Pdt. Heberth S. Wahilaitwan Tekankan Kerendahan Hati dalam Ibadah Minggu di GBI MILOS Saumlaki
Oleh : Joko
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, 22 Juni 2025 –
Pujian, Firman, dan Sukacita Jemaat Mengisi Suasana Pagi yang Sejuk
Suasana pagi yang sejuk dan mendung menyelimuti Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (MILOS) Saumlaki, yang terletak di Jalan Ir. Soekarno, belakang Kantor Pengadilan Negeri Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Ibadah Minggu pagi itu dipenuhi dengan pujian, penyembahan, firman Tuhan, serta pesan rohani yang menguatkan iman jemaat.
Ibadah Dimulai dengan Pujian dan Penyembahan
Pelayan Tuhan, Pieter Batlajery, membuka ibadah dengan serangkaian lagu pujian yang mengajak jemaat menyatakan kasih dan kerinduan kepada Tuhan. Beberapa lagu yang dinyanyikan antara lain “Kurasakan Kasih-Mu”, “Bersujud Menyembah-Mu”, dan “Ku Mengangkat Tanganku”.
Suasana semakin khusyuk dengan lagu-lagu penyembahan seperti “Kuduslah Nama-Mu Tuhan”, “Ajarilah Kami Ya Tuhan”, dan “Yesus Rajaku”, mengantar jemaat masuk dalam hadirat Tuhan.
Doa Awal: Menyerahkan Seluruh Ibadah Kepada Tuhan
Evangelis Ir. Piet Batilmurik memimpin doa awal, mengajak jemaat untuk bersyukur atas rahmat Tuhan yang baru setiap hari dan menyerahkan seluruh beban kehidupan kepada-Nya.
“Kami berhenti sejenak hari ini untuk beribadah dan menyenangkan hati Tuhan. Segala beban hidup kami hancurkan dalam nama Yesus. Allah berkuasa atas ibadah ini,” ungkapnya penuh iman.
Tarian Sukacita dan Nyanyian Pujian
Kebersamaan dalam ibadah dilanjutkan dengan tarian sukacita oleh pelayan Tuhan, Pieter Batlajery, diiringi lagu “Keluarga Kerajaan Allah” dan “Dia Allah yang Besar”.
Jemaat tampak bersukacita, bergandeng tangan dalam kasih dan iman, mencerminkan persaudaraan yang erat di dalam Tuhan.
Selanjutnya dinyanyikan pula lagu penyembahan “Tiada yang Mustahil Bagi-Mu, Bapa”, mengungkapkan kerinduan akan jamahan Roh Kudus serta tekad untuk menjalankan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Firman Tuhan: Menjadi Pelayan Sejati di Hadapan Allah
Bagian utama ibadah diisi dengan penyampaian firman oleh Gembala Sidang, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, yang mengangkat pesan dari Markus 9:33-37. Dalam khotbahnya, Pdt. Heberth menekankan bahwa ukuran keagungan di hadapan Tuhan adalah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani.
“Siapa yang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dan pelayan untuk semua,” tegasnya. Ia mengajak jemaat untuk meninggalkan kesombongan, ego pribadi, dan kepentingan duniawi agar dapat menjadi hamba Tuhan yang sejati.
Menurutnya, pelayanan yang benar bukan tentang jumlah atau besar kecilnya jemaat, tetapi soal kualitas hati dalam melayani. Ia mencontohkan bagaimana Yesus menempatkan anak kecil sebagai simbol ketulusan dan kejujuran. “Siapa melayani seorang anak kecil, sesungguhnya ia melayani Aku,” kutipnya.
Pdt. Heberth juga mengingatkan agar setiap pemberita firman tidak mengandalkan kecerdasan semata, melainkan harus bertobat dan mengandalkan hikmat Allah.
“Pelayanan harus dilandasi hati yang mau belajar, banyak bertanya, agar paham dan bisa melayani dengan benar,” ujarnya.
Penutup Ibadah: Persembahan, Warta Gereja, dan Doa Berkat
Setelah penyampaian firman, jemaat memberikan persembahan yang diiringi lagu “Allah Itu Tuhanku Selama-lamanya” oleh Pieter Batlajery. Kemudian, Pdt. Haris Borutnaban membacakan warta gereja yang berisi jadwal kegiatan ibadah selama sepekan, mulai dari Menara Doa pada Selasa hingga Ibadah Umum dan Sekolah Minggu pada Minggu mendatang.
Lagu penutup “Bumi Penuh Kemuliaan-Nya” menutup rangkaian pujian, memuliakan nama Tuhan atas segala berkat yang diberikan bagi Indonesia dan dunia.
Doa berkat dipimpin langsung oleh Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, yang mendoakan jemaat, pemerintah daerah, bahkan bangsa Indonesia agar senantiasa diberi hikmat, kesejahteraan, dan pemulihan. Ia juga memohonkan berkat bagi proses pembangunan gereja dan masyarakat Tanimbar secara keseluruhan.
“Berkatilah Bupati Kepulauan Tanimbar, pemerintah daerah, serta seluruh jemaat-Mu. Bangkitkan negeri ini dari kemiskinan, pulihkan bangsa kami, beri hikmat kepada pemimpin negara,” doanya, mengakhiri ibadah penuh makna tersebut.
Sukacita di Akhir Ibadah
Setelah ibadah usai, jemaat disuguhi snack ringan sambil menikmati alunan tembang rohani dari kelompok latihan drum band gereja.
Suasana penuh sukacita dan keakraban menyelimuti pertemuan tersebut sebelum akhirnya jemaat pulang dengan hati yang damai dan sukacita yang diperbaharui.