaman iman Maria Magdalena yang sempat larut dalam kesedihan karena merasa kehilangan Yesus.

Dalam keterbatasan manusiawi itu, Maria tidak segera menyadari kehadiran Kristus yang telah bangkit di hadapannya.

“Kesedihan sering kali membuat kita seolah ‘buta’, tidak mampu melihat bahwa Tuhan sebenarnya hadir dan menyapa kita secara pribadi,” ungkap Pastor Pius dalam refleksinya.

Namun, titik balik terjadi ketika Yesus memanggil Maria dengan namanya. Sapaan sederhana namun penuh makna itu mengubah kesedihan menjadi sukacita, sekaligus membangkitkan keberanian untuk bersaksi.

Pastor Pius menjelaskan bahwa pengalaman Maria Magdalena merupakan cermin kehidupan umat beriman saat ini. Ketika manusia terlalu larut dalam pergumulan, sering kali kehadiran Tuhan terabaikan.

Padahal, Tuhan senantiasa hadir dan siap mengubah duka menjadi harapan.
“Ketika kita setia mencari Tuhan, Ia akan mengubah kesedihan menjadi sukacita. Dari sanalah kita dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya,” ujarnya dengan penuh keteduhan.

Lebih lanjut, Pastor Pius menegaskan bahwa menjadi saksi kebangkitan bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan nyata dalam sikap hidup sehari-hari.

Tutur kata, perilaku, dan perbuatan baik menjadi tanda kehadiran iman di tengah masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa Yesus menyebut para pengikut-Nya sebagai saudara, sebuah tanda kasih yang menegaskan nilai dan martabat manusia di hadapan Tuhan.

“Fokuslah pada Yesus, bukan pada masalahmu. Ketika kita mengalami kasih-Nya, kita dipanggil untuk membagikannya kepada sesama,” pesannya.

Refleksi ini menjadi undangan lembut bagi umat untuk tidak berhenti pada pengalaman pribadi, melainkan melangkah keluar sebagai pewarta harapan.

Dalam kesederhanaan hidup sehari-hari di Tanimbar, panggilan itu terus bergema—mengajak setiap hati untuk bangkit, percaya, dan bersaksi.(rls:ph/jk)