May 10, 2026

Oleh Herry Tjahjono

Ada jenis pemimpin yang tidak tahan jika ada yang tak menyukainya. Ia ingin disayang oleh semua orang dan pihak, bahkan oleh mereka yang menusuknya dari belakang. Maka, ia menjelma menjadi juru damai yang luwes, menggenggam tangan sekutu dan merangkul lawan dalam waktu bersamaan. Di luar, ia tampak sejuk dan harmonis. Tapi di dalam, ada yang menggigil. Sebab ia tak benar-benar memimpin—ia sedang menjajakan cinta kepada semua mata yang menonton.

Ia memimpin dan hidup dari need for approval dorongan batin untuk dicintai dan diterima oleh semua. Tapi tanpa disadarinya, dari situlah kelemahannya tumbuh: ia kehilangan arah begitu kehilangan penonton. Bukan lagi kepemimpinan, tapi panggung yang digelar demi pujian. Dan panggung, seperti kita tahu, bukan tempat keputusan besar ditetapkan—tapi tak lebih dari tempat ilusi dihidupkan.

Model kepemimpinan seperti ini, dalam psikologi dikenal sebagai affiliative leadership yang ekstrem di mana keharmonisan menjadi tujuan, bukan alat (Goleman, 2000). Padahal keharmonisan yang terlalu mahal bisa jadi racun yang melumpuhkan keberanian untuk bersikap.

Pemimpin besar bukan mereka yang disukai, tapi yang sanggup tak disukai demi kebaikan, terutama kebenaran. Mereka adalah yang rela berjalan sendiri ketika orang-orang tak siap ikut. Seperti Bung Karno di penjara Sukamiskin. Atau Mandela di Pulau Robben. Mereka menanggung sunyi, bukan tepuk tangan. Pemimpin sejati bukan mengejar panggung—tapi kebenaran, meski gelap dan sepi.

Mereka tak haus popularitas, karena tahu: popularitas adalah kabut semata, sedangkan prinsip adalah jalan. Dan jalan bagi pemimpin sejati—mengacu pada semangat Thoreau—adalah mereka yang berani menginjak lumpur tanpa takut kehilangan sepatu bersihnya.

Pemimpin yang ingin menyenangkan semua orang pada akhirnya akan kehilangan semua. Sebab ia bukan pemimpin—ia hanya cermin yang retak oleh ekspektasi banyak wajah.

(Catatan: gambar hanya pemanis).