Perjumpaan dengan Mata Burung Besi
Yusuf Achmad
Aku, pengembara pagi, pengurai sepi pinggir kota,
Tergetar oleh tatapan sang burung besi dari cakrawala.
Seperti bara api yang siap menerkam dalam hening,
Kupeluk doa seerat janji masa lalu yang kubawa berenang.
“Raga dan jiwa harus berdansa, harmonisasi semesta,”
Doa yang dulu kita anyam pada altar cinta.
“Moga jadi bayang kaki-nini,” bisik harapan yang kupahat di hati,
Kaki kugerakkan perlahan, melintasi pagi yang basah oleh embun dini.
Para pedagang menyungging senyum yang membasuh luka,
Menyajikan ketulusan, meramu asa, menghidupkan kembali mimpi.
Tatapan mataku terhempas ke kiri, di atas kanvas embun yang bening,
Sinar sang burung besi mengiris pagi, menantang penjaga malam yang kaku diam.
Tatapan itu merasuk dada, membelah langit kenangan,
Burung besi itu memanggil resah, menggenggam bayangan kelam.
Apakah ia menyimpan cerita kita? Apakah ia menyimpan dendam?
Seperti bisikan rahasia yang mengendap, ia terus mengintai dalam diam.
Di antara keelokan pagi dan keramaian pinggiran kota yang bernyanyi,
Aku terpaku, merenungi harmoni pertarungan alam dan rindu yang membara.
Sementara hidup terus berdenyut, menyapa dengan lembut,
Jiwaku melayang, bebas menerobos batas waktu.
Sang burung besi, akhirnya kurengkuh dalam damai,
Masa lalu yang membisu kini kulepaskan, mengalir bersama angin pagi.
Surabaya, 6-11-2023