Perempuan Di Tengah Badai
Oleh Lia Susilowati)*
–
Berdiri ia, di tengah malam yang meradang,
dengan angin menggulung, menyelimuti harapan,
terpaan hujan bukan sekadar air jatuh ke tanah,
tapi titian rintih, yang ia genggam dengan tabah.
Punggungnya tegap, meski dunia bergemuruh,
setiap langkahnya mengguratkan doa di atas debu,
pada badai yang tak kunjung teduh,
ia tetap menjadi pelita di balik bayang yang beku.
Matanya adalah pelabuhan yang tak pernah karam,
meski dihempas arus nasib yang kelam,
di dasar hatinya, ada riak keikhlasan,
tenggelam dalam lautan keyakinan.
Angin mengajarinya tentang kesetiaan waktu,
tentang ketahanan yang melebihi sendu,
sebab perempuan ini bukan hanya sekadar nama,
ia adalah riwayat hidup yang menentang takdir lama.
Ketika petir menyambar langitnya yang kelam,
ia menggenggam cahaya dari dalam,
melangkah ia, dalam luka dan peluh,
berbisik pada semesta, aku takkan rapuh.
)*Penulis adalah Kreator Cerdas AI Desa Doplang, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora.