Perhiasan Dalam Batin
Yusuf Achmad
Ketika mataku memandang anting, kalung, dan cincin menghiasi tubuh,
Aku teringat perhiasan batin yang jauh lebih berharga dan penuh makna.
Perhiasan fisik memancarkan kilau, menggantung di telinga, jemari, dan leher yang indah,
Namun dalam gemerlapnya, tersembunyi perhiasan tak terlihat oleh mata.
Ingatlah, wahai pemilik kebahagiaan, kesedihan, dan kemurungan,
Bukan kekayaan yang melekat pada tubuh yang bersinar.
Kebanggaan, kecantikan, kegagahan hanyalah butiran pasir di lautan kehidupan,
Kita hanyalah pejalan singkat di dunia yang fana.
Namun, ada perhiasan tak ternilai: suara kasih yang meluncur dari hati,
Dalam doa yang terkucur, kita menemukan keindahan abadi.
Meski tak se-sen perhiasan fisik, perhiasan batin ini menghibur dan menguatkan,
Bagiku, bagimu, kita berbaur dalam keindahan tak tergantikan.
Perhiasanmu bukan hanya raga nyata, bukan juga rasa fana,
Ia terus abadi, indah tiada tara.
Kapan kita akan bertemu, dalam keabadian penuh makna,
Menghiasi jiwa yang selalu bercahaya.
Surabaya, 18-4-2024