“Sekolah di Negeri yang Terlupakan”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Ilustrasi "Sekolah di Negeri yang Terlupakan": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 925-290 (Assisted by AI).
/1/
Sekolah di Negeri yang Terlupakan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Aku telah melihatnya—
sekolah yang terlipat dalam lelah tanah,
atapnya sekarat seperti langit yang terlupakan,
jendela-jendelanya menatap dengan mata kosong zaman yang menjauh.
Di sini, di sekolah ini,
di negeri yang terlupakan,
kapur tulis tidak lagi beraksi di papan tulis,
tetapi membeku dalam sunyi peradaban.
Bangku-bangku mengelupas seperti ingatan,
yang tak sempat dituliskan kembali.
Tetapi aku mendengar mereka, anak-anak yang lahir dari halaman kosong,
mereka memetik huruf dari udara,
menjahit alfabet ke dalam debu dan menuliskannya kembali di tubuh bumi.
Lalu lonceng berdentang, seakan mengumumkan kematian,
tapi ia membangunkan yang tertidur dalam kelas,
yang menunggu sebuah permulaan kebangkitan pendidikan,
agar negeri ini berdiri tegak kembali,
setelah sekian lama terlupakan.
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
/2/
Eksekusi Sunyi di Halaman Sekolah
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Jam telah berhenti di pintu gerbang sekolah ini,
jarumnya terbenam di dalam lumpur waktu.
Di bawah langit yang berkarat,
guru-guru berdiri seperti patung batu,
membaca ulang silabus
yang tersisa dari kalender usang.
Di luar pagar,
peradaban mengetuk,
membawa palu dan kontrak
untuk menghapus sejarah dengan tanda tangan.
Mereka bilang sekolah ini telah mati,
tetapi anak-anak kembali dalam barisan sunyi,
membawa buku-buku yang hampir habis terbakar.
Di dalam ruang kelas,
kapur seakan menulis di udara,
menuliskan angka yang belum dihitung,
rumus yang belum selesai,
tanda baca yang menunggu kesimpulan.
Lalu, dari reruntuhan,
lahir kembali perlawanan,
dalam huruf-huruf yang mereka pikir telah padam,
karena tidak ada yang sudi hidup dalam kebodohan.
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
/3/
Laboratorium yang Terbakar
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Di laboratorium tua itu,
tabung-tabung reaksi menyimpan api yang belum padam.
Mikroskop meratap seperti mereka yang buta hati,
mencari kebenaran dalam debu yang berterbangan.
Lihatlah!
Mereka datang dari lorong gelap,
anak-anak yang ditinggalkan sejarah,
membawa formula dari masa lalu,
meracik ulang nasib yang rusak di tangan kekuasaan.
Mereka menghitung bintang dengan jari-jari mereka,
membaca gravitasi dengan bahasa yang hampir hilang,
mengubah abu menjadi emas,
dan melanjutikan kembali peradaban,
dengan rumus yang tak lagi tersisa di buku-buku tua.
Laboratorium ini tidak terbakar sia-sia,
ia hanya memurnikan api,
menjadikan bara itu
pelita,
menerangi cakrawala berpikir manusia.
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
/4/
Kelas yang Hilang
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Di ruang yang telah kosong ini,
suara-suara masih melayang,
menghuni celah di antara dinding
yang menghafal nyanyian sunyi.
Bangku-bangku tak lagi memiliki nama,
tetapi mereka mengingat tubuh
yang pernah duduk dan bermimpi di sana.
Papan tulis berdiri seperti batu nisan,
tetapi seseorang telah datang
dan menulis sebuah kata:
“Harapan.”
Di lorong-lorong sekolah ini,
angin membawa suara-suara lama,
bukan sebagai kenangan,
tetapi sebagai doa yang menolak
untuk mati.
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
/5/
Seorang Guru di Sekolah yang Tak Lagi Ada
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Aku guru,
aku berdiri di halaman ini,
di mana dulu matahari pernah menyentuh atap
dan membiarkan cahaya berlarian di papan tulis.
Sekarang,
yang tersisa hanya puing,
tetapi aku tidak berbicara kepada reruntuhan,
aku berbicara kepada yang belum lahir,
kepada yang masih mencari
pelajaran di debu yang menempel di udara.
Anak-anakku,
di mana pun kalian berada,
dengarkan: sekolah ini masih hidup
dalam buku yang kalian pegang,
dalam kata-kata yang kalian bisikkan di malam-malam yang panjang,
dalam keinginan untuk belajar
meski dunia tak lagi peduli.
Sekolah ini bukan bangunan,
tetapi semangat yang menolak
untuk dikubur.
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
/6/
Sekolah dari Kertas dan Angin
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Di pagi yang terlipat dalam asap pabrik,
anak-anak melipat sekolah dari kertas koran,
mereka meniup angin ke dalam halaman-halaman kosong,
dan berharap kata-kata akan tumbuh di antara puing.
Di sana,
guru menulis dengan kapur yang rapuh,
di papan yang dikerat oleh waktu dan janji,
sementara buku-buku tinggal dongeng di etalase
dan angka-angka hanya mimpi dalam mulut lapar.
Bangku patah menahan tubuh yang kedinginan,
atap bocor mencetak peta air hujan di lantai,
tapi mereka tetap menghafal nama-nama pahlawan,
yang dulu berjanji takkan meninggalkan mereka sendirian.
Namun, siapa yang mendengar suara mereka,
saat ilmu dijual lebih mahal dari beras,
dan sekolah menjadi panggung bagi mereka
yang hanya tahu bagaimana menjual harapan?
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
/7/
Gedung Tinggi, Lantai Retak
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Gedung tinggi, megah, dengan jendela kaca,
di baliknya kursi-kursi kosong menguap,
seperti mimpi yang ditelan panasnya jalanan.
Di lorong, anak-anak mengantre,
bukan untuk ilmu, tetapi untuk bertahan—
seperti burung-burung yang tak punya sarang,
mencari sisa-sisa pengetahuan
yang jatuh dari bibir orang-orang berjas.
Mereka katakan pendidikan itu cahaya,
tetapi di gang-gang sempit, lampu padam lebih cepat
daripada kepercayaan yang pernah mereka punya.
Di televisi, seorang menteri berkata,
“Kita telah membangun seribu sekolah baru!”
tetapi lantai-lantai retak tak bisa berbohong,
dan kapur yang terbelah masih mencatat nama-nama
anak-anak yang ditinggalkan sistem.
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
/8/
Rapuh seperti Kertas Ujian
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Meja-meja reyot,
kertas ujian penuh bercak
jawaban-jawaban diisi dengan doa dan debu,
karena harga satu lembar ilmu lebih mahal dari upah bapak.
Di luar, gerimis turun seperti tanda baca,
memisahkan yang bisa sekolah
dan yang harus menjual es di lampu merah.
Anak kecil itu menulis huruf “A” dengan jemari kotor,
sementara ibunya menunggu di pinggir jalan,
menghitung berapa banyak lembar kertas
yang bisa ditukar dengan sepiring nasi.
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
/9/
Lantai Sekolah yang Rusak
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Di tepi jalan, seorang anak bernyanyi,
bukan tentang alfabet, bukan tentang angka,
melainkan tentang lantai kelas yang rusak,
tentang guru yang pergi dan tak pernah kembali.
Ia menggenggam buku bergambar,
tapi huruf-hurufnya telah lenyap bersama debu,
seperti mimpi yang karam
di antara tumpukan rongsokan dan besi berkarat.
“Sekolah adalah jalan keluar,” kata ibunya,
tapi bagaimana jika jalan itu buntu?
Jika gerbangnya terlalu tinggi,
dan tiket masuknya lebih mahal dari sekarung beras?
Anak itu berhenti bernyanyi,
menatap bus yang melaju di depannya.
Di dalamnya,
anak-anak tertawa riang,
membaca buku-buku emas,
yang tak pernah bisa ia sentuh.
Bukittinggi, Sumatera Barat
2002
/10/
Monumen Pendidikan yang Hilang
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Tuan dan puan,
lihatlah sekolah-sekolah yang berdiri seperti monumen,
megah, berkilau, tetapi kosong—
karena pintunya hanya terbuka bagi mereka yang beruntung.
Di bawahnya, anak-anak berjualan koran,
mereka membaca berita yang tak pernah berubah:
“Anak Putus Sekolah Karena Tidak Cukup Biaya Dari Orang Tua”.
Di dalam kelas,
suara-suara guru semakin redup,
tertimpa gemuruh suara uang
yang berbicara lebih lantang dari buku pelajaran.
Dan di malam hari,
di rumah-rumah petak,
seorang bocah menggambar sekolah di dinding,
ia menuliskan namanya dengan arang hitam,
karena ia tahu,
itu satu-satunya tempat
di mana namanya akan dikenang.
Bukittinggi,
Sumatera Barat, 2002
—————————————–
Tentang Penyair dan Karyanya
Tidak pernah ada rencana besar—hanya kegelisahan sunyi yang mencari rumah, seberkas pemikiran yang menemukan jalannya ke atas kertas. Itu terjadi pada tahun 2002. Baru saja memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTM) tingkat regional dalam bidang pendidikan di Universitas Negeri Padang, Leni Marlina mulai menuliskan bait-bait puisi di sela-sela catatan reflektifnya. Saat itu, ia menganggapnya tak lebih dari sekadar renungan yang singgah sesaat.
Ia tidak pernah menyangka bahwa kata-kata awal itu akan tetap bersamanya. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka kembali—seperti sahabat lama yang mengetuk pelan di hatinya, bertanya, Apakah kau masih mengingat kami? Beberapa terasa asing, suaranya berubah dimakan waktu. Yang lain tetap akrab, berbisik dalam nada yang ternyata tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Setelah lebih dari dua delade, pada tahun 2025, Leni memutuskan untuk menghadirkan mereka kembali ke dunia—membacanya ulang, merevisinya, dan akhirnya membagikannya dengan keberanian yang selama ini mereka tunggu.
Menulis selalu menjadi tempat berlindung—tempat kembali saat dunia terasa terlalu bising. Namun, seiring waktu, Leni menyadari bahwa sastra bukan sekadar tentang menulis; ini juga tentang mendengar, berbagi, dan tumbuh bersama. Pemahaman inilah yang membawanya lebih dalam ke dunia pendidikan dan literasi, bukan sebagai seseorang yang sudah ‘tiba,’ tetapi sebagai seorang pejalan yang masih terus belajar—masih menapaki jalan yang sama dengan mereka yang mencari makna dalam kata-kata.
Melalui Komunitas Penulis Indonesia (SATU PENA), ia terhubung dengan komunitas sastra yang lebih luas di Sumatera Barat, yang diketuai oleh penyair dan mantan birokrat Sastri Bakry, dengan organisasi nasional yang didirikan oleh Denny J.A. Di tingkat internasional, ia menjadi bagian dari ACC Shanghai International Literary Writers’ Association dan dipercayakqn sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association, yang didirikan dan dipimpin oleh seniman dan penyair Anna Keiko. Saat belajar di Australia pada tahun 2012, ia juga berkesempatan belajar dari Victoria’s Writers Association, di mana ia melihat bagaimana sastra dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai budaya.
Namun, di antara semua pengalaman itu, yang paling ia syukuri adalah kesempatan untuk berbagi. Sejak tahun 2006, ia mengajar di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Negeri Padang. Baginya, mengajar bukan sekadar profesi—ini adalah jendela untuk melihat dunia melalui mata para mahasiswa, dengan keingintahuan yang segar dan impian yang tak terbatas.
Di luar kampus, Leni mendedikasikan dirinya untuk menciptakan ruang-ruang di mana sastra bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia mendirikan dan mengelola berbagai komunitas yang memiliki tujuan yang sama: mengeksplorasi kekuatan kata dalam berbagai bentuk.
1. World Children’s Literature Community (WCLC) – ruang untuk menumbuhkan kecintaan pada membaca dan bercerita, khususnya dalam sastra anak. Beberapa kegiatan bisa dilihat di sini: WCLC
2. Poetry-Pen International Community – platform tempat para penyair dari berbagai negara menyuarakan kemanusiaan, keadilan, dan keindahan hidup.
3. Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat (PPIPM-Indonesia) – komunitas yang menjadikan puisi sebagai medium refleksi dan inspirasi. Beberapa karya dan kegiatan dapat dilihat di sini: (1) https://shorturl.at/2eTSB; (2) https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – jaringan yang menghubungkan sastra, pendidikan, dan kewirausahaan digital. Kegiatan dan karya dapat dilihat di sini: https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community – ruang diskusi bagi para penggemar bahasa dan linguistik.
6. Literature Talk Community – tempat berkumpul bagi mereka yang ingin menjelajahi kedalaman sastra.
7. Translation Practice Community – wadah belajar dan berbagi dalam seni penerjemahan, khususnya antara bahasa Indonesia dan Inggris.
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – jembatan antara pendidikan, literasi, dan sastra.
Bagi Leni, menulis bukan tentang mencari pengakuan—ini tentang membangun hubungan. Sebuah puisi, bahkan satu baris kata, bisa menciptakan gelombang yang menjangkau tempat-tempat yang tak pernah dibayangkan oleh penulisnya. Dan itulah yang membuatnya selalu kembali pada kata-kata.