Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Peradaban Tidak Berkembang Karena Kekayaan, Mereka Berkembang Ketika Mereka Memiliki Agama dan Jiwa Kemanusiaan

Kisah Nyata Potret Kemiskinan

Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

London, Suaraanaknegerinews.com,- Di ruang sidang yang penuh sesak, seorang anak remaja berusia 15 tahun berdiri dengan gemetar, kepalanya tertunduk. Ia telah tertangkap mencuri. Bukan uang, bukan emas,
tapi sepotong roti dan keju.
Ketika penjaga toko mencoba menghentikannya, ia melawan, dan dalam pergumulan itu, sebuah rak jatuh.

Hakim memandangnya dan bertanya dengan lembut,
“Apakah kamu benar-benar mencuri sepotong roti dan keju itu?”

“Ya, tuan,” jawab anak remaja itu.

“Mengapa?” tanya Hakim.

“Karena saya sangat membutuhkannya!”

“Kamu bisa membelinya,” kata Hakim.

“Saya tidak punya uang untuk membelinya,” jawab anak remaja itu.

“Maka, tanyakan pada keluarga kamu,” saran hakim.

“Saya hanya memiliki ibu, tuan… dia sakit dan tidak bekerja. Roti dan keju itu untuknya,” jelas anak remaja itu.

Ruang sidang menjadi sunyi. Hakim bertanya lagi,
“Tidakkah kamu bekerja?”

“Saya mencuci mobil, tuan… tapi saya mengambil cuti untuk merawat ibu saya,” jawab anak remaja itu.

“Apakah kamu meminta bantuan kepada seseorang?” tanya Hakim.

“Saya telah meminta-minta sejak pagi… tapi tidak ada seorangpun yang bersedia membantu,” jawabnya.

Hakim bersandar di kursinya. Matanya yang berkaca kaca berlinang air mata menjadi lembut, dan setelah sejenak diam, ia mulai membacakan putusannya:

“Pencurian, terutama pencurian roti..adalah kejahatan yang sangat buruk.
Tapi hari ini, setiap orang di ruang sidang ini berbagi rasa bersalah atas pencurian ini termasuk saya. Karena jika seorang anak harus mencuri makanan untuk ibunya yang sakit, maka kita sebagai masyarakat yang bermoral dan beradab telah gagal melakukannya!”

Kemudian, untuk semua yang hadir, ia mengumumkan:
“Saya denda setiap orang yang hadir di sini, termasuk saya sendiri, sebesar $10 masing-masing karena membiarkan kelaparan ada di kota kita. Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini sampai mereka membayar.”

Ia meletakkan $10 dari kantongnya sendiri di atas meja.

“Dan,” lanjut Hakim, “saya menjatuhkan denda sebesar $1.000 (Rp.16.685.500,-)
kepada pemilik toko, karena menyerahkan anak yang kelaparan kepada polisi, bukan memberinya makanan.

Jika tidak dibayar dalam waktu 24 jam, pengadilan akan memerintahkan toko tersebut untuk disegel.”

Ketika sidang berakhir, ruang sidang dipenuhi air mata. Anak remaja itu berdiri diam, menatap hakim dengan air mata berlinang penuh rasa syukur dan tak percaya.

Pada hari itu, keadilan bukan hanya dijatuhkan, itu dirasakan. Karena keadilan yang sebenarnya bukan tentang menghukum yang lemah, orang yang miskin, tapi tentang memperbaiki kesalahan masyarakat.

“Peradaban tidak berkembang karena kekayaan, mereka berkembang ketika mereka memiliki agama dan kemanusiaan.” Kata Hakim menutup sidang.