PELIPUR CINTAKU
Foto: Nikmati cinta dan lipurlah lapar dengan yang ada. (Dok. pribadi/Mulyadi J. Amalik).
Puisi Mulyadi J. Amalik
–
Semua warga negara daging dan tulangnya merah putih.
Setiap orang berhak dan wajib menikmati simponi tawanya.
Pada tubuh mereka mengalir harta benda pajak penghasilan.
Apalagi diragukan?
Napas dan darah nadi anak bangsa dibersamai pajak pertambahan nilai.
Mengapa kuatir hidup bersantai?
Ruang-ruang kosong dikuasai negara dan rakyat boleh berkomedi berdiri di atasnya.
Banyak pula pengusaha akan menanamkan benih bisanya.
Tak usah gusar bila penguasa pasti hadir pada setiap jengkal penduduk terusir.
Bukankah begitu cara menimbang dan mengukur negeri yang subur?
Di bangsa bahari penuh pantun ini, bahasa berbunga dijamin konstitusi.
Alih-alih kabur pergi, lapangan kerja tergerai di lembah, gunung, angkasa, hutan, pun lautan dengan pagar doa-doa dan puisi.
Manalagi yang tak patut kusyukuri?
Gemah ripah loh jinawi, demikianlah petuah indah pelipur cintaku tanpa perih.
Aku setia menunggumu di sini dipayungi hujan panas yang tak minta dibekali.
Padamu Air Tanah tumpah ruah kutambangkan darah cinta di segala cuaca.
Peneleh, Surabaya: 03/03/2025.