February 9, 2026

yusuf achmad

Kuingat roda itu kau dorong sekuat raga,
meski imbalan tak sebanding dengan kerja.
Bagimu, bukan harta yang jadi utama,
melainkan perut keluarga yang tak boleh merintih lama.

Aku, empat saudaraku, ayah dan ibu,
berteduh di naungan tiga rodamu yang tak jemu.
Tak terdengar keluh, walau peluh berpacu,
mengalir di tubuhmu seperti sungai yang tak tahu lelahnya waktu.

Saat kami masih lugu dan polos,
tak kenal arti lapar atau penat yang membekas,
selembar rupiah kau tukar sepiring nasi,
bagai embun di pagi yang tak pernah ingkar janji.

Duhai pengayuh becak,
panas dan hujan kau jadikan lagu, bukan rintangan.
Langit pun bersaksi lewat tetes dan sengat mentari,
kau tersenyum meski halilintar mengerling ngeri.

Bagimu, badai bukanlah ancaman,
melainkan hiburan saat dunia enggan memberi pandangan.
Kawanmu bukan manusia, tapi gerimis dan bayang langit,
karena langkah senyummu terpahat dalam wajah yang tak pernah pamit.

Surabaya, 18 Juli 2025