Penjaga Hutan Kalimantan: Gadis “Penunggang Kuda Besi” dari Intu Lingau
Alda: Pemudi dari Kampung Intu Lingau Kutai Barat, Kaltim
Alda Rianny salah satu anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) sekaligus anggota Tim Forest Patrol Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Kampung Intu Lingau, Kutai Barat. Tidak banyak anak gadis seperti dia di negeri ini. Bila tidak ke hutan untuk patroli, dia akan ke ladang membantu orang tuanya, di hari lain kuliah di Universitas Terbuka.
Dia dikenal dengan nama panggilan Alda. Anak pertama dari pasangan Alexander dan Roma yang merupakan kelahiran tahun 2003 memiliki segudang hobi diantaranya musik, futsal, dan voli. Ia juga penyayang hewan. Sambo adalah anjing peliharaan yang sangat dia sayangi. Tidak heran kalau dia sangat senang masuk hutan, selain dapat mengenal potensi hutan, dia juga dapat mengamati satwa yang ada di hutan desa.
Bagi dia, hutan sangat penting karena Keberadaan hutan ternyata membawa dampak yang positif baik bagi manusia atau pun lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Fungsi utama dari hutan yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman lebat ialah untuk menyerap karbon dioksida yang ditimbulkan oleh manusia, kendaraan bermotor, limbah pabrik maupun sumber-sumber lainnya.
Kampung Intu Lingau beruntung memiliki generasi muda seperti Alda yang mau membantu pemerintah kampung menjaga hutan desa. Kampung di Kabupaten Kutai Barat meruakan sebutan untuk sebuah desa. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 7385/MENLHK-PSKL/BPSKL/PSL.0/9/2019, Kampung Intu Lingau memperoleh ijin perhutanan sosial seluas 8351 ha selama 35 tahun. Alda bersama belasan anggota LPHD lain yang tergabung dalam Tim Forest Patrol wajib menjaga hutan tersebut dengan cara patroli. Setiap bulan, dia akan masuk hutan selama 5-10 hari. Sebenarnya, dia tidak sendirian perempuan di tim tersebut, namun dia yang termuda.
Melalui program Himba Bestari LPHD, Alda mendapat dukungan operasional patroli hutan dari Yayasan Kawal Borneo (KBCF), diantaranya “kuda besi” sejenis trail menjadi tunggangannya. Dalam melakukan tugas tersebut, dia telah dibekali pelatihan menggunakan Aplikasi SMART Patrol. Aplikasi tersebut membantunya melakukan dokumentasi kondisi hutan, termasuk keanekaragaman hayati. Dia tidak hanya mahir “menunggang kuda besi” tapi juga terampil memanfaatkan teknologi. Dia bersama belasan anggota tim lainnya telah diberikan pelatihan aplikasi tersebut. Aplikasi tersebut berbasis android sehingga mudah dibawa dan diaplikasikan. Setelah melakukan pengambilan data, dia akan memindahkan data tersebut ke laptob untuk dianalisis menjadi laporan. Aktifitas tersebut dia lakukan bersama timnya setiap bulan. Namun, sebelum kegiatan, tim akan melakukan rapat penyusunan rencana kerja patroli dalam satu bulan. Rencana kegiatan tersebut juga disampaikan kepada Petinggi sebagai pemberitahuan. Petinggi merupakan sebutan untuk jabatan kepala desa di Kampung Intu Lingau. “Saya berharap, LPHD memberikan laporan kegiatan kepada kami dapat memberikan dukungan.”
Seperti kebanyakan anak gadis, dia juga punya teman sebaya. Ketika bertemu, Alda sering menceritakan kegiatan patroli hutan yang digelutinya. “Mereka hanya tertarik cerita saya tentang motor untuk patroli, tapi belum tertarik masuk tim.” Sementara itu, kedua orang tuanya sama sekali tidak keberatan ketika anak gadis mereka bergabung dalam tim patroli hutan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak tabu dan dinilai positif bagi perkembangan anaknya (sn).